Selasa, 04 Agustus 2020

[PROFIL] Profil Ibu Menurut Aktivis Perempuan

Selama ini umumnya Konsep Ibu hanya melekat pada seorang perempuan, dan dikaitkan pada fungsi-fungsi tradisionalnya serta kemampuan mempunyai anaknya. Sharil Thurer dalam bukunya: The Myths of Moherhood (1994) memaparkan bagaimana budaya manusia telah mengintervensi konsep ibu yang baik/ideal ini, serta apa dampaknya bagi perempuan. Ada yang dimaknai dan didefinisikan oleh perempuan sendiri, tapi ada juga yang didefinisikan dan dikonstruksikan oleh mereka yang bukan perempuan untuk perempuan.
Bagaimana Konsep Ibu berdasarkan aktivis perempuan yang jua sekaligus bunda? Bagaimana pada budaya saat ini mak -bunda, para aktivis kita ini mendefinisikan ke-bunda-an mereka? Apa yang mereka idealkan menurut konsep ini? Berikut ini rangkuman wawancara Kail menggunakan tujuh orang aktivis yg jua mak menurut Jaringan Mitra Perempuan.

Pratiwi: Siapa saja bisa dianggap ibu, kalau beliau punya rasa cinta, rasa sayang, open, punya kemampuan memelihara (roh, jiwa, badan), yg dengan sendirinya akan lembut, murah hati. Maka Keibuan dan Pengibuan tidak hanya inheren pada wanita (secara fisik), tapi pula bisa terdapat pada pria. Kemampuan & fungsi buat memelihara & merawat, yang menjadi sifat yang melekat dalam bunda, mampu pula dimiliki oleh pria, dimiliki sang mereka yang tidak menikah dan tidak punya anak, tua juga muda. Ibu yang baik adalah bunda yang memiliki cinta, yg mampu mengekspresikan cintanya dalam kehidupan konkret dengan perbuatan konkret & menularkannya dengan memberi model berbuat baik pada orang lebih kurang (sebagai panutan) dalam membuatkan cinta.


Lim: Yang diklaim bunda tidak harus adalah mak biologis, & tidak wajib mencurahkan kasih sayang hanya ke anaknya sendiri (relasinya nir monopoli ke anaknya saja); & nir wajib hadir pada sebuah "keluarga". Tapi lebih merupakan rekanan afeksi dan saling mengisi. Ini mampu dilakukan sang baik sang wanita maupun laki-laki , melampaui batas usia, dan tidak harus telah pernah menikah. Panggilan "ibudanquot; juga bisa dilekatkan dalam orang kita kita hormati dan karenanya kita rasa layak dipanggil menjadi bunda. Keberhasilan sebagai seseorang bunda merupakan jika berhasil mengantar anak kita buat sebagai orang, yaitu menurut kualitas manusianya.
Yati: seseorang mak bertanggung jawab dalam keluarganya, yang besarnya sama menggunakan suaminya. Yang kedua dia sebagai warga negara, menyumbangkan apa yang dia miliki demi kesejahteraan negara, warga dan lingkungan kurang lebih pada mana dia berada. Konsep ke-bunda-an lebih merupakan sesuatu yang menciptakan suatu keadaan (fisik & non fisik) yang lebih indah, lebih sejahtera, lebih harmonis. Ciri ini tidak hanya inheren pada wanita, akan tetapi juga pada laki-laki . Dalam konteks keluarga, ibu tidak wajib punya anak. Ia sanggup menikmati diri dan mempunyai dirinya sediri, menggunakan permanen memikirikan kepentingan orang lain. Seorang ibu tetap wajib peduli menggunakan lingkungannya, karena dia harus membentuk kesejahteraan, keharmonisan & menciptakan orang lain bahagia dan damai; tanpa menegasi pribadiya sendiri. Tetap harus ada saat buat dirinya sendiri.
Wati: Ibu adalah orang yang mengayomi, seseorang perempuan yang mengasuh. Seseorang juga mampu dipanggil ibu karena punya karisma eksklusif, yang dikagumi lantaran kepakarannya atau lantaran pengetahuannya. Konsep mak pertama-tama dipandang lebih ke arah sifat, yang sangat erat berhubungan dengan biologisnya (wanita), karena beliau sudah melahirkan anak. Tapi dalam perkembangannya, ke-mak -an lebih merupakan sifat -sifat yg menurut segi afektif dan kognitifnya; meskipun Ia tidak menikah dan nir punya anak. Sebagai sebuah sebutan, "ibu" melekat dalam jenis kelamin wanita, walaupun menjadi sebuah sifat dan ciri-ciri, sanggup jua dimiliki dan dipelajari sang pria.
Menurut Yani, istilah mak itu melekat dalam perempuan , yang punya anak (baik anak kandung juga bukan) dan menjalankan fungsinya sebagai mak . Ia mengandung, melahirkan, merawat anak & mendampingi anak. Fungsi keibuan ini sebetulnya bukan hanya dijalankan sang perempuan (ibu), tapi pula oleh pria (bapak). Yang ditekankan di sini adalah funsi nurturing (merawat, mencintai, mencintai, membimbing, dsb) yg dijalankan & ikatan emosianal yang dibangun dengan orang yg pada-nurture itu. Ibu yg ideal adalah bunda yang sayang dan mencintai anaknya sepenuh hati serta mengabdikan dirinya dalam anak & keluarganya. Di sini dituntut pengorbanan, tapi beliau permanen harus punya kesempatan buat menjadi dirinya sendiri dan mengembangkan dirinya sendiri dan mengaktualisasikan diri. Sebisa mungkin beliau proporsional menjalankan fungsinya sebagai ibu menurut anaknya & manfaatnya pada tempat lain. Proporsional pada sini berarti seimbang, pada mana ukurannya sanggup berbeda antara mak yang satu dengan bunda yang lainnya.


Ambar mendefinisikan seseorang mak itu sebagai orang yang melahirkan anak, menyusui, & menjadi efek psikologisnya memiliki kepedulian terhadap anak. Dia menambahkan juga bahwa sifat caring dan kepedulian serta peka terhadap orang lain itu jua mampu dilatih, sebagai akibatnya bisa pula dimiliki sang pria. Si bunda itu sebagai satu-satunya tumpuan seorang (anak) dan sebagai tempat mengadu. Walaupun ibu itu pula memiliki dirinya sendiri (bukan hanya milik anak dan suaminya). Ibu yang ideal adalah yang sanggup bebas mengaktualisasikan diri, dan membuatkan potensinya; sekaligus sanggup menempatkan kiprah-perannya sebagai identitas diri. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi dia bahwa anak & suaminya nir pernah menghalangi bagian dirinya yg lain, yang nir menjadi ibu & istri, akan tetapi sebagai seseorang individu, buat sanggup memakai kebebasannya. Keberhasilan seorang ibu bagi Ambar adalah jikalau beliau dicintai dan menyayangi anak-anaknya.


Sri: Ibu merupakan seseorang istri yang punya suami, punya pendamping, dan mungkin punya anak atau tidak. Dia melengkapi suaminya, saling memberi & bersama-sama bertanggungjawab buat kehidupan famili. Ibu juga wajib sanggup sebagai teladan bagi anaknya, sebagai panutan, mandiri & pintar mengendalikan ekonomi, serta bisa mengambil sikap. Panggilan "ibudanquot; juga mampu diberikan bagi perempuan yang nir menikah, sebagai penghormatan lantaran dia mempunyai posisi atau jabatan, atau karena usianya. Ibu yg sukses adalah mak yg sanggup menghantarkan anak-anaknya menuntaskan tugasnya, sebagai anak yg punya kepribadian yg baik, antar anak bisa hayati rukun dan cara hidupnya baik.


Ketujuh aktivis wanita ini menginterpretasikan dan mendekonstruksi konsep dan simbol ?Ibu?. Menurut mereka yang kebetulan mempunyai anak, pengalaman keibuan yg paling berkesan dan krusial adalah relasinya menggunakan anak. Tapi pemaknaan terhadap konsep ini dan relasinya dengan suami & anak, dipahami secara lebih luas dan inklusif. Hampir semua berpendapat bahwa sifat-sifat keibuan ini nir hanya & nir otomatis melekat dalam wanita secara biologis, akan tetapi jua bisa dipelajari & melekat dalam laki-laki . Pemaknaan yg paling menonjol menurut fungsi pengibuan ini merupakan Cinta Kasih dalam kehidupan, yg mau nir mau berkaitan dengan pemeliharaan bagi keberlangsungan oleh kehidupan itu sendiri.


Keberhasilan ataupun konsep ideal tetang mak ini memang nir mungkin diukur secara kuantitatif. Bahkan beberapa berdasarkan mereka setuju untuk tidak membuat definisi & kriterianya, karena setiap orang punya ukurannya sendiri-sendiri. Ukuran itu nir sanggup dipaksakan pada orang lain, apalagi dipaksakan menurut luar diri si ibu itu sendiri. Gambaran ibu yang ideal itu sendiri berkembang dan mengalami perubahan berdasarkan masa ke masa.


Tidak terdapat yg dapat menilai keidealan seorang ibu. Semua akan dimaknai ulang sesuai dengan pengalaman tertentu masing-masing.























Cloud Hosting Indonesia