Selasa, 04 Agustus 2020

[PIKIR] Beda Cara Belajar Beda Tindakan



Cara belajar setiap orang tidak sinkron satu sama lain. Selain dipengaruhi sang faktor genetis, cara belajar kita jua dibuat oleh faktor lingkungan yang turut membentuk norma kita diantaranya melalui anggaran-aturan sekolah, keluarga dan rakyat. Perbedaan cara belajar ini dalam akhirnya akan mempengaruhi cara kita bertindak & menanggapi sesuatu. Banyak perseteruan terjadi akibat perbedaan cara belajar ini, contohnya pertarungan antara anak & orang tua; antara suami-istri; antara pemerintah dengan masyarakat maupun antara aktivis pendamping lapang dengan masyarakat dampingannya. Karena respon anak nir sinkron dengan harapan orang tua maka orang tua berpikir bahwa anaknya nakal, susah dikendalikan dan susah diatur. Lantaran lebih senang menjawab soal menggunakan caranya sendiri, seorang anak didik lantas dipercaya udik sang gurunya dan lantaran tidak menciptakan tanggapan sinkron asa seseorang gadis menganggap kekasihnya telah tidak mencintainya lagi. Masih banyak lagi pertarungan & pertarungan yg timbul dampak perbedaan cara belajar ini.


Tulisan ini mengangkat model cara belajar kombinasi yg diteliti oleh Dr. Anthony F. Gregorg. Model ini merupakan salah satu contoh yg paling efektif buat tahu perbedaan cara belajar. Model ini dibangun dari kombinasi cara kita memandang persoalan (persepsi) dan cara kita menyusun kabar yg kita terima.


Cara Memandang Persoalan (Persepsi)
Kita memandang dunia menurut persepsi kita. Persepsi itu nir sama buat setiap orang. Persepsi ini akan mensugesti kita pada memahami sesuatu & merogoh tindakan atas sesuatu. Ada dua kualitas persepsi yang dimiliki sang setiap orang, yaitu persepsi konkret & persepsi tak berbentuk.


Kualitas persepsi nyata memungkinkan kita pribadi menyerap kabar yang diterima oleh panca indera. Kita melihat segala sesuatu misalnya apa adanya. Kita tidak mencari makna yg tersembunyi pada balik suatu insiden atau mencoba menggali penyebab-penyebab menurut suatu perseteruan.


Kualitas persepsi tak berbentuk memungkinkan kita menggali lebih jauh makna dari suatu insiden, menciptakan visualisasi maupun mencari pandangan baru-ilham baru pada luar hal-hal yang secara eksklusif ditangkap oleh panca indera. Bagi orang yang memakai persepsi tak berbentuk, segala sesuatu nir selalu tampak seperti kelihatannya.


Cara Penyusunan Informasi
Penyusunan kabar adalah cara kita menggunakan berita yang kita terima. Menurut Gregorc cara penyusunan liputan bisa dikelompokkan sebagai 2 yaitu sekuensial (urut, runtut, teratur) dan acak (secara acak).


Kemampuan sekuensial memungkinkan kita berpikir secara logis. Informasi akan disusun secara teratur & bertahap. Mereka yang lebih banyak didominasi kemampuan sekuensialnya, umumnya melakukan perencanaan sebelum melakukan tindakan.


Kemampuan rambang menyusun warta secara serabutan dan tidak teratur. Kemungkinan terdapat beberapa hal yg terlewati. Bagi mereka yg dominan kemampuan acaknya terkesan impulsif, tidak berpikir panjang dan yg penting bagi mereka adalah terselesaikan, sementara tahapan penyelesaian nir sebagai kasus.


Model Kombinasi Gregorc
Gregorc memodelkan cara belajar menjadi kombinasi cara memandang persoalan & cara menyusun kabar. Kombinasi tadi dikenal sebagai: Sekuensial Konkret (SK), Sekuensial Abstrak (SA), Acak Konkret (AK) & Acak Abstrak (AA).
Keempat kemampuan ini terdapat dalam setiap orang, hanya kadarnya buat setiap tipe berbeda-beda. Berikut ini adalah ciri secara umum dikuasai menurut keempat model cara belajar tersebut.


1. Sekuensial Konkret
Orang-orang yang secara umum dikuasai kemampuan sekuensial konkretnya umumnya ulet , tradisional, sangat cermat, stabil, dapat diandalkan, konsisten, berpegang dalam kabar dan teratur. Mereka sangat baik dalam menerapkan gagasan-gagasan menggunakan cara yang mudah, efisien dan irit. Mereka umumnya tepat waktu. Mereka juga memiliki kemampuan buat melahirkan gagasan konkret berdasarkan sesuatu yang abstrak. Biasanya mereka bekerja secara sistematis, sedikit demi sedikit mengikuti jadwal & detil. Mereka senang melakukan sesuatu secara rutin & teratur. Dengan kebiasaan ini, mereka akan kesulitan menghadapi lingkungan yg berantakan, obrolan yg nir jelas arahnya serta mengikuti perintah yg nir jelas.


2. Sekuensial Abstrak
Orang-orang yg dominan kemampuan sekuensial abstraknya umumnya analitis, obyektif, berpengetahuan luas, teliti, rapi, logis, damai & hati-hati serta sistematis. Mereka sangat baik dalam pekerjaan-pekerjaan penelitian, contohnya mendeskripsikan urutan insiden pada suatu urutan yg logis, memakai liputan buat menunjukan atau menyanggah teori & menganalisis gagasan. Mereka mengumpulkan data-data sebelum mengambil keputusan & menyelesaikan segala sesuatu hingga tuntas. Mereka akan frustasi bila ketika yang diberikan buat merampungkan pekerjaan tidak relatif, mengulang-ulang pekerjaan yg sama, berpikir sentimentil atau wajib menunda diri buat nir membicarakan gagasan dalam kurun waktu yg usang.


3. Acak Konkret
Orang-orang yang secara umum dikuasai kemampuan rambang konkretnya umumnya bertindak dengan cepat, mengikuti istilah hati, selalu ingin tahu, realistis, mempunyai daya cipta, inovatif, naluriah & sangat berani. Mereka mempunyai banyak gagasan kreatif & melihat poly alternatif solusi & cara-cara baru buat menuntaskan problem. Mereka sanggup mengilhami orang lain buat bertindak. Mereka mau mengambil resiko dan bisa merogoh keputusan menggunakan cepat. Keputusan ini sebagian akbar berdasarkan pada nalurinya dan bukan dari perhitungan yang cermat akan data dan fakta yang mendukungnya. Mereka akan putus harapan bila nir memiliki pilihan, harus membuat laporan formal, menghadapi hal-hal rutin, mengulang sesuatu yang pernah dilakukan maupun menyebutkan alasan dari keputusan/jawaban eksklusif.


4. Acak Abstrak
Orang-orang yg dominan kemampuan acak abstraknya umumnya peka, penuh belas kasih, cepat tahu, imajinatif, idealis, sentimentil, impulsif dan fleksibel. Mereka mempunyai karunia buat mendengarkan orang lain menggunakan benar-benar-sungguh & menciptakan suasana damai menggunakan orang lain. Mereka menyadari kebutuhan orang lain & gampang menjalin persahabatan. Mereka menduga krusial perasaan & emosi serta memberikan perhatian pada tema serta gagasan. Mereka mengusut sesuatu dengan caranya sendiri dan merogoh keputusan menurut perasaan. Mereka akan putus harapan apabila harus menjelaskan alasan mengapa mereka melakukan/menetapkan sesuatu, berkompetisi, mendapat kritikan & berfokus hanya pada satu hal setiap ketika.


Apa gunanya mengetahui perbedaan cara belajar?
Banyak pertarungan ditimbulkan oleh perbedaan cara belajar. Misalnya seseorang mak yg sekuensial konkret akan merasa anaknya yg rambang nyata menjadi anak yg semaunya sendiri & susah diatur. Bagi orang sekuensial konkret, hayati teratur dan rapi sangat menyenangkan, ad interim buat orang rambang konkret menjadi rapi dan teratur merupakan sesuatu yg menyebalkan dan membebani. Dengan tahu cara belajar sang anak, si bunda bisa lebih memahami bahwa buat memenuhi tuntutannya oleh anak membutuhkan usaha yg luar biasa keras. Dengan demikian beliau akan lebih toleran terhadap kesemrawutan-kesemrawutan mini yang sekali waktu dilakukan anaknya.


Perseteruan lain yg mungkin muncul adalah antar pasangan. Seseorang yang rambang tak berbentuk lebih menggunakan perasaannya pada melakukan sesuatu dan bagi mereka perhatian terhadap orang adalah sangat krusial. Jika orang ini mempunyai pasangan sekuensial abstrak, mungkin ia akan berulangkali merasa kecewa akan tingkah laris pasangannya yg kurang perhatian, kurang tanggap akan perasaannya dan selalu menuntut argumen yg rasional dari setiap keputusan yang diambil. Sementara itu pasangannya akan merasa dia terlalu menuntut, nir rasional & kurang mempercayai cintanya. Dengan tahu perbedaan cara belajar, pasangan ini akan lebih maklum dengan apa yg dilakukan oleh pasangannya & tidak selalu mengartikan perilaku-perilaku yg tidak sinkron dengan asa sebagai aktualisasi diri nir mengasihi juga sengaja menciptakan kesal/mengecewakan.


Contoh yang lain adalah antara guru menggunakan anak didik. Sistem pendidikan zaman sekarang cenderung memakai pendekatan disiplin dan cara berpikir yang runtut buat tahu pengetahuan. Pendekatan ini menguntungkan anak-anak yang memiliki kombinasi mayoritas sekuensial nyata dan sekuensial abstrak. Anak-anak yg sekuensial nyata akan dengan mudah mengikuti keteraturan aturan-aturan sekolah. Sementara anak-anak yang sekuensial abstrak bisa menggunakan mudah mengikuti pelajaran yang membutuhkan analisis. Sedikit sekali perhatian diberikan untuk seni & cara berpikir kreatif yg cocok buat anak-anak rambang tak berbentuk & aca konkret. Bagi anak-anak menggunakan cara berpikir rambang, sekolah formal merupakan belenggu yang membosankan. Beberapa mereka memperoleh cap menjadi anak nakal atau anak kolot. Padahal sebenarnya belum tentu demikian. Mereka sebagai demikian lantaran cara belajar yang diterapkan pada sekolah tidak cocok dengan cara belajar mereka. Sekolah menjadi siksaan. Guru-guru yg tahu perbedaan cara belajar ini akan lebih toleran terhadap perilaku anak-anak ini & berusaha mencari cara kreatif buat mengakomodasi disparitas cara belajar ini.


Contoh lain yg mungkin relevan buat kita menjadi aktivis, misalnya perbedaan cara belajar antara seseorang pendamping lapang menggunakan warga lokal dampingannya. Jika seseorang pendamping mempunyai cara belajar secara umum dikuasai sekuensial tak berbentuk, mungkin tidak cocok buat mendampingi rakyat yg nyata dan acak. Orang sekuensial abstrak cenderung banyak bicara buat menjelaskan hal-hal yg diketahui & acapkali menggunakan bahasa yg sulit dimengerti. Masyarakat yang nir terbiasa berpikir panjang akan kesulitan mengikuti apa yg diterangkan sang oleh pendamping dan akhirnya mengangguk-angguk tetapi kurang mengerti atau malah mengantuk. Akhirnya program yg direncanakan tidak berjalan lantaran warga tidak paham. Orang yang sekuensial tak berbentuk pula kurang mampu berempati dalam sesama, sebagai akibatnya acapkali kurang tanggap akan kebutuhan orang-orang pada sekelilingnya. Sehingga jika orang tipe ini sebagai pendamping kemungkinan beliau akan kesulitan memahami asa & perasaan yang berkembang pada warga dampingannya.


Bagaimana kita bersikap terhadap disparitas cara belajar?
Masih banyak lagi model masalah atau perseteruan yang ditimbulkan sang perbedaan cara belajar ini. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan ini?


Pertama, kita perlu menyadari cara belajar kita sendiri. Dari sana kita dapat mengidentifikasi kekuatan & kelemahan kita. Setelah itu, kita perlu menyadari, mendapat fenomena dan menghargai disparitas cara belajar setiap orang. Dengan bekal itu, kita dapat mengikuti keadaan dan bahkan memanfaatkan perbedaan-disparitas itu.


Misalnya apabila kita dalam satu kerja tim, maka pembagian tugas bisa disesuaikan dengan cara belajar setiap anggota. Orang yg sekuansial abstrak mendapat tugas buat menciptakan analisis atau menciptakan konsep kegiatan. Orang yg sekuensial konkret diberi tugas buat melaksanakan program sebagai ketua . Orang-orang yang acak tak berbentuk bisa diminta bekerja pada bidang yang mengurus orang-orang ad interim mereka yg acak nyata bisa diminta masuk dalam tim kreatif. Harapannya mereka seluruh akan menikmati pekerjaannya. Dengan demikian tim bisa menghasilkan kinerja terbaiknya & perseteruan bisa dihindari.


Contoh lain adalah pada relasi antara pasangan hayati. Memahami cara belajar masing-masing menciptakan kita tahu hal-hal apa yg membuat pasangan kita bahagia atau stress. Dengan demikian kita dapat lebih mudah menentukan bantuan gratis yang cocok atau merancang program liburan beserta yang pas. Kita lebih mengetahui apa saja yang membuat pasangan kita bahagia & kebalikannya. Saling tahu dapat lebih mudah dilakukan & kompromi bisa lebih gampang tercapai.


Jadi, sudahkah anda mengenali cara belajar anda?


(Any Sulistyowati)


Referensi:
Tobias, Cynthia Ulrich. Cara Mereka Belajar. Jakarta: Fokus Pada Keluarga, 2000.
DePorter, Bobbi & Mike Hernacki. Quantum Learning. New York: Dell Publishing, 1992. (Edisi Indonesia diterbitkan oleh MIZAN).


















































































Cloud Hosting Indonesia