Selasa, 04 Agustus 2020

[MASALAH KITA] Mengapa hanya sedikit perempuan yang menjadi aktivis?



David kuliah pada Jurusan Biologi, pada mana 70% mahasiswanya merupakan wanita, tetapi dari lebih kurang enam tahun masa studinya, hanya sekali wanita sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Biologi. Setelah itu ia membuat LSM yg memiliki acara relawan, yg secara umum dikuasai perempuan . Dari ratusan relawan yang lalu direkrut menjadi staff, yang lalu berkomitmen & bertahan lebih menurut lima tahun seluruh laki-laki . Ia juga berkawan dengan banyak aktivis yang pula wanita, dan sayangnya? Sesudah menikah, mereka berhenti. Fenomena apakah ini?


Fenomena serupa ternyata nir hanya terjadi pada dunia aktivis saja, namun pula terjadi pada panggung politik bangsa kita, pada mana dominan penduduknya juga wanita. Sampai-hingga pada pemilu tahun 2004, setiap partai wajib mempunyai calon perempuan minimal 30%.

Meskipun terdapat pesimisme apakah wanita-wanita itu sahih-benar mempunyai perspektif gender, menjadi langkah awal keputusan ini perlu disambut baik. Hal serupa terjadi di sektor ekonomi, pendidikan, agama & teknologi. Beberapa institusi internasional telah membuat aturan keseimbangan gender di organisasinya. Demikian juga beberapa perusahaan internasional yang selama ini dipercaya daerah kerja laki-laki , contohnya perusahaan-perusahaan tambang, mulai mengutamakan peluang kerja bagi wanita-perempuan . Meskipun demikian permanen saja, sektor-sektor tersebut didominasi oleh pria. Apakah tidak terdapat wanita yg relatif berkualitas buat mengisi posisi-posisi krusial pada sektor-sektor tersebut?

Gadis Arivia pada bukunya Filsafat berperspektif Feminis menuliskan hal serupa jua terjadi pada global filsafat. Filsafat yang tercatat dalam sejarah semenjak zaman Yunani, hampir seluruh pria. Dalam buku tersebut, ia menuliskan bahwa hal tersebut tidak berarti perempuan tidak berkualitas atau tidak bisa berfilsafat, melainkan sengaja dipinggirkan dari panggung filsafat melalui anggaran main yang terdapat.


Bagaimana dengan peluang yang terbuka luas, misalnya di sektor ekonomi & politik tadi? Jawabannya, hidup kita tidak hanya dipengaruhi sang faktor ekonomi dan politik. Demikian jua waktu seorang perempuan membuat keputusan buat terlibat/tidak terlibat dalam satu aktivitas, contohnya menentukan pekerjaan. Keputusannya nir akan semata-mata dipengaruhi sang faktor ekonomi & peluang yg ada. Dalam melakukan pilihan aksi, seseorang aktivis perempuan ditentukan sang banyak hal. Sedikitnya terdapat tiga faktor yang memiliki efek cukup besar bagi pengambilan keputusan seseorang aktivis perempuan , yaitu: keluarga, budaya & agama.


Keluarga
Entah itu nasib, takdir atau pilihan bebas, banyak wanita yg mengutamakan keluarga di atas karirnya. Banyak sekali perempuan yg berhenti berkarir sehabis menikah, sibuk menggunakan pekerjaan domestik dan melupakan kiprahnya dalam kehidupan sosial. Karir mereka identik dengan sukses suami & anak-anak mereka. Seringkali apabila oleh suami dan anak-anak gagal, wanita yang disalahkan lantaran dianggap nir becus sebagai istri & bunda.


Nilai inilah yg poly menghantui poly wanita, waktu mereka wajib mengambil pilihan-pilihan hidup, contohnya pekerjaan. Yang paling sebagai pertimbangan acapkali adalah apakah pekerjaan ini cocok untuk kehidupan anak-anak & suami mereka, dan bukannya apakah pekerjaan ini cocok buat mereka. Hidup mereka berpusat pada suami dan anak-anak, dan bukannya dalam panggilan mereka sendiri.


Sangat mengagumkan, apabila ada perempuan yg akhirnya dapat mengkombinasikan pilihan hidupnya dengan kepentingan suami dan anak-anaknya. Membagi hidup secara seimbang antara karir menggunakan keluarganya. Sayangnya, sangat sedikit wanita yg dapat hayati menggunakan cara ini.


Budaya
Budaya merupakan faktor kedua yg menghipnotis keputusan seorang wanita. Kalaupun famili intinya (suami & anak-anak) mendukung pilihannya, belum tentu beliau berani menghadapi cermin sosial yg asal dari rakyat yang lebih luas. Pertama, mungkin akan terdapat tekanan dari famili besar , ayah, mak , mertua, nenek, kakek, paman, bibi dkk. Kedua, kalaupun keluarga akbar sudah ok, masih ada tekanan menurut tetangga/rakyat tempat tinggal/kerja nya.
Tekanan ini dapat dilancarkan menggunakan berbagai alasan, misalnya care, peduli atau sayang sampai takut tersaingi alias sirik. Meskipun sepertinya tidak sama, sayangnya keduanya berujung sama, peminggiran perempuan berdasarkan pilihan hayati dan karyanya.


Agama
Agama merupakan faktor yang paling sulit dilawan dalam konstruksi sosial yg meminggirkan perempuan . Misalnya, ketika Megawati akan menjadi presiden, beliau dihadapkan dalam fenomena bahwa yang diangkat ke bagian atas bukannya apakah ia sungguh-benar-benar mempunyai kapasitas menjadi presiden, tetapi jenis kelaminnya. Lantaran pada kepercayaan Islam yg wajib menjadi pemimpin adalah pria.


Dalam banyak agama akbar, hak buat menjadi pemimpin & mendalami kepercayaan masih didominasi oleh laki-laki . Gereja Katolik masih melarang perempuan menjadi imam. Demikian jua dengan kepercayaan Islam. Agama Budha di banyak negara juga menerapkan pola yg sama, yg menjadi biku adalah laki-laki .


Lalu apa yg wajib dilakukan?
Lepas dari segala analisis yang rumit-rumit mengenai penyebab segala hal tadi, perempuan tetap harus merogoh perilaku. Sebagaimana pula pria & seluruh orang, wanita paling berhak atas pilihan hidupnya, atas masa depannya, atas pilihan karirnya. Pilihan-pilihan itu hendaknya didasarkan pada potensi maksimal kiprahnya sebagai bagian menurut umat insan, panggilan/perutusan uniknya buat berkarya pada global ini. Bukannya, dipengaruhi oleh keluarga, warga atau bahkan kepercayaan .


Pertama-tama, beliau harus menjernihkan dan mendengarkan suara hatinya, menemukan arah hidupnya, apa kiprahnya menjadi insan. Kedua, ia butuh keberanian buat menghadapi cermin sosial. Berani menyampaikan nir, buat sesuatu yg merusak pelaksanaan visi & misi hidupnya. Tentu saja ini sulit, apalagi pada termin awal. Lantaran itu langkah ketiga menjadi krusial, yaitu menemukan komunitas sevisi. Dalam komunitas sevisi, wanita akan menemukan dukungan dalam bentuk persahabatan, sharing pengalaman, pengetahuan atau bahkan sekedar tempat curhat. Ini akan menguatkan bepergian beratnya melaksanakan misi hidup. Yang terakhir dan terpenting adalah hayati dengan komitmen. Lantaran tanpa komitmen yg kuat segala asa akan sia-sia. Komitmen jua berarti kesediaan menanggung resiko akibat pilihan-pilihan yg diambilnya, contohnya stereotipe dari masyarakat, perseteruan menggunakan keluarga & bahkan mengorbankan hidupnya sendiri untuk impian yang lebih besar .
(Any Sulistyowati)









































Cloud Hosting Indonesia