Kail berkesempatan mewawancarai 7 orang ibu yang aktif dalam JMP (Jaringan Mitra Perempuan) mengenai pergulatan dan tanggapan mereka pada menyiasati konstruksi sosial (melalui keluarga, budaya dan negara) tentang Kedanquot;ibu"an mereka, khususnya pada menjalankan peran mereka sebagai aktivis.
Konstruksi sosial mengenai ?Ibu?
Dari ketujuh responden, konstruksi sosial famili-lah yg pertama-tama mereka alami & paling berpengaruh bagi pembentukan gender mereka, yg tercerap pada ihwal, pikiran, pemahaman, perilaku dan tindakan mereka baik secara langsung maupun sosial. Dari keluargalah (terutama berdasarkan bunda & relasinya menggunakan ayah & kakek mereka), mereka belajar buat sebagai seorang wanita, dan kelak sebagai seseorang istri & ibu. Ajaran, larangan & nilai-nilai yg disosialisasikan kadangkala tidak eksplisit, tapi sebagai model hidup yang harus mereka teladani. Dari ke 7 responden ini kebetulan 5 dari mereka kebetulan dari menurut Jawa Tengah (orang Jawa), sebagai akibatnya budaya Jawa yang patriarkhis mendominasi skenario hayati mereka. Dua orang lainnya yg beretnis Tionghoa juga membicarakan bagaimana tradisi sebagai unsur yg mayoritas pada konstruksi sosial mereka.

Pada konteks Indonesia, negara mengambil alih pendefinisian makna masyarakat negara perempuannya. Pada masa Orba, perempuan diideologikan menggunakan bahasa yang mempesona & diberi peranan mendukung pada (proyek) pembangunan. Pengideologian ini berhasil menciptakan bukti diri wanita dalam berbagai bentuk pemuliaan semu dengan karakteristik utamanya adalah kepatuhan. Konstruksi keibuan ini adalah deretan konsep budaya Jawa dan Belanda (Sears, Laurie. Introduction: Fragile Identities, dalam Sears, L (Ed). Fantasizing The Feminine in Indonesia. London: Duke University Press. 1996. Hal 33). Selama ini negara cenderung memanipulasi konsep wanita sebagai "istri", " ibu", atau keduanya, tergantung kebutuhan. Misalnya melalui Dharma Wanita, peran perempuan jelas-jelas secara struktural dianggap menjadi pendukung karir suami, seolah-olah perempuan tidak mempunyai pekerjaan & karir sendiri. Demikian jua mobilisasi massa wanita buat mensukseskan acara pembangunan, baik secara sukarela juga paksaan, melalui program PKK, Posyandu dan Keluarga Berencana.
Konstruksi sosial tentang wanita, khususnya sebagai istri & bunda ini disadari benar oleh para aktivis ini, dan banyak dari mereka yang menginternalisasinya selama ini. Misalnya, Bu Pratiwi wajib siap menggunakan resiko dicerca atas pemberontakannya sebagai aktivis sebagai konsekuensi menurut menjadi bagian menurut famili yang termasuk birokrat.
Pergulatan & Dialektikanya
Konstruksi sosial yg ditanamkan ternyata membawa impak yang tidak sama dan ditanggapi secara tidak selaras dalam masing-masing individunya. Beberapa dari mereka bahkan tak jarang dihinggapi rasa bersalah dan merasa bukan perempuan , bahkan sebagai "sakit jiwadanquot; lantaran konsep ke-mak -an yang dikonstruksikan bagi mereka.
Bagi Bu Pratiwi contohnya, konstruksi ini menciptakan dia frustasi dan sempat merasa bukan perempuan (sempurna) karena tidak mampu mengurus rumah dan nir sanggup masak; lantaran konsep perempuan ideal yang selama ini diajarkan adalah bahwa perempuan mesti sanggup mengurus urusan tempat tinggal , mengolah, mencuci & menjahit. Perasaan ini makin bertenaga ketika belum kunjung punya anak. Tapi setelah terdapat perubahan pandangan, ternyata hayati menjadi perempuan dirasakan lebih nyaman, tidak terdapat keharusan yg ditentukan dari luar, sehingga tidak sebagai kaku. Proses perubahan kerangka berpikir itu membuat ia lebih mendapat orang apa adanya. Perubahan ini diperoleh berdasarkan kecintaannya pada buku, lewat pergaulan dengan teman-sahabat aktivis wanita, lewat pergaulan menggunakan JMP dan dengan mengobrol. Suami Bu Pratiwi yg orang Kalimantan, sedikit poly pula berperan dalam proses penerimaan diri dan perubahan paradigma ini. Budaya dan eksklusif oleh suami yg nir mengambil peran stereotipe dan kaku mengenai seseorang suami & bapak, walaupun dengan kekeraskepalaannya sendiri, sudah membangun sebuah dialektika tersendiri bagi kehidupan famili mereka sebagai sesama aktivis.
Bu Lim, kebalikannya, dengan suami yg sangat patriarkhis, mengalami pergulatan yang lebih berat buat berdialektika menggunakan pemahaman barunya mengenai relasi wanita & pria. Aktivitas & perjuangannya menjadi aktivis wanita tidak berarti beliau mampu membarui atau mempengaruhi suaminya semudah itu. Perlu ada taktik & perundingan eksklusif sehingga sedikit-sedikit mereka berproses bersama menuju rekanan yang lebih setara. Pengakuan akan eksistensi diri & perjuangannya hanya mampu dicapai menggunakan taktik yang nir frontal, nir dengan marah-marah, tapi justru menggunakan kepekaan & pengenalan diri pasangannya, fleksibilitas dan kelincahan berbahasa.
Strategi dan perundingan yg cerdik ini juga diterapkan sang Yani dalam menghadapi suaminya yg patriarkhis & cenderung nir setia. Hanya pada hal pendidikan anak, mereka bisa mencapai kesepakatan , & hal inilah yang sebagai titik berangkat bagi Yani buat mempertahankan keluarganya. Pengalamannya hayati dalam konstruksi famili Jawa yang patriarkhis & feodal, yang ia internalisasi pada paruh waktu kehidupan tempat tinggal tangganya, ternyata menciptakan ia merasa menjadi "sakit jiwa", terguncang dan capek sekali. Ia malah mengakibatkan dirinya orang lain, sebagai terasing dari dirinya sendiri. Kesempurnaan peran istri yg dia jalankan menurut idealisasi konsep istri dan mak yang dikonstruksikan budaya, keluarga & negara nir menciptakan ia terlepas menurut korban ketidakadilan menurut suaminya & keluarganya. Pengalaman menyakitkan ini untungnya tidak dia tanggapi dengan berputus harapan dan pasrah saja. Didukung sang rekan-rekan aktivisnya, ibunya dan terutama keyakinan dan kemauan dirinya, Yani mampu mengganti pengalaman ketertindasannya sebagai momen buat memberdayakan kembali dirinya. Proses jatuh bangun yang dia alami tidak menyurutkan langkahnya buat terus bertahan & membantu orang lain buat berjuang jua. Kunci menurut proses pendewasaannya merupakan kerelaan & kerendahan hati untuk memberi kesempatan bagi dirinya & orang lain buat menerima yg terbaik, kerendahan hati buat belajar dan permanen memiliki asa. Semuanya asal menurut kekuatan Iman dan Kasih.
Lain lagi menggunakan Bu Wati, dialektika relasinya dengan suami dan anak, serta menggunakan keluarga kedua belah pihak terjadi lewat percakapan yg ada lantaran kebutuhan simpel. Misalnya masalah pembagian peran pada rumah tangga serta tanggung jawab & pengambilan keputusan. Beruntung memang, suaminya relatif gampang diajak berkompromi dan berproses bersama, walaupun proses ini tidak terlepas menurut pertarungan dan tegangan. Masalah kegiatan pada luar rumahnya yg menuntut mobilitas tinggi sudah dinegosiasikan jauh sebelumnya dengan suaminya, sebagai akibatnya nir lagi menjadi potensi konflik di kemudian hari.
Perasaan bersalah tak jarang kali sebagai bagian berdasarkan diri Bu Ambar waktu konstruksi itu ia internalisasi. Otonomi diri dipercaya identitik dengan egoisme, & itu antagonis dengan kasih - yg seharusnya dimiliki oleh seseorang ibu. Tuntutan-tuntutan yg diberikan pada seseorang ibu dirasakan olehnya terlalu berat & membebani, merasa terbelenggu, stress dan merasa "diperbudak". Kesadaran akan ketidakadilan gender akibat konstruksi budaya khususnya, mulai dirasakan lewat bacaan dan cerita tentang wanita Jawa; terutama jua lewat pengalaman konkretnya. Selanjutnya pencerahan itu mulai disosialisasikan lewat tulisan-tulisan dan lewat aktivitasnya di JMP.
Perasaan bersalah pula hinggap di hati Bu Sri, lantaran ia nir mampu mengolah. Tapi ini wajib dia bayar dengan mengkompensasikan menggunakan kesempurnaan pekerjaan tempat tinggal tangga lainnya dan dengan menaruh pekerjaan memasak ini pada pembantunya. Ketakutan jika-jikalau dia tidak sanggup membahagiakan suaminya serta ketakutan buat memilih, serta keharusan buat berbasa-basi makin dirasakan melelahkan. Keterlibatannya di JMP telah membawa perubahan, termasuk cara berelasi dengan suaminya. Ia menjadi lebih berani untuk menentukan perilaku, lebih terbuka & mampu mengambil posisi sebagai pribadi. Perubahan ini dirasakan lebih membebaskan, nir lagi stress; bisa mendengarkan orang lain dan menghargai mereka. Selain itu juga belajar mendapat disparitas dan nir memaksakan kehendak, lebih inklusif dan tidak feodal. Yang penting bagaimana kegiatan di luar tempat tinggal nir membuat keadaan di tempat tinggal menjadi berkonflik.
Bagi para ibu yg aktivis ini, perjuangan visi mereka menjadi aktivis nir terlepas dari proses dialektika mereka pada tempat tinggal tangga mereka sendiri. Keberhasilan mensugesti dan membawa perubahan yang lebih baik dalam rekanan mereka sendiri, tidak berarti bahwa kini giliran mereka buat mendominasi atau sewenang-wenang, akan tetapi justru lebih dalam penghormatan, kesetaraan dan penerimaan serta keterbukaan akan orang lain.
Akhir Kata?.
Pilihan sebagai seseorang aktivis tidaklah mudah. Dilahirkan menjadi seseorang perempuan pada budaya & sistem yg patriarkhis jua tidak gampang. Maka, sebagai wanita sekaligus aktivis sebagai kesulitan dan tantangan tersendiri, apalagi bila beliau memperjuangan keadilan dan perubahan bagi ketertindasan kaumnya sendiri. Permasalahan dan pergulatan yang dihadapi membutuhkan proses panjang dan kerjasama berdasarkan pasangannya, menurut warga dan perlu dukungan menurut institusi negara, budaya dan pula kepercayaan . Siasat dan taktik yg tidak konfrontatif, kreatif & fleksibel diperlukan dalam usahanya buat mendekonstruksi simbol & pemaknaan konsep yang terlanjur dipercaya kodrat selama ini.
Upaya transformasi & perubahan paradigma ini hanya mungkin ditempuh dengan berjejaring dan membentuk solidaritas beserta pada gerakan beserta: wanita dan pria. Semuanya mungkin buat dilaksanakan & bertahan, karena terdapat roh yg menggerakkan mereka. Seperti yang dikemukakan Pratiwi, bahwa dia melakukan semuanya ini karena dorongan hati, serta kepedulian terhadap manusia. Kepedulian ini pula yang menggerakkan Wati, lantaran beliau ingin lebih banyak orang yang punya kepedulian terhadap masalah-perkara yg kita hadapi, sehingga tercipta dunia baru yg lebih adil. Visi ini diteguhkan sang semangat dan ajaran yang beliau yakini, yaitu mengenai Kasih & pengampunan.
Semoga saja semangat kasih yang demikian kuat didengungkan & dimaknai pada rekonstruksi konsep ke-bunda-an para aktivis ini pula bergema dan menyemangati kita & para aktivis lainnya, tidak hanya terbatas dalam rekanan antar perempuan dan laki-laki , akan tetapi jua rekanan kita menggunakan alam lingkungan kita!
(Intan Darmawati)