Senin, 03 Agustus 2020

[TIPS] FASILITATOR dan BIDAN: Beda peran satu metodologi

Peran fasilitator memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan kiprah narasumber dan kiprah penceramah. Banyak orang menyebut dirinya menjadi fasilitator, namun semua metode pendidikannya tidak lebih menurut seseorang pembicara pada sebuah seminar atau khotbah seseorang Kiyai dalam sholat Jum?At.

Berikut ini beberapa saran buat menjadi seseorang fasilitator dalam arti yg sebenarnya.


Belajar menurut Bidan
Peran fasilitator tidak ubahnya menggunakan peran seorang Bidan. Pengalaman bidan pada membantu kelahiran seorang anak, adalah filosofi dasar yg kiranya perlu direnungkan oleh seorang fasilitator. Kita tentunya pernah melihat bagaimana seseorang bidan membantu proses kelahiran seorang anak, yang telah jelas bukan anaknya sendiri. Tetapi dengan segala totalitas dan kompetensinya, semua itu dikerahkan semata-mata buat kelahiran si bayi. Tetapi begitu si bayi lahir, ibunyapun langsung menggendongnya dan mendekapnya. Bidan pun relatif senang waktu beliau bisa membantu proses kelahiran itu & waktu melihat seluruh orang bahagia dengan keberhasilan proses kelahiran tersebut.


Seorang fasilitator pada menjalankan peranannya jua tidak tidak selaras menggunakan seorang bidan. Peran fasilitator merupakan berfungsi buat memfasilitasi sebuah proses penemuan makna-makna baru dalam hidup partisipan, sama menggunakan bidan yg bekerja buat memfasilitasi sebuah proses kelahiran. Ketika sebuah proses tersebut berhasil, hendaknya fasilitator pun seperti seseorang bidan, yg relatif merasa bahagia saat telah berhasil.
Penting pula buat diperhatikan bahwa seorang fasilitator hendaknya menjauhkan diri berdasarkan pemikiran buat sebagai yg paling didengarkan, yang paling diperhatikan, & yang paling paling lainnya, lantaran memang keberhasilan proses terletak pada kedua belah pihak. Seperti pada proses melahirkan anak, Ibu merupakan adalah partisipan dan bidan adalah seorang fasilitator. Dapatkah proses kelahiran itu berhasil jika si bidan hanya berteriak-teriak tetapi si mak tidak mengikutinya? Begitu jua kebalikannya, dapatkah si mak melahirkan seorang diri tanpa donasi bidan?


Menjadi Pelajar dari Pengalamannya Sendiri
Perhatian primer dalam proses memfasilitasi yang perlu diberikan sang seseorang fasilitator adalah pada kemampuan belajar masing-masing partisipan. Lantaran partisipan terdiri menurut latar belakang dan kemampuan yang relatif beragam. Beberapa hal yg perlu diperhatikan seseorang fasilitator dalam menjalankan perannya:
1. Melibatkan diri menggunakan partisipan secara penuh dan terbuka. Hal ini untuk mengantisipasi adanya berpretensi yang hiperbola berdasarkan partisipan terhadap pengalaman barunya.
2. Melibatkan partisipan dalam proses berefleksi serta menyimak pengalamannya
tiga. Menyatukan konsep menggunakan percermatan ke pada teori yang logis
4. Menggunakan teori buat memicu partisipan pada membuat keputusan dan menuntaskan kasus.


SiMaK (Sigap, cerMat, peKa)
Dalam proses memfasilitasi sebuah proses, tentu akan ada banyak persoalan yg timbul. Hal ini umumnya lalu dihubungkan menggunakan perkara personal dan kemampuan berdasarkan fasilitator. Beberapa ciri di bawah ini dapat dipakai buat mengembangkan hal tadi, yakni:
1. Kepribadian yg menyenangkan, dengan kemampuannya untuk menerangkan persetujuan & apa yang dipahami partisipan
2. Kemampuan sosial, menggunakan kecakapan buat membangun dinamika gerombolan secara beserta-sama dan mengotrolnya tanpa merugikan partisipan
tiga. Mampu mendesain cara memfasilitasi yang dapat membangkitkan, menggunakan pengetahuan dan ketrampilan partisipan sendiri selama proses berlangsung
4. Cermat pada melihat dilema pribadi partisipan.
Lima. Fleksibel dalam merespon perubahan kebutuhan belajar partisipan
6. Pemahaman yg relatif atas materi pokok pendidikan
Uraian singkat pada atas, dapatlah dikerucutkan dengan satu kalimat, yakni: Seorang pelayan bagi sesamanya insan. Inilah kiranya nilai dasar yang perlu direnungkan bagi seorang yg ingin merogoh peran sebagai fasilitator. Fasilittaor bukan menjadi tokoh, sebagai ahli, apalagi menjadi artis, namun menjadi pelayan. Semoga menggunakan belajar menurut seseorang pelayan, kita dapat menjadi seorang fasilitator sejati. Selamat memfasilitasi.
Daftar Pustaka:
Fakih, Mansour, Roem Topatimasang dan Toto Rahardjo (2001). Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.


Patricia Siswandi

































Cloud Hosting Indonesia