Minggu, 02 Agustus 2020

[PROFIL] Lusia Ping: Sang Penyambung Generasi Dayung



Menyusuri Sungai Mendalam di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kita akan menemui masyarakat Daya? Subsuku Kayaan yang mendiami kampung-kampung di sepanjang sungai. Secara garis besar , mereka mempunyai 2 budaya besar , yaitu budaya ngayau dan budaya dayung [1] . Rupanya budaya yang lebih berkembang lalu di rakyat Kayaan Mendalam merupakan budaya dayung.
Istilah dayung, pada mulanya memiliki tiga arti. Pertama, sebagai sebuah bentuk doa yg dilantunkan menggunakan irama eksklusif dan berbentuk syair dengan sajak yang berpola. Kedua adalah orang yang melakukan dan memimpin segala ritus keagamaan pada upacara istiadat mereka dengan melantunkan dayung, yaitu mereka yg berperan sebagai imam; disebut dayung juga. Hampir seluruh dayung pada sepanjang sejarah Kayaan, adalah wanita. Ketiga, kata dayung ini dalam jaman dahulu dikenakan juga dalam mereka yg memiliki kemampuan buat mengobati dan menyembuhkan penyakit. Dayung mengobati ini kebanyakan jua perempuan .


Sejarah dayung, baik dalam arti sebuah doa maupun imamnya, berkaitan erat dengan sejarah (upacara) Dange [2].


Begitu sentralnya kiprah dan posisi seseorang dayung, maka fungsi ini nir sanggup dijalankan oleh sembarang orang. Lantaran itulah, posisi seorang dayung pada masyarakat sangat terhormat & krusial. Sekarang, sesudah kepercayaan resmi masuk di bumi Mendalam, peran & kedudukan dayung-pun bergeser. Walaupun kepercayaan sekarang berusaha mengakomodir istiadat & tradisi dulu, akan tetapi kedudukannya sebagai lebih diskriminasi.


Justru akhirnya yang terjadi dalam para dayung kini merupakan multi beban, lantaran mereka tetap wajib menjalankan fungsi domestik, fungsi produksi (berladang, berkebun dan kadang menganyam), fungsi sosial kemasyarakatan, & sekaligus fungsi religiositas (sebagai dayung). Apalagi bila mereka kebetulan juga merupakan pengajar. Tidak sporadis terjadi permasalahan-konflik pula, tapi mereka tetap bertahan.


Dalam konteks inilah, sosok seseorang Lusia Ping, atau yang biasa dikenal dengan Bu Ping hadir & bermakna. Bu Ping, seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahun, sehari-hari berprofesi menjadi guru sekolah dasar sekaligus petani. Bersuamikan seorang pensiunan guru yg beretnis Jawa, mereka kebetulan tidak mempunyai anak. Yang menarik & menonjol menurut sosok wanita Kayaan satu ini adalah perannya menjadi dayung.


Ketika Dange dan segala ritualnya mulai diakomodir oleh kepercayaan resmi, Bu Ping, menjadi wanita belia saat itu, yg bukan seseorang dayung tata cara, sebagai tokoh di garis depan bersama menggunakan nenek Tipung-sang dayung aya? (dayung akbar/senior) buat pulang menghidupkan dan melestarikan adat mereka. Walaupun belum berstatus dayung, Bu Ping merogoh posisi menjadi motivator dan penggerak serta ?Penyambung generasi para dayung?. Ia belajar & menggali balik serta mengumpulkan kebijakan lokal yg sempat hilang, belajar menurut subjek sejarah yg masih hayati waktu itu, yakni nenek Tipung & beberapa tokoh norma yang sudah tua. Kearifan tradisional yg dituangkan dalam dayung & hayati pada dayung itu mulai dicatat & dibukukan.


Para dayung ini melakukan proses kaderisasi & pembelajaran menggunakan cara-cara yg informal, dengan tradisi lisan & dilakukan sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari wanita. Bahkan dalam sakitnya yg relatif parah, nenek Tipung masih pula menyediakan dirinya buat belajar beserta Bu Ping, yg akan meneruskan balik pada dayung-dayung belia (dayung uk) lainnya. Sambil berbaring, duduk pada atas tikar, mereka belajar. Nenek Tipung melantunkan dan mempraktekkan dayung, diikuti Bu Ping, sembari dihafalkan dan dicatat. Demikian berulang-ulang hingga benar -betul menguasai. Semua ini dilakukan pada sela-sela waktu mereka yg sangat padat & sibuk, terutama dengan banyaknya peran yang dipikul perempuan .


Proses kaderisasi ini kemudian diteruskan dengan merekrut para wanita muda buat melanjutkan tongkat estafet sejarah dayung. Bu Ping jugalah yg mempunyai kiprah akbar dalam merekrut, memotivasi, bernegosiasi & mendorong para wanita ini buat mau belajar tata cara & sejarah mereka lagi. Pekerjaan ini diakui tidak gampang oleh Bu Ping, lantaran pada mulanya orang takut buat mulai lagi menggali adat, dan lantaran nir sembarang orang bisa sebagai dayung. Mereka takut nenek moyang mereka marah kalau tidak dilakukan sama persis menggunakan istiadat dulu. Mulai dengan 6 orang teman, Bu Ping tidak putus harapan. Belum lagi mereka menemui kesulitan buat belajar apa yang dulu telah ditinggalkan. Ketakutan & rasa memalukan dan tidak percaya diri berdasarkan rekan-rekan mudanya ini disikapi menggunakan sabar sang Bu Ping. Ia tidak pernah memaksa seseorang buat melakukan apa yg dia inginkan. Tapi dengan membiarkan mereka menemukan sendiri, diikuti menggunakan proses perundingan dan diskusi, serta teladan yg tiada henti. Untuk itu beliau perlu memahami karakter rekan-rekannya, sebagai akibatnya proses kaderisasi ini bisa berjalan mulus. Seperti yang dikatakan,? Kita tidak usah menunjukkan marah atau ngomel. Kita mau mendidik orang, nanti orang malah lari.?


Kesabaran & tekatnya terbukti membuahkan output. Tahun ke-dua uji coba proses inkulturasi norma dange pada liturgi resmi agama sudah menerangkan output yang menggembirakan. Makin banyak orang yang berminat buat belajar dan bergabung. Perasaan takut & malu jua mulai bisa diatasi.


Para dayung sekarang telah bisa belajar menggunakan catatan, nir harus menghafal, dan nir wajib dijadikan dayung lewat mimpi atau penyakit. Motivasi menjadi dayung sekarang lebih dari karena minat, hobbi ataupun keharusan buat menjaga tradisi. Tapi poly jua yg mau sebagai dayung, lantaran dayung adalah doa, dan lantaran kehidupan religius mereka masih sangat pekat maka lewat doalah mereka memperoleh kelegaan, kedamaian dan pengharapan. Bu Ping sendiri merasa: ?Lezat cita rasanya jika berdoa dengan berdayung, sambil bernyanyi dan menari. Rasanya meresap...?


Dalam kehidupan religius, yang paling aktif & berperan merupakan para perempuan . Merekalah yg paling setia & yang mengambil tanggungjawab terbesar. Tapi hal ini tidak berarti mereka tidak peka & kritis terhadap perkara-kasus sosial, keagamaan & masalah lingkungan di sekitar mereka.


Adalah beberapa orang yang masih punya kesadaran dan kekritisan, yang mau melihat dan memperjuangkan kembali keberlangsungan hayati pada lingkungan Kayaan Mendalam. Bu Ping, sebagai keliru satunya, ikut serta dalam momen itu. Sebagai contoh, pada tahun 1999, lebih kurang 300 orang Kayaan berdemonstrasi ke DPRD buat menuntut dicabutnya HPH dan HTI, & melarang mereka beroperasi lagi di daerah Mendalam. Para wanita ikut dan berdasarkan awal proses hingga akhir. Mereka menari di depan kantor DRPD menggunakan menggunakan sandang norma.
Bu Ping, nenek Tipung (yg lepas 29 April 2004 lalu tewas), serta para wanita Kayaan ini juga menyadari & mengalami dampak berdasarkan kerusakan lingkungannya, nir hanya hutan, akan tetapi jua air sungai. Kekritisan & kiprah serta mereka yang teramat besar pada sejarah hidup masyarakat Kayaan patut diberi acungan jempol. Kesetiaan dan usaha mereka yg tak kenal lelah buat terus mengembangkan budaya kehidupan selayaknya kita dukung. Bu Ping, beserta wanita-perempuan Kayaan yg terdapat nun jauh di Mendalam sana, sudah memberi kita teladan bagaimana menciptakan sebuah proses belajar beserta yang lebih arif, nir otoriter dan penuh kekerasan, sekaligus kritis & konsisten.


Catatan:
[1] Budaya ngayau adalah budaya yang berkaitan dengan peperangan (yang lebih bersifat fisik) untuk memerangi dan mengalahkan musuh, biasanya menggunakan senjata seperti parang, yang disebut mandau. Secara spesifik, musuh biasanya dikalahkan dengan memolong leher mereka (cara seperti inilah yang dikenal dengan me-ngayau). Sedangkan budaya dayung adalah budaya yang berkaitan dengan segala bentuk kehidupan religiositas mereka.
[2] Dange adalah upacara terpenting dan terbesar bagi masyarakat Kayaan Mendalam. Dange adalah sebuah upacara pesta panen, yang merupakan ungkapan syukur mereka atas hasil panen, dan segala berkat dan rahmat yang telah mereka terima selama satu tahun. Sekaligus, mereka meminta berkat dan perlindungan untuk masa tanam yang akan datang.
(Intan Darmawati)










































Cloud Hosting Indonesia