Selasa, 07 Juli 2020

[OPINI] Takut Untuk Sukses, Sumber Kegagalan Terbesar



Sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan orang tua kepada anak-anaknya adalah, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”, lantas anak-anak akan memberi beragam jawaban mengenai cita-cita mereka. Bahkan walikelas saya di SD pada suatu hari pernah menanyakan kepada seluruh siswa, apa cita-citanya. Jawaban yang diutarakan kurang lebih sama, menjadi dokter, astronot, atau pilot.
Terlepas berdasarkan apa yang mengakibatkan adanya keseragaman jawaban tadi, impian merupakan galat satu indikator kesuksesan yg hendak diraih. Sukses, merupakan kata yang akan kita bahas bersama di sini.






Kalau setiap orang ditanya “Apakah Anda ingin sukses?”, kita bisa mendapatkan jawaban, bahwa sebagian besar orang menginginkannya. Namun, keinginan tersebut tidak serta merta membuat kesuksesan itu tercapai begitu saja, ada beberapa faktor yang menyebabkan tercapainya kesuksesan tersebut. Apapun faktor yang mendasari tercapainya kesuksesan tersebut, ternyata salah satunya terkait dengan ketakutan. Ketakutan? Ya, walaupun seseorang menginginkan kesuksesan dalam hidupnya, rupanya ada faktor di dalam diri setiap orang yang justru takut terhadap kesuksesan tersebut. Ketakutan ini terkait dengan keyakinan (belief) yang kita miliki terhadap kesuksesan. Keyakinan tersebut menurut Antonius Arif merupakan limiting belief ataupun mental block.


Ada 3 tipe keyakinan (belief)yang terkait dengan ketakutan untuk sukses (Robert Dilts, 1990) :


1. Hopelessness (tidak ada harapan)


Tipe ini dimiliki oleh seorang yang merasa nir mempunyai asa terhadap impian yg diinginkan. Perasaan tiada asa ini umumnya terkait ketiadaan pengetahuan mengenai kemungkinan buat sukses tersebut. Orang dengan tipe ini umumnya selalu beralasan macam-macam terhadap kerja keras. Orang dengan tipe ini akan menyampaikan, ?Orang lain saja nir sanggup, apalagi saya?. Tipe orang menggunakan keyakinan misalnya ini terbentuk lantaran sepanjang hayati orang tersebut melihat kerja keras tidak berbanding lurus dengan hasil yg didapat. Untuk tipe ini, pernahkah Anda melihatnya atau mengalaminya sendiri?


2. Helplessness (tidak berdaya)


Keyakinan ini masih ada pada diri seorang yang melihat orang lain sanggup melakukannya, tetapi dia sendiri merasa nir mampu melakukannya. Keyakinan akan ketidakmampuan ini kemudian membentuk perasaan tidak berdaya, atau kebalikannya. Jika ke 2 hal tersebut saling menguatkan maka akan semakin membuat seseorang nir berkecimpung ke mana-mana. Hidup orang seperti ini akan sebagai stagnan. Pernahkah Anda mendengar seseorang yang mengatakan bahwa kesuksesan itu adalah milik orang-orang yg punya uang saja? Ataukah Anda pernah mencicipi tidak bisa sukses karena Anda bukanlah orang yg pandai ?
Situasi ini sebetulnya tak jarang kita dapati dan sepertinya memang kondisi yg generik terjadi. Sebagai model, ungkapan ini, ?Ya, lantaran bapaknya dokter, makanya beliau pandai belajar kedokteran?.
Adanya agama mengenai faktor keturunan, akhirnya membatasi suatu pekerjaan eksklusif hanya pantas dikerjakan sang orang-orang dari keturunan tertentu. Sehingga keyakinan yang muncul merupakan ?Mana mungkin saya bisa menjadi seseorang dokter, aku kan anaknya seseorang penarik becak.? Dengan keyakinan misalnya ini, orang tadi terjebak menggunakan pemikiran bahwa mimpinya dibatasi sang siapa orang tuanya. Padahal, mungkin saja dia mempunyai talenta dalam memahami global kesehatan. Akibat keyakinan tadi, maka peluang yang ada menjadi hampir nir ada.


3. Worthlessness (tidak berharga)


Keyakinan  ini terjadi jika seseorang merasa bahwa walaupun hal tersebut mungkin dan bisa dilakukan, namun dirinya merasa tidak pantas dan tidak layak. Contoh yang sering terjadi adalah pada percintaan, misalnya seperti ini, “Saya mencintai pasangan saya dan  yakin sebenarnya bisa berdamai dengannya . Hanya saja, saya merasa tidak pantas dan tidak layak untuk bersama dengan dia.”


Contoh lain yang mampu kita lihat adalah pada pertemanan. Apakah Anda pernah lihat orang-orang yang menarik diri berdasarkan pergaulan sehari-hari? Terlepas dari kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi, pikiran bahwa ?Saya nir pantas berteman dengan mereka? Atau ?Saya nir layak menerima perhatian dari mereka? Adalah keliru satu penyebab yg timbul pada pergaulan di masa sekarang.
Saya sendiri pernah mengamati pola ini terjadi pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi dalam waktu yang cukup lama. Kepercayaan diri yang sedang menurun, diimbuhi oleh manajemen stress yang kurang cakap, cenderung membuat mahasiswa tingkat akhir menarik diri dari pergaulan untuk sementara waktu. Ditambah pemikiran “Ah, sudah bukan jamannya saya lagi”  membuat keyakinan itu bertambah kuat.


Semua tipe keyakinan di atas tidak lahir begitu saja, namun dibentuk oleh lingkungan seseorang, baik melalui nilai yang ditanamkan oleh orang tua maupun institusi pendidikan. Pendidikan seseorang secara tidak langsung memberikan sumbangsih terhadap pembentukan keyakinan-keyakinan seperti itu, hingga secara tidak sadar  seseorang tidak sungguh-sungguh mengejar kesuksesan yang  diinginkan. Lebih parah lagi apabila seseorang mengejar kesuksesan yang diciptakan oleh orang lain dan ia tidak sadar sedang melakukannya.


Saat saya masih kuliah, saya berteman dengan seseorang yang mengambil kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi, sebetulnya dia lebih menginginkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Ini disebabkan karena orang tuanya berpendapat tidak ada masa depan untuk seniman. Dia pun terpaksa memilih jurusan Ilmu Komunikasi karena hanya program tersebut yang masih mungkin ia sukai. Di kemudian hari, dia tidak pernah serius menjalani kuliahnya dengan berbagai alasan yang kemudian membuat dia memutuskan untuk mundur di batas akhir waktu perkuliahannya.


Cerita serupa cukup mudah didapati dalam mahasiswa-mahasiswa yg prestasi belajarnya rendah (jikalau indikatornya adalah IPK), walaupun belum tentu hal ini terkait dengan faktor intelektual. Ada banyak mahasiswa yang memilih acara studi tanpa mempertimbangkannya menggunakan matang berdasar hati nuraninya. Banyak yang belum menyadari, bahwa buat mencapai panggilan hidupnya, beliau wajib menjalani perkuliahan di perguruan tinggi eksklusif sinkron dengan minat & bakatnya. Tidak banyak orang yg akhirnya lalu sanggup berkembang sampai potensi terbaiknya.


Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, bahkan jauh sebelum duduk di bangku kuliah, kerangka berpikir masyarakat pada Indonesia mengenai pendidikan tidak membiasakan peserta didik buat menentukan berdasarkan hati nuraninya. Paradigma pendidikan di masyarakat kita membatasi masa depan yang hanya bisa diraih menurut jurusan-jurusan yg tersedia di perguruan tinggi. Lebih parahnya lagi pendidikan yang dianggap baik terbatas dalam perguruan tinggi bergengsi.
Dampak dari paradigma pendidikan tersebut adalah terkuburnya impian-impian luhur bagi dunia yang lebih baik. Impian-impian, yang kita sebut juga sebagai visi hidup tidak pernah dapat tercapai, bahkan  tidak mampu memikirkannya. Mengapa? Karena memang kita tidak pernah dididik untuk memikirkan sesuatu dalam perspektif waktu yang panjang, kita dibatasi oleh apa yang kita miliki sekarang, sehingga apabila kita memikirkan sesuatu yang tidak ada, kita dianggap “gila”.





Paradigma masyarakat, baik melalui pendidikan juga kehidupan sehari-hari, telah usang menyumbangkan ketakutan pada keyakinan individu, dan menutup kenyataan bahwa sesungguhnya kesuksesan itu unik bagi setiap orang dan adalah hak setiap orang. Ketika banyak sekali tipe keyakinan tumbuh & semakin mengakar pada dalam diri seorang, sangat sulit baginya buat menemukan kesuksesan yg ?Sesungguhnya? Pada dalam hidupnya.



Tetapi demikian, setiap manusia bisa membebaskan diri menurut keyakinan yang menghalangi kesuksesannya itu. Berikut ini merupakan tips buat keluar berdasarkan belitan keyakinan tersebut :


1      Kenali; bagaimana pandangan kita terhadap diri sendiri? Apakah ada salah satu jenis ketakutan tersebut?


2      Lepaskan; hal-hal yang memang tidak kita butuhkan, sudah saatnya untuk kita lepaskan, berikan “ruang” untuk hal-hal yang baik dalam hidup kita.


3      Berdamailah dengan segala “keburukan” di masa lalu kita, terimalah itu sebagai bagian yang indah dari keutuhan diri.


4      Tanamkan ide ke dalam diri, “saya berhak untuk sukses dan bisa mencapainya”.
5      Fokus pada apa yang kita inginkan.
Meski sulit, tetapi dengan kemauan yang keras, setiap orang bisa membebaskan diri dari belitan keyakinan tersebut, dan berlari mengejar kesuksesannya.

Jadi, mampu kita lihat bahwa penghalang bagi kesuksesan sanggup dari dari pada, yaitu keyakinan kita sendiri tentang kesuksesan. Lalu keyakinan ini ditentukan sang pendidikan yang ditanamkan, baik pada lingkungan tempat tinggal juga pada sekolah. Ditambah dengan pandangan masyarakat (orang-orang pada lebih kurang) yg berlaku di masa itu, maka keyakinan itu akan semakin mengakar bertenaga di dalam diri orang.


“Jikalau ingin sukses, keinginanmu untuk sukses harus lebih besar dari rasa takutmu terhadap kegagalan” – Bill Cosby, komedian berkebangsaan Amerika Serikat.


(David Ardes Setiady)














































































Cloud Hosting Indonesia