Jumat, 31 Juli 2020

[MASALAH KITA] Tulang rusuk yang hilang? Refleksi hidup bersama seorang aktivis

Kami, tidak pernah bercita-cita jadi aktivis, tapi melihat kondisi yang ada di sini, kami terpanggil untuk itu. Pada akhirnya, teman-teman jugalah yang menyandangkan gelar aktivis itu ke bahu kami”.
(Seorang aktivis mahasiswa, Bandung, 1999)
Kami baru menikah bulan Februari yang lalu, pada saat dunia merayakan hari kasih sayang. Sebuah perhelatan sederhana namun meriah di halaman rumah orangtua saya menandai mulainya status saya sebagai seorang istri. Namun tak hanya itu. Istri dari seorang aktivis. Usai hingar-bingar perhelatan, mulailah kami menapaki hidup. Kami tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Solo yang uang mukanya saja (bukan kreditnya) dicicil 13 kali oleh suami saya. Maklum, namanya juga aktivis, walau sudah lulus S1 sejak 1994, mana bisa membayar uang muka sekian belas juta sekaligus. Rumah ini, ketika Bapak saya berkunjung, diberi sebutan mewah-mabur, artinya, mepet sawah, madhep kuburan (dekat sawah dan menghadap kuburan). Geli juga, tapi itu sebutan yang tepat.

Rumah kecil ini tak jarang penuh dengan teman-sahabat yg seringkali berdiskusi dan bahkan bermalam disana. Wah, kadang aku senang berandai-andai buat membangun tempat tinggal ini jadi 2 lantai sehingga terdapat privasi bagi kami. Setidaknya agar begitu anak kami lahir, tidak perlu saling mengganggu antara asap rokok dengan tangis bayi. Tapi, mengingat pekerjaan suami, rasanya jua butuh waktu lama buat mewujudkan virtual itu. Lantaran buat makan sehari-hari saja, tak jarang aku harus lebih sering memutar otak kiri (buat belanja) daripada otak kanan (buat meracik hidangan) agar kebutuhan itu tercukupi. Sementara buat menghentikan kegiatan diskusi mereka, cita rasanya pula tak mungkin. Karena itulah jadwal malam hari kalau suami saya ada pada rumah selama 10 hari dalam sebulan. Yang 20 hari beliau bagikan buat teman-teman pada kota-kota lain dalam seminar-seminar, ceramah, lokakarya atau lainnya.
Itulah pengalaman saya menikah dengan seorang aktivis. Mungkin delapan bulan terlalu cepat untuk mengatakan bahwa saya tidak terlalu mempermasalahkan aktivitasnya. Atau, siapa tahu memang persoalan yang lebih pelik belum datang menimpa kami. Tapi melihat diri saya yang juga ‘sempat’ menjadi aktivis sebelum menikah (dan masih ingin tetap menggeluti aktivitas sosial setelah menikah), saya melihat setidaknya ada pengalaman berbeda yang dialami oleh kawan saya, yang notabene bukan aktivis, menikah dengan seorang aktivis. Dia seorang wanita karir yang cukup mapan secara ekonomi, namun pada akhirnya dia kesulitan mengikuti gaya hidup suaminya yang kelewat sederhana (sementara dia sangat trendy dan modis!). Untuk membeli barang baru pun ia harus berdiskusi panjang atau mendapat ceramah dari suaminya itu.
Lalu, apakah lalu menikah menggunakan aktivis (baik itu akhirnya menjadi sepasang aktivis juga satu aktivis dan satu bukan) menjadi penuh konsekuensi pada banyak sisi?
Apakah aktivis sosial itu? Apakah yg sebenarnya beliau lakukan? Apakah sebagai aktivis merupakan ?Panggilan?? Atau sekedar gengsi-gengsian? Saya pribadi mencatat, menurut pergumulan aku menggunakan aneka macam kegiatan sosial, aktivis dipandang menjadi sebuah ?Simbol kepahlawanan? Pada jaman ini. Ia timbul pada bentuk perlawanan, mulai dari sekedar merogoh loka sebagai oposisi sampai yang sangat radikal sekalipun, terhadap ketidakadilan. Tetapi ironisnya, juga pada catatan aku , aktivis yg selalu sebagai tumpuan semua pekerjaan melawan ketidakadilan itu nir pernah menerima apa-apa. Apakah ini kodrat sejatinya para aktivis sosial?
Aktivis Indonesia masih berkabung atas meninggalnya Munir, seorang pejuang HAM. Tetapi kematiannya masih menyisakan banyak pertanyaan saat orang mulai mengkaitkan peristiwa kematian ini dengan sejumlah aktivitas yg beliau jalani sebelumnya sebagai pilihan hidup. Sampai saat ini pun berbagai media seringkali diwarnai menggunakan berbagai tulisan mengenai hilangnya aktivis buruh, penculikan & penyiksaaan aktivis, teror & ancaman yang sedikit poly mengungkapkan situasi yang dihadapi oleh para aktivis tadi.
Namun sebagaimana kutipan pada awal tulisan ini, seingkali menjadi aktivis itu bukanlah impian sejak awal. Menjadi aktivis, acapkali dimulai berdasarkan sebuah ?Keterjebakan?, atau ?Kesadaran? Yg melahirkan ?Panggilan?. Suami aku bercita-cita menjadi masinis (saat masih mini ), insinyur teknik nuklir (sebelum kuliah) & bahkan seniman musik (saat kuliah). Saya sendiri juga bercita-cita sebagai insinyur yang bekerja di pertambangan minyak dan punya poly duit. Kini, tidak satupun berdasarkan ?Harapan? Kami itu tercapai.
Suami aku ?Tersadar? Pada bepergian hidupnya bahwa terdapat nilai yang lebih tinggi daripada sekedar menjadi insinyur teknik industri. Dia pun mengolah ?Panggilan? Itu (dan wajib rela berjarak menggunakan hobi musiknya) buat kemudian memilih jalan hayati sebagai aktivis sosial dan seorang pengajar hingga sekarang. Saya sendiri ?Terjebak? Waktu ingin mengenal dunia LSM lebih jauh. Bekerja menjadi peneliti pada LSM, mau tak mau aku dihadapkan pada segunung berita akan ketidakadilan dunia ini. Menutup mata? Tak mungkin. Itu hanya akan menipu hati nurani aku sendiri, yg sebenarnya sudah tergerak semenjak kuliah. Maka, ya sudah, aku terima ?Keterjebakan? Itu, & sekarang malah menghidupinya.
Secara generik saya temukan, baik ?Pencerahan? Juga ?Keterjebakan? Yg sekarang diolah menjadi ?Panggilan hayati? Aktivis itu bersumber lantaran melihat kondisi ketidakadilan tersebut merambat ke segala bidang. Dalam penelusuran data-data waktu saya sebagai peneliti, ketidakadilan itu melanda bidang politik, ekonomi, kepercayaan , pendidikan, kesehatan, & masih pada poly bidang hidup lain yang berkembang pada negara kita. Berikut ini hanya model berdasarkan apa yg mampu aku cerna secara terbatas: agama dijadikan institusi konfliktual, pendidikan hanya dimiliki anak-anak berduit, kesehatan hanya menjadi hak mereka yang beruang (betapa tidak, hanya orang kaya yg bsia membayar dokter-dokter terbaik dan mendapatkan perawatan kesehatan karena harga obat acapkali mencekik!). Itu baru sebagian. Belum lagi soal harga beras yg merugikan petani atau upah buruh yg demikian rendah.
Keprihatinan semacam ini baik secara intelektual, emosional dan bahkan dalam keseharian hidup, ditunjukkan dengan jelas oleh banyak aktivis. Menjadi aktivis tak bisa tidak harus ditunjukkan dalam sikap egaliter, demokratis dan partisipatoris, yang harus mereka hidupi. Karenanya tak heran jika sebutan aktivis itu dibarengi dengan gelar idealis. Kata idealis sendiri seharusnya berkonotasi baik. Cuma, pada tahap berikutnya, idealis diidentikkan dengan ‘mengambil pilihan untuk memperjuangkan cita-cita atau keyakinan, meski ganjarannya adalah kemiskinan, setumpuk masalah, penolakan, teror, dan ancaman’. Bahkan banyak aktivis kemudian melakukan ‘bunuh diri kelas’ untuk lebih dalam ‘mengalami’ penderitaan bagi yang didampingi dan meningkatkan solidaritas dalam perjuangannya.
Dari pengalaman aku & suami saya, perdebatan panjang & terkadang melelahkan pada membangun proyek-proyek perubahan sosial, seringkali melanda poly aktivis termasuk kami. Apalagi, saat teori yang dibicarakan dalam satu diskusi ke diskusi lainnya kadang tidak relevan atau nir secara konkret mengurangi jutaan orang yang sekarang semakin mengalami keterpurukan hidup. Perjuangan ini tentu tidaklah mudah untuk dijalani. Dan secara langsung, banyak aktivis mendapat penolakan baik berdasarkan orang terdekat juga famili. Tidak banyak orang bisa mengerti mengapa pilihan ini diambil dan bukan pilihan yang lebih baik, lebih mapan atau setidaknya lebih nir beresiko.
Keluarga atau pasangan aktivis, dalam banyak hal, tentu saja akan sangat merasa keberatan untuk ‘terlibat’ di dalam aktivitas yang dirasakan menjadi demikian menuntut. Menjadi sebuah dilema tersendiri bagi banyak aktivis ketika mengalami hal seperti ini. Bahkan saya sendiri, yang cukup merasa dekat dengan pesoalan-persoalan sosial, terkadang masih merasa sulit untuk juga untuk ‘merestui’nya. Karena konsekuensinya adalah hilangnya waktu bersama, atau hilangnya kenyamanan-kenyamanan yang sepantasnya saya dapatkan kalau saja saya tidak lebih jauh mengingat bahwa hidup kami juga satu dari bagian yang sedang diperjuangkannya. Namun dalam renungan saya, mungkin ini adalah sesuatu yang ‘menyatukan’ saya dengan apa yang diperjuangkan oleh suami saya, sehingga apa yang kami alami dalam suka-duka hidup perkawinan tidak menjadi meaningless dan sia-sia.
Belajar menurut pengalaman eksklusif, berelasi menggunakan seorang aktivis memang tidak selalu mudah & menyenangkan. Relasi selalu akan menuju pada proses melahirkan pemahaman yg terus menerus & integral tentang konflik dunia kerja masing-masing selain, tentu saja, duduk perkara relasi karakter interpersonal. Upaya buat menjadi pendorong perkembangan integritas & mendukung setiap pengembangan kompetensi pasangan pula seharusnya menjadi sebuah keseimbangan menggunakan pengembangan hayati famili itu sendiri. Menjadi aktivis atau pasangan aktivis, saya konfiden, bukanlah sesuatu yang gampang jikalau kita ingin, nilai usaha itu nir menjadi surut. Sekali ini menjadi pilihan hayati, siaplah buat menyanding tongkat konsekuensinya sampai akhir.
Melihat bepergian aku bersama suami dalam berkeluarga yg sebenarnya masih sangat pendek ini, saya telah sering bertanya: inikah jalan hidup saya seterusnya nanti? Benarkah aku ini ?Tulang rusuk yg hilang? Menurut suami saya yang merupakan seorang aktivis? Benarkah beliau orang yang sempurna bagi aku ? Benarkah ini hayati berkeluarga yg aku mau? Mungkin hanya saat yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, menyadari rumitnya ini semua, aku kini malah terdorong memberanikan diri punya keinginan baru: menulis novel. Ya, novel tentang hayati seorang aktivis. Ide yang bagus, bukan?
***
Dominika Oktavira Arumdati
Program Koordinator (2002-2004) dan Mitra Peneliti (sejak 2004) pada The Business Watch Indonesia dan calon ibu.


















Cloud Hosting Indonesia