Jumat, 10 Juli 2020

[MASALAH KITA] Suka Duka Menjadi Relawan

Jujur, pengalaman aku menjadi relawan tidaklah poly, akan tetapi dari pengalaman yg hanya beberapa itu kemudian aku merasa ketagihan. Mungkin terdengar relatif hiperbola, tapi rasanya benar-benar terdapat kepuasan tersendiri ketika tahu bahwa sedikit saja bantuan kita ternyata mampu meringankan beban orang lain. Dan nyatanya tidak semua orang bisa mengerti akan situasi itu apabila tidak merasakannya sendiri.
Beberapa teman dekat saya bilang “Ngapain sih kamu capek-capek kerja buat orang lain tapi gak dibayar?” Padahal sebenarnya saya mengharap sesuatu yang lain dari hanya sekedar materi. Saya ingin mendapat berbagai pengalaman dan ilmu baru, punya banyak teman baru untuk saling berbagi, bahkan kesempatan terekspos dengan segala hal yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Hidup itu, kan, bukan hanya tentang uang, semua ini membuat saya lebih bersyukur dan menghargai hidup.

Bagi saya, menyumbangkan ketika, energi & pikiran menggunakan menjadi relawan merupakan keliru satu upaya buat ekspresi selain hobi. Apabila hobi hanya terkait dengan urusan pada pada diri sendiri, kerelawanan mengondisikan kita buat berhubungan dengan orang lain. Ini krusial lantaran manusia adalah mahluk sosial. Tetapi, jika siap menjadi relawan juga harus siap menghadapi cermin sosial yang berkembang pada masyarakat lebih kurang kita. Orang-orang terdekat seperti famili, teman atau tetangga sanggup saja memberi komentar negatif terhadap pilihan sebagai relawan. Kadang, tanggapan kurang menyenangkan pula datang dari pihak yg kita bantu secara sukarela. Tapi sepanjang niat kita baik & nir merugikan orang lain, terbukti selama ini saya selalu sukses dan menerima kebahagiaan menggunakan sebagai relawan.
Saya masih jangan lupa pada athun baru 2012, saya bertemu seseorang bapak dari Australia bernama Chris Hindes. Beliau menuturkan bahwa, sebagai relawan sudah memberikan kepuasan batin di masa tuanya, setelah di masa belia beliau sibuk sebagai pekerja kantoran hingga nir menyadari putrinya tiba-datang saja sebagai dewasa kemudian menikah dan meninggalkan ayahnya. Cerita ini menyadarkan saya bahwa menjadi relawan itu termasuk kebutuhan tiap orang, bahkan bagi para karyawan yg bekerja menggunakan rutinitas.


Testimoni beberapa teman yang pernah atau masih menjadi relawan menyatakan hal yang sama menggunakan pada atas, yaitu menjadi berikut :
“Menjadi volunteer itu menyenangkan. Karena bisa bertemu orang baru, berjumpa orang dengan pemikiran baru. Bisa mempelajari cara pandang yang berbeda maupun ilmu baru. Kita bisa ketemu orang dengan background yang berbeda, jadi bisa belajar.” Menurut Puput, seorang mahasiswi jurusan Psikologi Unpad yang aktif berkegiatan di TedX Bandung.
“Pertama jadi volunteer di tahun 2001, saya menjadi dokter pendamping ke Kalimantan. Sebenernya pada awalnya saya takut, tapi kemudian saya banyak belajar, berinteraksi dengan masyarakat asli. Apalagi wilayah kerja saya di daerah konflik. Saya jadi volunteer yang dikirim ke daerah-daerah konflik di dalam hutan. Saya rasa menjadi volunteeradalah kebutuhan manusia yang paling tinggi tingkatnya. Saya belajar ikhlas dan dengan demikian jadi bahagia. Juga, bisa ketemu temenbaru, belajar hal baru.” Tutur Desmond, seorang mantan relawan daerah konflik yang sekarang bekerja mengurus relawan di museum Asia Afrika Bandung.
Seorang teman yang juga pegiat lingkungan menuturkan, “Dengan menjadi volunteer, kita pun melakukan proses pengembangan diri. Pengembangan diri bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui outbound atau jalan-jalan. Namun, nilai tambah dari volunteeringadalah manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Daripada ikut outbound dan jalan-jalan, belum tentu bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Bahkan bisa menambah jejak karbon.” Terlihat jelas bahwa kegiatan menjadi relawan apalagi di bidang yang sesuai dengan ketertarikan akan membawa pada kesadaran dan kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan.
Bila kita menengok Kota Bandung yang sekarang menjadi kota dengan segudang aktivitas dan acara hore-horekhas anak muda, fenomena volunterisme ikut menjadi tren seiring meningkatnya jumlah acara tersebut. Banyak yang menyayangkan bahwa “anak-anak gaul Bandung” ikut-ikutan menjadikan kerelawanan sebagai gaya hidup dengan motivasi ingin sekadar “numpang nampang”. Seperti kata seorang teman yang mengatakan bahwa, “Saya berharap makin banyak orang yang tertarik jadi relawan, karena sungguh tertarik dengan tema yang diusung. Bukan jadi relawan di mana-mana tapi tidak jelas apa yang menjadi ketertarikannya.”
Persoalan maraknya “relawan eventdadakan ini juga sempat dibahas juga oleh Anilawati Nurwakhidin, seorang aktivis lingkungan dari YPBB Bandung. Dia mengatakan, “Yang lebih penting adalah semangatnya, bahwa seseorang jadi relawan karena memang dia mau, dan akhirnya tujuan jadi relawannya bisa meningkat dari yang semula ingin tahu, hingga akhirnya dia muncul keinginan untuk memperjuangkan sesuatu. Karena banyak orang yang di awal minatnya ingin nampang, tapi nggak apa-apa, orang-orang seperti itu mesti tetap difasilitasi, nanti pelan-pelan dia akan menyadari bahwa gerakan yang dia lakukan ini memang penting.” Kurang lebih saya setuju dengan pendapatnya, semua hal besar bisa dimulai dari yang kecil.
Jadi apapun motivasi menurut setiap orang sebagai relawan, tidak terdapat salahnya buat mencoba hal baru & menemukan keasyikan pada dalamnya. Dan menurut seluruh orang yang aku temui & pernah menjadi relawan, saya menyimpulkan bahwa mereka mencicipi lebih poly suka cita daripada duka lara selama malang melintang menjadi relawan. Tidak perlu paras mengagumkan secantik Miss Universe, otak seencer bensin, atau sekaya Bill Gates buat menjadi relawan, relatif menggunakan semangat saling menyebarkan, ikhlas & mau mencoba.
(Selly Agustina)













Cloud Hosting Indonesia