Rabu, 15 Juli 2020

[Masalah Kita] Satu Episode Sedih Romantisme Aktivis Perempuan

Oleh: Yusmadaniar Hanum - Manager Program LSM PERAK-Pidie
Mungkin semua orang pernah mengalami murung , namun sedih yg kurasa agak tidak selaras. Pada saat seseorang gadis berkiprah dewasa banyak cerita yang ingin beliau banggakan: cerita manisnya beserta teman juga oleh kekasih. Persoalan-problem pada rakyat mungkin akan mampu segera terpecahkan (warga evakuasi), terdapat berbagai jalan keluar yang bisa ditempuh. Tetapi, berbeda menggunakan dilema yg kuhadapi. Pada saat Aceh ini dinyatakan menjadi wilayah konflik, aku menjadi galat satu aktivis perempuan yg siap menggunakan konsekwensi apapun. Ketika itu, aku tidak pernah resah menggunakan keamananku, makan, sandang & penampilan. Aku hanya resah terhadap keadaan warga / orang-orang yg terjebak diantara dua pilihan; dukung GAM mangkat , nir dukung GAM jua tewas. Lokasi rumah mereka menjadi ajang pertempuran & akhirnya mereka mengungsi buat mencari tempat aman bagi anak & istri mereka ke sebuah jalan, yang pula merupakan jalan pintas tujuan kampusku. Aku kuliah pada galat satu kampus swasta yg ada di Aceh.

Pada syarat misalnya itu, kebanyakan perempuan hanya berdiam pada tempat tinggal , tanpa bisa melakukan apapun. Mereka hanya akan keluar jika diharapkan saja. Sebagai seorang anak perempuan , tentulah pada biasanya susah menerima ijin buat mampu terjun dalam aktivitas sosial, ditambah lagi saya dititipkan di tempat saudara termuda ibuku di sini. Selain bekerja sebagai relawan di pos mahasiswa, aku pula aktif pada organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) walaupun pada waktu itu masih sebagai anggota biasa.


Boleh dikatakan, langkah yg kutapaki berjalan dengan baik & mulus. Tapi buat seluruh itu, saya membutuhkan ketika buat meyakinkan orang tua, famili & sekelilingku. Bahwa saya menjadi aktivis bukan berarti menjadi wanita yg ngak benar. Keluargaku risi bila Aku nantinya akan diperkosalah, diculik GAM, atau dibuang mayatnya.


Itu hanya garis akbar ketakutan famili akbar ibuku saja. Tetapi langkahku tidak pernah surut selangkahpun. Karena komunikasi yang terus kubangun menggunakan ibuku, akhirnya beliau mengizinkan dan mengikhlaskanku buat membantu masyarakat lemah dan melawan penindasan. Ibuku nir pernah menyangka kalau Aceh misalnya yang kuceritakan. Ijinnya di seberang kota yg tidak berakses perseteruan, membuatku konfiden terus buat melangkah, berjuang melawan penindasan.


Terbukti sekarang, saya dikatakan orang sukses menurut teman-sahabat seangkatanku yang dulu menjadi mahasiswa patuh terhadap orang tua. Tentu dibalik semua itu poly persoalan yang kuhadapi. Disamping menurut duduk perkara-duduk perkara yg terdapat pada lapangan dan organisasi yaitu masalah hati / perasaan. Kondisi ini usang kelamaan membuatku terbiasa dan telah kebal.


Ada beberapa kali interaksi yang terjalin, namun akhirnya putus di tengah jalan. Ini disebabkan beberapa hal, yaitu dilema ketika, pandangan (genre), penampilan / style dan juga pekerjaan. Namun yg sebagai problem utama menurut retaknya interaksi itu diantaranya dikarenakan pandangan & pekerjaan. Sebagai seseorang aktivis ternyata aneka macam dilema, apakah itu persoalan famili, lingkungan jua langsung, harus siap kuhadapi. Ini sangat berat, lantaran keluarga calon pasanganku menolak apabila berhubungan dengan seorang aktivis. Dari oleh pujaan, juga agak berat atau sangat berat merelakan kekasih atau calonnya bekerja sebagai seorang aktivis / pekerja sosial di masyarakat. Hal ini, sempat membuatku hampir putus asa buat meyakinkan tentang pekerjaanku.


Rasa percaya diriku tidak luntur, meskipun Aku harus kehilangan sang pujaan hati, lantaran prinsipku, hidup hanya sekali dan apa yang bisa kulakukan selama kuhidup? Kalau kita nir bisa bermanfaat bagi orang lebih kurang/ lain, maka insan itu akan rugi. Inilah yg membuatku terus mantap melangkah buat terus berjuang membela masyarakat mini , lemah tuk melawan ketertinggalan. Aku yakin suatu ketika Aku akan menemukan orang yang pantas dan sesuai denganku. Insya Allah.

















Cloud Hosting Indonesia