Sabtu, 04 Juli 2020

[MASALAH KITA] Mempersiapkan Anak Menghadapi Tantangan Jaman



Pengantar

Ibu EG memiliki seorang putri yang berusia 7 tahun . Akhir-akhir ini putrinya menggemari makanan-makanan yang dijajakan di sekolah. Biasanya Bu EG  menyiapkan bekal makanan dari rumah untuk putrinya, namun karena ada teman sekolah yang sesekali merayakan ulang tahun dan memberikan bingkisan ulang tahunberisi makanan ringan, putrinya pun mau tidak mau berkenalan dengan makanan tersebut. Awalnya Bu EG langsung menyeleksi makanan-makanan itu karena khawatir dengan kandungan seperti MSG, pengawet, dan pewarna. Akan tetapi dengan pertimbangan untuk mendidik anaknya mengenai rasa dan kesehatan makanan, Bu EG mengizinkan putrinya untuk mengonsumsi makanan seperti itu namun dibatasi dan diberikan pengertian agar menyadari dampak makanan tersebut pada dirinya. Dengan penerapan disiplin tersebut, Bu EG berharap putrinya akan tetap lebih memilih makanan rumahan daripada yang dijajakan di sekolah.


Berbicara mengenai tumbuh kembang anak, berdasarkan masa ke masa, memiliki tantangannya masing-masing;

mulai dari pola pengasuhan, pendidikan, lingkungan, & teknologi. Setiap generasi menghadapi masalah & tantangannya masing-masing, begitupun menggunakan orang tua dan anak di masa kini , yang kita rasa mungkin akan semakin berat ke depannya. Seperti yg dihadapi oleh Bu EG, tantangan yg beliau hadapi menjadi orang tua adalah menanamkan pemahaman soal makanan sehat kepada putrinya, ad interim lingkungan sekolah umumnya tak jarang dijejali dengan pedagang makanan yg nir kentara kandungannya. Orang tua dimanapun mengharapkan anak-anaknya berada dalam keadaan sehat, tumbuh dengan penuh kebahagiaan. Namun, lingkungan terkadang tidak turut mendukung.

Selain di pada keluarga, tumbuh kembang anak juga dipengaruhi sang lingkungan tempatnya dibesarkan. Lingkungan yg nir mendukung, sanggup mengakibatkan anak tumbuh lebih cepat dari usianya karena mencontoh perilaku yang belum ia mengerti. Atau malah menyebabkan anak tumbuh lebih lambat lantaran tertahan oleh aneka macam macam larangan. Yang relatif sering kita lihat kini ini adalah perilaku anak-anak yg tampak misalnya orang dewasa. Mungkin kita akan tertawa geli melihat konduite demikian karena situasi tersebut dicermati aneh. ?Anak-anak tapi perilakunya sok telah dewasa?, mungkin itulah pikiran yang mengiringi reaksi geli kita. Tapi apakah Anda masih akan tertawa bilamana mendapati anak perempuan berusia 6 tahun yg lebih seringkali berbicara mengenai pacaran, ciuman, & bagaimana bersikap pada versus jenis? Anak perempuan ini dari luar tampak seperti anak-anak pada umumnya, yg bermain kejar-kejaran atau bermain kiprah. Tidak terdapat yang tidak sama jika hanya melihat sekilas, tetapi pada saat dilihat lebih jauh, apa yg beliau bicarakan benar-benar mengejutkan. Seolah-olah dia sudah tahu apa yang dimaksud dengan pacaran ataupun ciuman. Lalu mengapa anak perempuan ini mampu berbicara misalnya itu?


Anak-anak merupakan makhluk pembelajar yg luar biasa, begitupun menggunakan anak wanita tersebut, dia menilik semuanya itu dari apa yang dia lihat. Di lingkungan tempatnya tumbuh, seringkali kali beliau mendapati orang-orang dewasa mengumbar kemesraan. Ditambah dengan anak-anak remaja yang sedang puber, bergaya menggunakan dandanan yang menor, anak perempuan itu menyaksikannya. Kemudian ditambah lagi dengan tontonan sinetron yg sangat nir mendidik, jadilah anak wanita itu benar-sahih dipenuhi menggunakan fakta yang belum sahih-benar dia pahami, tapi dia serap menggunakan baik.


Ada pula kasus seorang anak laki-laki yang getol bermain game online pada warnet (warung internet), yang harus dijemput orang tuanya buat pergi. Anak itu menghabiskan semua uang saku hadiah orang tuanya hanya buat bermain game online, sekalipun lapar, beliau akan menahannya hanya demi bermain game online. Ataupun anak-anak yg gemar bermain Playstation (PS) berjam-jam, tidak ingat makan dan minum.


Kasus-perkara demikian, menjadi keprihatinan bersama yg mengundang tanya, apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan kita?

Tantangan bagi  para orang tua masa kini



Tim KAIL sudah melakukan wawancara dengan orang tua yg memiliki anak dengan rentang usia 1 ? 13 tahun. Wawancara ini dilakukan buat melihat, tantangan misalnya apa yang dihadapi oleh para orang tua tersebut. Ada lima orang yang sudah bersedia menjadi responden dalam wawancara ini, menggunakan komposisi 4 orang bunda & 1 orang ayah.


Para responden menjawab bahwa tantangan yang dihadapi mereka menjadi orang tua, meliputi pendidikan, perkembangan teknologi, tontonan televisi, lingkungan pergaulan, & kuliner.
Tantangan pendidikan yang dirasakan oleh para responden terkait bagaimana anak-anak dididik sesuai dengan usia dan tahapan perkembangannya, serta memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan cukup kasih sayang dalam proses pendidikan tersebut.  Pendidikan di rumah dipandang sebagai hal yang sangat penting dalam mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi berbagai tantangan ke depannya. Yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah menjalankan peran sebagai teman yang turut serta mendukung proses belajarnya. Walau ada yang merasa dukungan tersebut tidak selalu berhasil, tapi hal tersebut tetap diberikan agar anak-anak senang dengan kegiatan belajar.


Tantangan dari perkembangan teknologi adalah pengawasan terhadap arus informasi yang didapatkan oleh anak. Ada dua responden yang menyoroti hal ini. Koneksi internet yang semakin cepat dan mudah, membantu anak-anak untuk memperluas wawasannya, namun di situ terdapat  bahaya bilamana informasi yang boleh diakses tidak dipilah sesuai dengan usia. Konten porno, kekerasan, ataupun hal-hal lain yang belum bisa dicerna oleh anak-anak beredar bebas di internet. Dampak dari informasi tersebut kemungkinan akan mempengaruhi perilakunya.


Televisi yang sudah lekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan juga menjadi tantangan tersendiri, terutama karena tontonannya yang sangat tidak bersahabat dengan anak-anak. Sinetron, berita infotainment, lagu-lagu Indonesia, dirasakan tidak mendidik. Responden merasa cemas dengan tontonan televisi Indonesia.


Tantangan dari lingkungan juga terkait dengan informasi, meliputi nilai-nilai yang berpotensi mempengaruhi anak. Apabila nilai-nilainya sejalan dengan yang diajarkan di rumah, tentu orang tua tidak khawatir. Anak-anak di masa pertumbuhannya perlu berinteraksi dengan lingkungannya agar tidak merasa asing bila berhadapan dengan dunia  luar. Interaksi yang terjadi tidak hanya dengan lingkungan tapi juga dengan manusia yang ada, yaitu teman-teman sebaya. Namun, kondisi setiap anak tidaklah sama karena berbagai hal, entah faktor kondisi keluarga ataupun lingkungan tempat ia dibesarkan. Oleh karena itu, di dalam interaksi yang terjadi dengan teman-temannya juga terjadi pertukaran informasi, yang mungkin tidak pantas. Pergaulan tidak mungkin dihindari karena bagaimanapun merupakan bagian dari proses pendidikannya dan juga hakikatnya sebagai makhluk sosial. Tantangan ini disorot oleh 3 responden.


Anak-anak dalam umumnya belum memiliki kepekaan tentang kuliner sehat lantaran umumnya hanya mempertimbangkan kepada rasa saja. Manakala ketika ini kuliner-kuliner yg beredar pada pasaran ataupun yang dijajakan pada pinggir jalan banyak mengandung penyedap rasa dan bahan-bahan kimia lainnya, anak-anak suka dengan cita rasanya namun belum tentu baik buat tubuhnya. Dua orang responden ibu sangat menyadari hal ini, mereka melihat pentingnya buat mengatur pola makan anak-anak agar asupan gizinya tercukupi setiap hari. Tidak dipungkiri bahwa anak-anak perlu diperkenalkan tentang berbagai rasa serta sehingga nir terjebak dalam satu jenis kuliner saja.


Strategi para orang tua menghadapi tantangan


Menjawab tantangan-tantangan tersebut, para responden mengungkapkan cara-caranya tersendiri yg dirasa sempurna buat anak-anaknya.


Terkait dengan pendidikan, orang tua diharapkan untuk tidakmemaksa anaknya dengan  tuntutan harus bisa ini dan itu. Tidak juga dengan membebani dengan suatu capaian prestasi yang luar bisa. Orang tua disarankan untuk menyikapi pendidikan anaknya dengan memberikan semangat dan dukungan agar anak-anak terpacu untuk belajar, merasakan pengalaman positif dalam pembelajarannya. Pemberian semangat dan dukungan  merupakan wujud kasih sayang orang tua, tentu perlu dikomunikasikan lebih lanjut dengan sang anak, apakah dia benar-benar merasakan kecukupan kasih sayang dari mereka. Di sini orang tua perlu membangun keterbukaan anak untuk menceritakan apa pun yang mereka dapatkan dan rasakan, sehingga orang tua kemudian bisa mengetahui nilai-nilai yang sedang dibentuk di dalam dirinya pula.


Keterbukaan anak sebagai upaya untuk mengatasi seluruh tantangan tersebut karena apabila orang tua bisa mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, orang tua bisa mencari solusi buat mengatasinya.


Lebih lanjut, selain keterbukaan anak, diperlukan langkah-langkah lain untuk meminimalisir dampak buruk dari tantangan-tantangan yang lain, terutama mengenai akses informasi. Media-media menuju informasi harus dibatasi penggunaannya, terutama lama penggunaan serta kontennya. Gadget memang bisa bermanfaat untuk membantu pendidikan dengan adanya fasilitas games yang edukatif, namun games yang dimainkan terlalu lama bisa menjadi tidak edukatif lagi, melainkan adiktif atau kecanduan. Hal tersebut bisa berpengaruh buruk kepada anak-anak. Sementara televisi jelas harus dibatasi, kapan boleh menonton dan berapa lama boleh menonton. Sulitnya membatasi televisi adalah karena tontonannya tidak dapat diatur, televisi nasional maupun lokal tidak memiliki segmentasi dan juga tidak dapat diblokir. Untuk itu bila menonton, walaupun acaranya mungkin tampak diperuntukkan bagi anak-anak, orang tua sebaiknya selalu mendampingi untuk dapat memberikan pengertian.


Mengatasi masalah pola makan anak, orang tua disarankan buat menjalankan disiplin yg relatif ketat, walau bukan berarti melarang anak buat mengkonsumsi kuliner eksklusif. Membangun pencerahan anak dalam menentukan makanan yg terbaik baginya adalah pilihan yg lebih tepat & membangun karena di kemudian hari, sang anak akan mewariskannya kepada keturunannya menggunakan penuh kesadaran. Apabila anak masih ingin mengonsumsi makanan-kuliner yang dirasa kurang relatif sehat, maka ijinkan untuk mengonsumsinya sambil selalu diberikan pengertian.

Penutup

Perkembangan jaman tidak dapat ditahan dan tidak dapat pula dihindari. Siapapun akan menjadi bagian di dalam perkembangan jaman, kita tidak hanya sekedar menerima perubahan yang terjadi, namun juga menghadapinya. Sebagai orang tua, mempersiapkan anak-anak dengan berbagai keterampilan hidup adalah sebuah upaya yang menjadi harus dilakukan. Untuk mendukung upaya tersebut, orang tua harus senantiasa belajar dan belajar, menambah wawasan agar bisa mendampingi anak dengan baik terutama dalam memberikan pengertian. Selain itu, harus diingat bahwa bagaimanapun juga orang tua adalah teladan utama untuk anak-anaknya. Baiklah kiranya orang tua menyesuaikan diri dengan jaman, mencoba memahami
anaknya, dan terus membimbing anaknya.

(Melly Amalia & David Ardes)
Keduanya merupakan staff Kuncup Padang Ilalang (KAIL) Bandung



























































Cloud Hosting Indonesia