Minggu, 17 Mei 2020

[MEDIA] RESENSI BUKU: HALAMAN RUMAH/ YARD

RESENSI BUKU: Halaman Rumah/Yard

Oleh: Kukuh Samudra

Judul                     : Halaman Rumah

Penyunting         : Anwar Jimpe Rahman

Penerbit              : Tanahindie Press

Halaman              : x + 183

Lima puluh tahun kemudian di Karanganyar - sebuah kota kecil sebelah timur kota Solo - berukuran rumah lazimnya besar . Luas tanah bangunan 500 m2 belum mampu dikatakan luas, itu pun belum ditambah pekarangan atau kebun di belakang rumah.

Sekarang, menggunakan ukuran yang sama di loka yang sama, 500 m2 tanpa pekarangan telah mampu dipercaya luas. Tidak perlu pekarangan, yg penting ada garasi.

Di kota Bandung berbeda lagi. Di kampung-kampung kota, mulai sering dijumpai rumah dengan ukuran lebih sempit. Pemiliknya pun tidak menganggap garasi atau pekarangan sebagai hal penting; pagar rumah langsung mepet dengan jalan.

Sisi lain dunia mempunyai cerita yg tidak sama lagi. Hidup pada ruangan 5x4 meter buat sekeluarga, melakukan aktivitas apapun di ruangan yg sama.

Cerita mengenai ruang sanggup tidak selaras pada berbagai tempat dan kebudayaan. Seperti yang disampaikan sang Koentjaraningrat, apa yang material (artefak kebudayaan) sesungguhnya adalah sublimasi dari sistem sosial dan mental warga .

Dalam kitab ?Halaman? Ini, sebuah lokus bernama halaman coba ?Diperbesar? Buat mendapatkan penekanan yang lebih tajam.

Bermacam Narasi Mengenai Halaman

Terdapat 14 esai yg tertuang dalam buku ?Halaman Rumah?. Tidak semua goresan pena secara khusus membahas tentang halaman tempat tinggal , meski masih ada sebuah bisnis buat membidiknya.

Esai pertama berjudul ?Di Kota Kita Meraya, Di Halaman Kita Berjaya? Ditulis Anwar Jimpe Rahman. Seperti dimaksudkan menjadi esai pembukaan, Anwar memperkenalkan definisi awal tentang laman & pekarangan yg menurutnya ?Setara dan sedaya?; dipahami menjadi tanah di lebih kurang tempat tinggal . Tulisan ini mencoba mendedah halaman dan pekarangan terkait poly konteks: filsafat, proses berkesenian, sosial, hingga permenungan yg transenden.

Selanjutnya kita akan disuguhi langsung tiga narasi tentang tiga kampung pada Makassar: Kampung Paropo, Kampung Rama, & Permukiman Jalan Sukaria. Ketiga tulisan ini secara garis besar membahas 3 kampung menurut segi yg sama: sejarah dan proses perubahan sosial dampak modernisasi. Sesekali narasi tentang halaman coba diselipkan.

Esai-esai selanjutnya menghubungkan halaman dengan berbagai tema. Terdapat beberapa benang merah topik: tradisi, interaksi sosial, dan ruang hidup.

Kaitan antara tradisi dengan halaman atau pekarangan tertuang dalam esai ?Kesenian, Panggung, & Halaman yg Tersisa pada Paropo? Dan esai ?Nam?A & El?A bagi Orang Lewotala di Kepulauan Solor?.

Esai pertama berbicara mengenai kesenian tradisional yang berlangsung pada Paropo yang kerap berlangsung di lapangan. Sementara esai yg disebutkan ke 2 menjabarkan peran rumah tata cara menjadi ruang publik loka memperbincangkan dan menyelenggarakan urusan publik-istiadat.

Halaman atau pekarangan menjadi ruang hayati dijabarkan oleh dua esai berdasarkan Saleh Abdullah dan Fitriani A Dalay. Esai berdasarkan Saleh Abdullah dengan tegas memposisikan "pulang ke pekarangan sebagai upaya melawan budaya kota yg menurutnya sarat akan ketidakadilan & sudah ?Memutus solidaritas bersama menggunakan melahirkan manusia-insan kota yang impersonal?.

Melalui kegiatan menanam kuliner sendiri di pekarangan kita telah berupaya buat mengurangi ketergantungan kita terhadap budaya kota. Dia memberikan tekanan bahwa pekarangan tidak sekadar berkaitan menggunakan aktivitas tanam-menanam, namun pula terkait dengan wilayah kedaulatan politis. Sehingga, menggarap lahan ?Menggunakan begitu memiliki alasan eksistensial & politis sekaligus? (hal. 87).

Perincian yang baik ditulis oleh Fitriani A Dalay yang juga mengaitkan isu halaman/pekarangan dengan ruang hidup. Dengan pencatatan yang baik, diperoleh data dari seorang warga dari Desa Soga, Kabupaten Soppeng yang menghemat hingga 1,8 juta (dari total 2,7 juta) per bulan untuk kebutuhan pangan. Sayang pencatatan tersebut tidak mencantumkan luas lahan yang digunakan warga. Meski demikian, pemaparan rincian kebutuhan pokok dalam bentuk tabel sangat mengena dalam memberikan insight tentang pemenuhan kebutuhan secara mandiri.

Halaman tempat tinggal secara eksklusif juga menghipnotis hubungan & perilaku manusia. Halim HD & Askaria Putri memotret paradoksal perubahan hubungan dan perilaku ini menurut kenangan mereka akan masa lalu.

Halim membandingkan masa kecilnya waktu di Serang, Banten. Halaman rumah masyarakat pada kampung ketika itu, tak ubahnya anjung dan mimbar. Tempat interaksi banyak sekali budaya berlangsung. Dari page rumah, Halim mengaku sanggup mengetahui secara pribadi kesenian misalnya Gambang Kromong, Keroncong, Wayang Golek, & musik melayu. Sesuatu yang susah dijumpai waktu ini, waktu rumah sebagai arena terutup yg cenderung mengisolasi anak terhadap pergaulan menggunakan sekitar.

Kenangan kehidupan kampung dengan page juga dibeberkan sang Asri. Ketika hidup di Jogja, aneka macam kegiatan bermain biasa dilakukan di pekarangan/laman. Sementara nasib tidak sama wajib dialami anaknya yg bersama Asri tinggal di komplek perumahan tanpa ada tempat luas yg layak buat bermain.

Usaha Dokumentasi Ingatan Ruang

Tidak gampang memadukan empat belas esai dari orang-orang yang tidak sinkron tentang topik yang sama. Konsistensi terhadap sebuah wangsit awal dan teori dasar, menjadi kendala pada kitab ini. Meski pada judul kitab adalah ?Halaman Rumah?, esai pertama menjadi pembuka telah memperluas cakupan kitab menjadi ?Page? Dan ?Pekarangan?.

Esai-esai selanjutnya pun cenderung tidak konsisten terhadap tema ?Page? Rumah. Alih-alih sebuah pekarangan, ruang yg dimaksud pada esai ?Kesenian, Panggung, & Halaman yg tersisa di Paropo? Justru menggunakan gamblang menyebut kata ?Lapangan? Di awal.

Apabila esai pada awal menyebut wangsit bahwa ?Halaman? & ?Pekarangan menjadi setara & sedaya, esai paling akhir yang ditulis sang Yoshi Fajar Kresno Murti justru menyiratkan pemahaman yg antagonis.

Halaman rumah sebagai entitas ruang mungkin belum baku, atau memang percuma buat dibakukan. Sementara garis besar kitab ini terasa kental menggunakan nuansa romantisisme; ingatan akan kondisi rumah menggunakan halaman atau pekarangan luas yg leluasa.

Hal ini dibenturkan menggunakan perubahan sosial yang dialami warga . Lahan yg menyempit karena kepadatan penduduk semakin tinggi atau lantaran prosedur pasar membuat rakyat lokal nir berdaya buat mempertahankan tanahnya.

Tetapi, yang terbentuk oleh puluhan atau mungkin ratusan tahun, tidak ingin tinggal diam. Tradisi sosial yg sudah hayati di masyarakat, nir serta merta tewas. Buku ini mereka menggunakan baik hal tersebut. Ibu-ibu yang memanfaatkan ruang buat pengajian, pelaku kesenian yg berpentas di tanah lapang yg belum termanfaatkan, atau warga norma yg merampungkan masalahnya di depan rumah istiadat.

Memang ada beberapa kekurangan dari buku ini. Soal koherensi maupun landasan teori. Namun, dalam konteks masyarakat yang ‘memiliki ingatan pendek’, buku ini adalah mata air. Anda pasti juga setuju setelah membaca buku ini ,bahwa dengan kata kunci semangat,  buku “Halaman Rumah” mengatasi kendala-kendala teknis.

Cloud Hosting Indonesia