Minggu, 02 Agustus 2020

[MEDIA] Resensi Film: MONA LISA SMILE



Judul : Mona Lisa Smile
Tahun : 2004
Produksi : Columbia Pictures & Sony Pictures Entertainment
Produser : Elaine Goldsmith; Thomas Paul Schiff; Deborah Schindler
Sutradara : Mike Newell
Pemain : Julia Roberts; Kirsten Dunst; Julia Stiles; Maggie Gylenhaal


Latar belakang cerita ini berdasarkan pada tahun 1953, di mana pembakuan peran gender (masih) sangat ketat dipegang. Seperti sudah dimulai oleh pendahulu mereka dalam abad 18, dalam masa ini jugalah para feminis liberal telah memulai gerakannya. Feminisme liberal sedikit poly ditentukan sang pemikiran liberalisme dan modernisme yg menekankan kebebasan individual. Para pemikir & aktivis yg tergolong dalam feminisme gelombang ini melihat adanya kebijakan yang tidak adil, dengan adanya disparitas kesempatan serta hak antara wanita dan laki-laki . Pendidikan yg mengembangkan rasionalitas hanya diberikan pada laki-laki , di mana intelektual pria dipercaya superior & pekerjaan perempuan ?Hanyalah? Sebagai istri & mak ? Dan dipercaya nir penting.


Katherine Watson, tokoh yang diperankan oleh Julia Robert ini mewakili feminis liberal abad 20 yg menginginkan perubahan lebih baik bagi wanita, lewat pendidikan. Sebagai seorang guru sejarah seni, Katherine tiba ke Wellsley College, sebuah sekolah khusus perempuan yang populer sangat konvensional, buat menciptakan perubahan! Pemikiran, gaya hayati, pendekatan dan cara mengajarnya yg di luar pakem menantang institusi & segenap penghuninya buat melihat melampaui apa yg dibayangkan dan dikonstruksikan selama ini. Sekolah yang reputasinya populer dan dipercaya sukses karena berhasil mendidik anak-anak perempuan menjadi istri yg baik ini, terguncang menggunakan adanya sebuah pemikiran dan pendidikan ?Cara lain ?, yang coba diusung dan diwakili oleh sosok Katherine ini.


Keluar dari konstruksi sosial dan memilih pilihan secara bebas dan kritis memang tidak semudah membalikkan tangan. Menjadi pendobrak & motivator bagi proses perubahan ini lebih tidak mudah lagi. Pergulatan seseorang Katherine Watson dalam mewujudkan idealismenya mendapat tantangan & pengkayaan lewat pertemuannya dengan anak didik-anak didik perempuan . Sebuah tawaran yg bagi sekelompok orang dipercaya membebaskan dan adil, mungkin ditanggapi menjadi ancaman sang mereka yg terlanjur diuntungkan dalam sistem seks/gender yg melenakan & sudah menghegemoni ini.


Film ini menyuguhkan kisah relatif menarik, serta didukung sang para seniman yang bermain cukup bagus, walaupun dengan bumbu-bumbu yang khas Hollywood, tetapi kiranya tetap layak buat kita tonton. Nampaknya gosip & perjuangan para feminis liberal semenjak abad 18 & berkembang hingga abad 20 ini masih relevan pada kehidupan kita. Perjuangan para feminis gelombang pertama ini nampaknya belum kunjung usia & terwujud sinkron cita-cita. Lewat film ini kita sanggup lebih mengenal sebagian pemikiran & perjuangan feminis liberal abad-20. Sedikit banyak, kita jadi teringat jua menggunakan tokoh wanita kita, yg masuk dalam golongan ini, yaitu RA.Kartini. Mungkin film ini mampu ditonton & direfleksikan pada rangka merayakan hari Kartini, sebagai ganti lomba kebaya & merangkai bunga! (intan)


















Cloud Hosting Indonesia