Sabtu, 18 Juli 2020

[Profil] Putu Oka Sukanta Progresif dengan Kesehatan Alternatif

Profil Proaktif kali ini mengangkat tokoh yang nir asing lagi. Putu Oka Sukanta, sosok yg lebih populer di luar negeri lantaran karya sastranya daripada pada dalam negeri. Terkait menggunakan kesehatan alternatif, ketika ini dia sedang menuntaskan buku ?Akupresur Tangan yang Aman dan Bermanfaat.?
Sejak kecil beliau terbiasa hidup di antara masyarakat miskin, petani, nelayan dan perempuan pekerja. Ayah dan ibunya, petani yang buta huruf beserta Bude-nya, memberikan contoh keseharian bagaimana menghormati manusia lain, terutama yang lebih miskin. Salah satu hasil dari nilai yang ditanamkan oleh ketiga sosok yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya adalah Taman Sringanis. Lelaki kelahiran Singaraja, 29 Juli 1939 ini merupakan penggagas Taman Sringanis yang terletak di Bogor. Dari sebidang tanah yang dibeli berkat uang warisan orang tua, dibentuklah tempat yang dibuka untuk umum. Di sini publik dapat belajar berbagai jenis penguatan diri di berbagai bidang kehidupan yang tidak menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk menghormati orang tua beliau yang berasal dari Bali maka diberilah nama kegiatan dan tempat tersebut Taman (nama ibu Ni Ketut Taman) dan Sringanis (nama kakak perempuan ibu yang tidak menikah, Ni Ketut Sringanis).

Asam garam telah mewarnai bepergian hidupnya. Pada tahun 1968, beliau pada penjara terkait dengan gosip G30SPKI. Di penjara Salemba, dia ditempatkan satu sel menggunakan seseorang dokter bernama Lie Tjwan Sen yang mengusut akupunktur di Korea Utara. Dokter inilah yang pertama kali mengenalkan dunia akupunktur kepadanya. Dengan segala keterbatasan yg ada di penjara, keduanya berusaha menaruh & mendapat ilmu sebaik-baiknya. Tidak ada catatan karena tidak terdapat buku ataupun indera tulis. Semua falsafah, teori dasar dan cerita mengenai akunpunktur berpindah berdasarkan otak oleh pengajar ke otak sang anak didik. Keterbatasan jarum diganti menggunakan bisnis membuat jarum menurut senar gitar no. 5. Praktek langsung dilakukan sembunyi-sembunyi agar nir ketahuan petugas. Para tahanan yg sakit menjadi pasiennya & jumlahnya poly.
Setelah keluar menurut penjara Salemba ke penjara seluas tanah air pada tahun 1976, Pak Putu memperdalam akupunktur dan mengikuti ujian pembakuan yg diselenggarakan Dinas Kesehatan dalam tahun 1978. Pada tahun yang sama, Pak Putu meminta izin praktek dan berakibat akupunktur sebagai asal kehidupan. Dua tahun lalu, Pak Putu menggandeng beberapa akupunkturis Tionghoa buat membuka klinik dan menampung poly bekas tahanan yang sudah lulus ujian negara akupunktur & memperoleh izin praktek.
Di awal tahun 80-an, Pak Putu telah dikenal oleh warga internasional. Beliau dipanggil ke Bangladesh & Srilanka buat mengajari akupresur dalam peserta training. Tak hanya pada peserta pelatihan, Pak Putu juga masuk ke desa-desa buat mengajari akupresur buat para petani di sana. Kegiatan misalnya ini berlanjut sepulangnya ke Indonesia. Tahun 1984, Pak Putu menyebarkan training akupresur buat kader-kader kesehatan (PKK) menggunakan sepengetahuan Dinas Kesehatan. Namun di tahun 1989, Orde Baru yg dimotori sang Golkar & militer menggulung yayasan Pak Putu menggunakan alasan menampung terlalu banyak bekas tahanan.
Pak Putu mengalami tahanan lagi, digebuki & disetrum lantaran seringkali ke luar negeri tanpa izin dan dianggap mengembangkan metode komunis. Beliau dituduh dibiayai oleh gerakan komunis bawah tanah buat melakukan bepergian. Pada awalnya beliau menempatkan praktik akupunktur sebagai mata pencaharian, namun peristiwa penahanan kedua mengubahnya. Sejak itu dia secara konsisten menghadapi & melawan apa yg dianggap subordinat & stigmatisasi. Akupunktur dijadikannya media perjuangan untuk menandakan bahwa terdapat ilmu kesehatan lain selain ilmu kesehatan modern. Dan ilmu non kedokteran modern ini bisa menjadi media pemberdayaan bagi setiap orang. Dalam teori akupresur, setiap orang tidak cepat-cepat menyerahkan dirinya ke pelayanan pengobatan, melainkan mencoba kemampuan dirinya terlebih dahulu, dengan mengaktifkan potensi yg ada di dalam tubuhnya.
Beliau ingin mengubah stigma bahwa tidak ada ilmu kesehatan lain selain ilmu kedokteran. Pak Putu ingin menghentikan pemberangusan budaya & tradisi berkesehatan rakyat yg menuduh pengobatan tradisonal itu tidak ilmiah & tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Yang Pak Putu inginkan merupakan pengobatan tradional bisa berkembang secara wajar sehingga dapat membuktikan dirinya menjadi ilmu kesehatan yang mempunyai cara berpikir sendiri (baik itu terminologi, falsafah juga paradigmanya). Dengan demikian, pengobatan tradional bisa terintegrasikan pada pelayanan kesehatan, tidak diposisikan sebagai pengobatan komplementer semata. Biarlah semua obat kimia kedokteran & tradional terintegrasi dalam sebuah atap pelayanan, berjalan harmonis dengan mengetahui keterbatasan masing-masing. Untuk mewujudkan keinginannya, Pak Putu masih tak jarang memperbanyak kajian, menciptakan pendidikan secara teratur & bersiklus dan mempraktekkannya, termasuk pada Taman Sringanis.
Beliau membuka pelayanan akupunktur dan herbal di klinik pribadi selama 3 hari per minggu. Namun, akupunktur adalah profesi yang beliau kembangkan ke masyarakat. Tidak hanya mengobati, beliau juga mengajarkan cara-cara akunpunktur kepada publik. Berbekal pengalaman (tradisi) dan ilmu yang diperoleh secara otodidak dan learning by doing, beliau bersama istri yang tadinya penari kemudian beralih profesi menjadi akupunkturis dan herbalis.
Sejak tahun lalu, Pak Putu Oka Sukanta menjadi Direktur Program Komplementer untuk HIV/AIDS, sebagai bagian dari program Care, Support and Treatment, yang didukung oleh IHPCP/Aus AID. Kegiatannya adalah memberikan informasi, latihan dan terapi dengan cara akupresur, olah napas dan meditasi serta minuman sehat (jamu enak) kepada orang-orang yang terinfeksi HIV di Rumah Sakit Sulianti Saroso Jakarta, Penjara Bulak Kapal Bekasi, Penjara Paledang Bogor, dan Puskesmas Balimester Jakarta, serta menerbitkan buletin KOMPLEMENTER.
Sehat menurutnya adalah sebuah manifestasi terbentuknya ekuilibrium (harmoni) nisbi antara semua nilai kehidupan, baik itu fisik, mental, spiritual dan lingkungan.
Menurut Pak Putu, kendala yang sering dihadapi para aktivis adalah susahnya berkata tidak terhadap pekerjaan dan tantangan yang ada. Akibatnya, banyak aktivis sering mengalami kenaikan tekanan darah sering, nafas pendek dan emosional.
Menurut beliau, hambatan tersebut bisa diatasi dengan berdamai dengan diri sendiri, serta menyadari keterbatasan kemampuan, ruang dan saat. Selain itu, mengatur pola makan & minum yang lebih sehat, berolah raga, beristirahat lebih banyak dan berani mengatakan TIDAK menggunakan santun & hormat terhadap hal-hal yg diperkirakan akan membuat kondisi kesehatan terganggu.
Beliau melihat bahwa banyak sekali aktivis yang berpikiran maju, bersemangat tinggi, dan punya wawasan politik luas; tetapi sayang, dalam bidang kesehatan mereka masih lebih banyak berorientasi (bahkan ada yang bergantung total) kepada pelayanan kesehatan modern (industri kedokteran dan industri farmasi). Kesehatan tidak dirawat sebagaimana merawat organisasi dan programnya. Para aktivis sering lupa bahwa mereka mempunyai potensi diri dan alam yang dapat dijadikan pendukung,- alternatif perawatan kesehatan. Lupa punya sinar matahari pagi, lupa punya udara segar (oksigen), lupa punya bumbu dapur, lupa punya berbagai jenis buah dan sayuran dalam negeri, lupa punya jari tangan yang dapat difungsikan untuk kesehatan. Komentar guyonan beliau tentang para aktivis itu adalah; “Politik progresif, tapi kesehatan konservatif bahkan reaksioner”.
Tetapi Pak Putu tidak hanya berseloroh. Beliau beropini bahwa hal tersebut memang terjadi karena selama ini kita terkooptasi pada asumsi bahwa hanya ada satu ilmu kesehatan yaitu ilmu kedokteran terbaru. Pandangan seperti ini merupakan pengaruh dari agresi industrialisme dalam bidang kesehatan yang sudah berlangsung semenjak zaman penjajahan Belanda. ?Ilmu kedokteran terbaru memiliki keunggulan yang harus dibayar dengan uang poly, tetapi terdapat ilmu kesehatan non kedokteran terbaru (non konvensional) yg belum diaktualisasikan & dioptimalkan pemanfaatannya?, ungkapnya.
Beliau mengajar kita semua untuk menyadari hak dan kewajiban kita dalam membina kesehatan diri sendiri dan masyarakat. Caranya yaitu dengan mempelajari ilmu-ilmu kesehatan non konvensional dan memilih mana yang paling mungkin dilakukan, artinya aman, bermanfaat, rasional, mudah dilakukan, tersedia cukup banyak dan harganya terjangkau.
Beliau juga membagikan tips-tips bagi para aktivis agar tetap sehat dan prima untuk membuat perubahan, di antaranya:

Olah napas: Tarik napas dalam-dalam, simpan di dalam tubuh (bisa di paru-paru, di perut atau bagian tubuh lainnya) sekuatnya (sampai setengah menit), kemudian keluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Lakukan di mana saja, kapan saja dan berulangkali. Maknanya: penyerapan oksigen lebih banyak bisa sampai 80% untuk memperkuat Natural Killer di dalam tubuh.


Makanan dan minuman sehat: hindarkan zat penyedap, zat pengawet dan zat pewarna, nikotin. Jadikan makanan dan minuman sebagai obat, dan obat sebagai makanan dan minuman.
Jari-jari tangan: gunakan untuk memijat titik-titik penting di permukaan tubuh sesuai dengan teori akupresur.
Berpikir positif: perbedaan adalah kekuatan, dan kesetaraan adalah dasar hidup bermitra.
***
(Ditulis menurut wawancara via email oleh Hilda Lionata)























Cloud Hosting Indonesia