Jumat, 24 Juli 2020

[Profil] Budhis Utami : Pluralisme Bagi Seorang Feminis

Kota besar yg penuh sesak misalnya Jakarta sesungguhnya adalah pilihan terakhir bagi gadis kelahiran Jember ini. Keterlibatan pada kegiatan kemasyarakatan seperti GMNI dan Organisasi Perempuan sudah dijalani sang seseorang Budhis Utami semenjak di bangku kuliah.
Merasa tertantang sang tawaran seseorang teman buat bekerja di Komisi Migran KWI, dia akhirnya memutuskan buat tiba ke Jakarta.

Ketertarikannya yg besar terhadap duduk perkara-problem yg dihadapi perempuan , membuatnya tidak bisa tanggal menurut rekan-rekannya yg berkecimpung di Organisasi Perempuan.

Setelah bekerja kurang lebih satu tahun di KWI, dalam bulan April 2001 beliau memilih buat bergabung menggunakan Organisasi Perempuan yaitu Kapal Perempuan yg kebetulan waktu itu masih baru. Di loka itulah beliau merasa aktivitasnya lebih menarik, aktif, & bergerak maju. Di sana juga lah dia menemukan bidang garap yg menjadi ketertarikannya, yakni wanita dan pendidikan. Kini ia bertanggung jawab menjadi Koordinator Program Orientasi Pendidikan Alternatif pada Kapal Perempuan.

Sejak awal didirikan, Kapal Perempuan mempunyai concern terhadap gosip wanita, pendidikan cara lain atau pendidikan kritis & pluralisme. Ketiganya itu bukan hal yg terpisah. Dalam aktivitas yg dilaksanakannya, Kapal Perempuan mencoba mengcover ketiga hal tersebut.
Dasar pendirian Kapal Perempuan itu sendiri berangkat menurut keprihatinan terhadap persoalan-duduk perkara yang terjadi di Indonesia, terutama selesainya runtuhnya Soeharto, kemudian adanya penerapan swatantra daerah, dan semakin banyaknya pertarungan yg diakibatkan oleh menguatnya primordialisme agama & suku.


Dalam kondisi-syarat itu sering posisi perempuan semakin terpuruk. Dalam konteks pluralisme, entah itu isunya kepercayaan ataupun suku sering wanita dijadikan sekedar simbol buat mencapai tujuan. Kalau suatu wilayah ingin menguatkan grup keagamaannya, maka kaum wanita lah yg pertama kali harus diatur., misalkan pada penerapan Syariah Islam. Kemudian dalam konflik-konflik itu, wanita juga seringkali dipakai menjadi simbol buat menghancurkan atau menjatuhkan kelompok versus, misalnya dengan perkosaan-perkosaan.


Menanggapi hal itu, Kapal Perempuan membuat Pendidikan Pluralisme buat pencegahan perseteruan & upaya perdamaian. Kapal Perempuan melihat bahwa wanita jua mempunyai potensi buat sebagai juru hening atau rekonsiliator pada pertarungan-perseteruan yg terjadi.


Sebagai langsung, pluralisme bukanlah hal yg asing bagi Budhis. Perjalanan pada mencari keyakinannya adalah suatu pengalaman tersendiri tentang suatu pluralitas. Demikian juga dalam menentukan organisasi & kegiatan yang dijalani, Ia pun mempertimbangkan pluralitas menjadi suatu hal yang wajib diterima bahkan menjadi suatu seruan buat mau terbuka pada orang atau kelompok yang tidak sinkron.


Ia memaknai pluralisme menjadi keterbukaan diri bagi orang-orang yg tidak sinkron atau suatu penghargaan terhadap disparitas yg dimiliki sang orang lain. Baginya pluralisme itu sendiri bukan hanya disparitas agama, tetapi jua cara pandang, jenis kelamin, ideologi, bahkan orientasi seksual yang tidak sinkron.


Dalam proses hubungan yang yg plural, memang perlu adanya penghargaan terhadap perbedaan nilai yang terdapat. Namun berdasarkan Budhis, itu tidak berarti bahwa kita berhenti buat mengkritisi persoalan yang ada di dalamnya. Penghargaan yg diberikan terhadap perbedaan itu harus mempunyai dasar nilai eksklusif. Apabila pada dalamnya ada nilai-nilai kekerasan atau ketidakadilan, maka kita perlu mempertanyakan itu.


Untuk mencapai suatu rakyat yang penuh penghargaan tetapi tetap kritis, dibutuhkan suatu ruang obrolan. Bisa jadi disparitas pandangan tentang suatu hal itu terjadi lantaran suatu asumsi tertentu. Memang dialog itu nir harus dalam bentuk yg formal.
Berbagai hambatan dalam upayanya memperjuangkan pluralisme, dianggapnya menjadi tantangan. Pandangan bahwa keberagaman menjadi sesuatu yang latif membuatnya terus memperjuangkan pluralisme. Kenangan akan perjuangan & pengorbanan Sang Ibu dan keluarganya selalu sebagai spirit baginya buat melakukan sesuatu bagi orang lain.


























Cloud Hosting Indonesia