Sabtu, 25 Juli 2020

[Pikir] Pluralisme, Sekarang dan Esok

Dalam rubrik catatan pinggir Tempo edisi 6 Maret 1982, Goenawan Mohamad mengulas kisah Nathan karya Gotthold Lessing yg terbit tahun 1779 berjudul Nathan der Weise, yg setidaknya telah menaruh citra bahwa memiliki pandangan yang tidak sinkron & penghargaan dalam keanekaragaman, merupakan perilaku yg penuh resiko.

Latar belakang pada karya tadi merupakan masa perang salib yg sudah memasuki gelombang keempat, di mana konflik antara mereka yg Nasrani dan Islam, bahkan Yahudi masih terus berkobar.

Ada dialog yg menarik pada karya itu ketika Saladin, Gubernur Yerusalem yg Islam dan populer berbudi, bertanya kepada Nathan yg Yahudi dan populer bijak. Saladin menanyakan apa kepercayaan yg terbaik bagi Nathan. Pertanyaan itu tidak dijawab eksklusif oleh Nathan, tapi melalui ibarat. Ia mengisahkan seseorang ayah yg menyayangi ketiga puteranya & menaruh mereka masing-masing cincin yang sebentuk dan sebangun. Masalah ada waktu oleh ayah mangkat , karena ketiga putra tersebut berdebat & berselisih tentang cincin mana yg sejati. Itulah ibarat, terdapat cincin Yudaisme, ada cincin Nasrani, terdapat cincin Islam. Setiap cincin adalah sejati, kata Nathan, sepanjang ia membuat orang yang memakainya punya kemuliaan hati. Dan Saladin puas dengan amsal yg disampaikan Nathan tersebut.

Ceritanya memang tidak berakhir di situ, tapi dari kisah tadi Lessing sudah menyampaikan pesan bahwa yang bijak merupakan yang tidak mengukuhi bahwa pihaknya saja yg paling benar. Lessing setidaknya sudah mewakili mereka yg percaya pada pluralisme, walaupun beliau ditentang keras oleh publik Jerman yg Protestan.


Pluralisme dewasa ini
Pandangan dan penafsiran tentang pluralisme memang sangat beragam, ada yang memandangnya secara positif tapi nir sedikit yg memahaminya secara negatif. Pandangan negatif terhadap pluralisme, khususnya di Indonesia, acapkali disebabkan ketidakmampuan mengelola antara idealitas yg mereka miliki menggunakan empiris yang terdapat. Pluralisme mengandaikan pemahaman dan kesadaran terhadap adanya keragaman kelas sosial, genre politik, budaya, kepercayaan , ras, dan sebagainya menjadi sesuatu yang pasti dan alami. Dengan demikian, perjumpaan antara nilai-nilai yang berbeda dilihat menjadi sesuatu yg positif karena setiap nilai mempunyai kelebihan masing-masing.


Tetapi realitas yang plural & nilai-nilai yang berbeda tersebut selama ini malah menjadi dilema & dijadikan alasan banyak grup atau negara buat berkonflik. Permasalahan ?Kekal? Antara Israel & Palestina, India menggunakan Pakistan, Barat dengan Timur, konflik pada bekas Uni Soviet, tak jarang dilatarbelakangi dan diperuncing sang disparitas nilai-nilai yg dianut. Yang mencoba menjembatani malah diteror dan dibunuh, misalnya yang dialami Gandhi & Yasser Arafat.


Indonesia sebenarnya mampu sebagai medan percontohan bagaimana pluralisme itu tumbuh & hayati. Telah sebagai realitas historis, adanya keragaman budaya, agama, ras, bahasa, aliran politik, dan juga kelas sosial di Indonesia. Tetapi keragaman itu selama ini malah menjadi bahan bakar permasalahan sosial dan politik. Apa yg terjadi di Aceh, Papua, Maluku, dan Poso, menandakan bahwa pluralitas yang ada tidak dipahami menjadi sesuatu yg positif. Untuk hal-hal yg lingkupnya lebih mini sebenarnya perseteruan juga banyak terjadi karena tidak adanya pemahaman dan jua pencerahan terhadap pluralitas, seperti pertarungan pada keluarga, masyarakat kampung, organisasi politik atau organisasi massa, & sebagainya


Pandangan negatif terhadap pluralisme tumbuh subur lantaran mereka mengukuhi bahwa nilai-nilai atau pihaknya saja yg paling sahih & seluruh yg tidak sama dengan mereka merupakan lawan dan harus dikalahkan. Mereka menganggap pluralisme menyembunyikan kedok atas ketidakadilan selama ini & cenderung membenarkan seluruh hal.


Harapan ke depan
Realitas yang plural, nilai-nilai yg hayati yg menghargai terhadap keragaman & sejarah perjumpaan nilai-nilai yg majemuk akan menjadi bekal yang relatif bagi perkembangan pluralisme pada global, khususnya pada negeri ini. Nilai-nilai yg menekankan penghargaan terhadap gerombolan lain yg bersumber berdasarkan ajaran kepercayaan wajib lebih dimunculkan dan dikembangkan daripada nilai-nilai yg bertentangan menggunakan itu. Misalnya pada ajaran Islam, dapat kita jumpai Firman Allah juga sabda Nabi yg menekankan bahwa perbedaan merupakan Rahmat & dengan perbedaan itu seharusnya berakibat manusia saling belajar dan saling kenal.


Sejarah pembentukan Republik ini pula bisa menjadi contoh sekaligus bekal bahwa perbedaan suku, ras, agama, bahasa, genre politik, & kelas sosial nir menjadi penghalang bagi kehidupan beserta sebuah negara. Pendiri Republik ini telah memiliki kesadaran, pemahaman, & perilaku pluralis menggunakan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan yg prosesnya dilalui menggunakan dialog.


Apabila pencerahan akan realitas yg plural tumbuh & pula nilai-nilai yg mengedepankan keragaman dipegang, maka sikap yg pluralis akan ada. Dengan begitu, setidaknya harapan terhadap kehidupan global yang lebih baik, lebih toleran, nir ada lagi luka dan sedih terus-menerus, akan terwujud. (AU)




























Cloud Hosting Indonesia