Selasa, 21 Juli 2020

[Pikir] Dari Alat Tukar menjadi Alat Kekuasaan Menelusuri evolusi makna dan peran uang dalam kehidupan

Apakah anda kenal menggunakan gurauan mengenai mengapa orang Jawa tidak mampu kaya seperti orang Cina Perantauan ?[1]
Katanya, itu karena kalau orang Jawa ke luar tempat tinggal dengan maksud mencari penghidupan, mereka bilang, "Mau cari kerjadanquot; sedangkan orang Cina Perantauan bilang, "Mau cari uangdanquot;. Jadilah orang Jawa memang mendapatkan pekerjaan misalnya yang diinginkan, bukannya uang, sehingga mereka selalu miskin.
Gurauan ini sebenarnya mencerminkan paradoksal antara budaya agraris yg bergantung/berorientasi pada alam dan budaya yang bergantung/berorientasi dalam uang. Seberapa dalamkah makna perbedaan ini bagi kehidupan kita, bahkan bagi masa depan umat insan ke depan ?
Di dunia terbaru sekarang ini, sadar atau nir sadar, banyak berdasarkan kita yang mencicipi kontradiksi berdasarkan 2 model pemaknaan akan uang.

Di sekolah kita diajarkan bahwa uang merupakan indera yang membantu kita mempertukarkan barang atau jasa. Jadi uang adalah indera. Kalau indera tentu ia hanya digunakan sesuai menggunakan kebutuhan. Namun kehidupan sehari-hari justru mengajarkan bahwa uang merupakan 'hampir' segalanya bagi hidup kita. Banyak orang menduga bahwa tanpa uang ia nir mampu hidup. Di sini uang bukan lagi sekedar indera, namun sebagai tujuan hayati kita.
Kita diajarkan bahwa pendidikan bertujuan buat membuatkan manusia seutuhnya dan bermanfaat bagi nusa & bangsa. Tapi pada kenyataannya, poly sarjana merasa bahwa sekolah mereka nir ada keuntungannya (rugi kapital), bila mereka nir berhasil memperoleh banyak uang darinya.
Uang telah memasuki relung-relung terdalam hayati kita. Ia sudah sebagai sebuah sumberdaya yg mendasar yg memilih, apakah kita bisa sembuh menurut suatu penyakit, apakah anak-anak kita sanggup sekolah ataupun rumah misalnya apa yg kita tinggali. Bahkan, ketika ini perceraian lantaran perkara ekonomi (uang) ataupun konflik orang tua & anak karena masalah uang jajan, semakin meningkat. Juga, tidak lagi terlalu mengherankan, jika seseorang diketahui bunuh diri atau membunuh orang lain lantaran urusan uang.
Saya ingin mengajak anda buat sejenak memandang uang menurut perspektif sejarah ini dia. Semoga bisa menaruh sedikit ide buat membantu kita memilih perilaku terhadap uang.

Alat tukar yang mempermudah hayati kita

Pada awalnya uang memang benar-benar sebuah alat untuk mempermudah & mengefisienkan proses tukar menukar. Dan nir seluruh proses tukar menukar memakai uang, cukup sering jua dilakukan proses barter.
Sistem barter memang memiliki beberapa persoalan mudah. Misalnya, suatu hari Pak Ujang ingin makan Ayam goreng. Ia memahami Bu Ratmi memiliki beberapa ekor Ayam. Untuk itu Pak Ujang mengajak Bu Ratmi menukar anak kambingnya menggunakan ayam Bu Ratmi.
Untuk melakukan pertukaran, Pak Ujang dan Bu Ratmi wajib menyepakati nilai barang masing-masing dibandingkan barang yg lain. Setelah berdiskusi keduanya sebenarnya sepaham bahwa anak kambing Pak Ujang, nilainya lima kali Ayam Bu Ratmi. Masalahnya Bu Ratmi hanya punya tiga ekor ayam. Nah lho ? Bingunglah keduanya.
Kemudian Pak Ujang mendapat gagasan baru : ?Bagaimana jika ayam Bu Ratmi ditukar dengan Itik aku ??. Setelah diskusi Bu Ratmi bersikukuh bahwa itik Pak Ujang adalah dua/3 nilai ayammya. Nah lho, gundah lagi mereka. Bagaimana pertukaran dilakukan ?
Ini baru beberapa dilema. Ada problem lagi, misalnya jika Bu Ratmi tidak menginginkan Itik ataupun Kambing. Kasihan benar Pak Ujang. Mau makan ayam goreng saja susahnya minta ampun?
Nah, hidup Bu Ratmi dan Pak Ujang akan lebih gampang dengan menggunakan indera tukar. Alat tukar itu sendiri nir perlu mempunyai nilai dan sanggup berupa apa saja. Bisa saja dipakai batu, rabat kayu, lembaran kertas, kain atau apapun. Yang krusial sekelompok orang yg tak jarang bertukar barang satu sama lain menyepakati penggunaannya.
Dengan menggunakan alat tukar, batu misalnya, Pak Ujang bisa dan Bu Ratmi mampu menyepakati bahwa Ayam bernilai 9 batu & Itik bernilai 6 batu, contohnya. Jadi Pak Ujang bisa mendapatkan seekor Ayam, menggunakan menaruh seekor itik ke Bu Ratmi ditambah 3 butir batu. Atau jika Bu Ratmi tidak menginginkan itik, Pak Ujang mampu saja memberikan 9 butir batu buat menerima Ayam. Bu Ratmi mampu menyimpan batu itu buat nantinya ditukar menggunakan baju yg dijual Pak Amir atau Tomat yang ditanam Bu Encih. Tentu selama semua orang itu juga setuju bahwa batu itu adalah alat tukar yg dapat diterima.
Alat tukar dalam bentuk apapun inilah yg kemudian kita namakan menjadi uang.

Berubahnya Makna Alat Tukar

Berkembangnya pemaknaan terhadap uang dapat kita telusuri dari sejarah kebudayaan di Eropa. Memang, konsep uang seperti yang kita pahami kini , mula-mula berkembang di Eropa, & kemudian menyebar ke semua dunia melalui kolonialisme.

Berkembangnya Perdagangan dan kaum bangsawan

Titik balik krusial pertama dalam pemaknaan akan uang adalah berkembangnya perdagangan dan kaum pedagang, terutama setelah emas dan logam mulia lainnya semakin luas diterima sebagai alat tukar. Kaum pedagang menemukan bahwa mereka dapat menumpuk banyak emas dengan kemampuan mereka mempermainkan nilai tukar barang (bahasa awamnya --> tawar menawar).
Meluasnya penggunaan alat tukar memberikan kebebasan lebih besar bagi para pedagang buat memainkan nilai tukar. Berbeda menggunakan barter, transaksi melalui uang nir melibatkan suatu barang secara fisik. Nilai suatu barang tidak ditinjau lagi nisbi terhadap benda lain (yg dipertukarkan), namun dalam dasarnya berdasarkan kesepakatan antara penjual & pembeli. Artinya si pembeli atau penjual dapat memanfaatkan permainan psikologis atau permainan apapun buat merekayasa nilai suatu barang. Emas sudah mulai membuka jalan kebebasan bertransaksi (baca : rekayasa nilai), secara luar biasa.
Selain itu menggunakan semakin meluasnya penggunaan emas menjadi alat tukar, para pedagang menemukan bahwa, menggunakan emas/perak mereka dapat memperoleh hampir apa saja yg mereka mau, berdagang menggunakan siapa saja, kapan saja dan pada mana saja. Kesempatan bagi mereka buat menaikkan kekayaan semakin terbuka. Ini tentu terkait pula menggunakan kemampuan mereka pada tawar menawar.
Tahun 1600-1700 merupakan puncak kejayaan kaum saudagar di Eropa. Kaum saudagar menemukan bahwa melalui emas-perak mereka dapat menumpuk kekayaan material & kekuasaan dengan jauh lebih cepat dan efisien daripada para tuan tanah. Ini membuat kelas pedagang mendapatkan posisi politik & ekonomi yg sangat bertenaga.
Inilah yang kemudian ini memicu diadopsinya budaya perdagangan oleh para penguasa politik waktu itu (raja-raja). Muncullah ajaran bullionisme, bahwa kemakmuran suatu negara ditentukan oleh jumlah emas dan perak yang dimilikinya. Inilah pandangan sentral dari Merkantilisme, yang didefinisikan sebagai "suatu sistem intervensi pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran nasional dan menambah kekuasaan negara ... Untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam pundi-pundi raja, yang memungkinkannya membangun armada laut, mempersenjatai tentara dan menjadikan pemerintahannya ditakuti dan dihormati di seluruh dunia."
Munculnya kesepakatan yg semakin meluas akan logam-logam mulia menjadi alat tukar, memang sangat memungkinkan penumpukan uang menjadi sarana buat memperluas kekuasaan. Dengan memiliki banyak emas, anda bisa memperoleh apapun, berdasarkan manapun. Tentu saja termasuk buat membeli senjata.

Sinergi filsafat materialisme hedonis dan uang

Berkembang pesatnya kegiatan perdagangan & kaum bangsawan, didorong sang berkembangnya pandangan materialisme, mekanisme dan hedonisme yang dikembangkan oleh Thomas Hobbes. Di mana Hobbes memperoleh argumentasinya berdasarkan pandangan materialistik dan mekanistik menurut revolusi ilmu pengetahuan yg terkait menggunakan nama-nama terkenal misalnya Copernicus & Newton.
Berdasarkan pandangan materlialistik dan mekanistik, Hobbes menyatakan bahwa insan adalah mesin yang digerakkan rasa suka dan rasa tidak senang individual. Dan itu seluruh adalah empiris objektif yg netral, buruk dan tidak buruk, sebagaimana pergerakan bintang-bintang pada langit atau benda yang jatuh ke bawah. Lantaran itu, adalah absah-absah saja & alami jika seorang mengejar kesenangan pribadi. Inilah dasar berdasarkan padangan hedonisme Hobbes.
Pandangan Hedonisme Materialistik ini membuka jalan pembenaran bagi bisnis penumpukan kekayaan. Menumpuk kekayaan merupakan absah lantaran tujuannya adalah mencari kesenangan langsung. Tanggung jawab moral menjadi tidak relevan lagi, karena tidak memiliki dasar objektif konkret. Tindakan mencari kesenangan itu sinkron menggunakan gerak alam, yg buruk dan tidak tidak baik. Rasa bersalah itu tidak konkret & hanya delusi.
Selanjutnya, alat tukar, misalnya emas & bentuk uang lainnya, membuka jalan bagi penumpukan kekayaan yang paling efisien. Selain mempermudah proses rekayasa nilai, emas jua membebaskan upaya penumpukan kekayaan menurut batas-batas fisik. Kekayaan tidak lagi terlihat sebagai tanah berhektar-hektar, yang semakin luas semakin, sulit jua dikontrol. Namun cukup dengan mempunyai gudang-gudang yg lebih gampang diawasi karena memakan loka jauh lebih mini . Jadi, daripada menumpuk kekayaan yg riil, kenapa kita tidak menumpuk indera tukarnya saja ?
Ini secara revolusioner membuka perspektif baru pada nafsu penumpukan kekayaan yang tidak terhingga. Semakin akbar uang yang dimiliki, semakin akbar juga kebebasan buat mendapatkan apapun pada dunia ini. Terciptalah jalan yang lebar dan tak berujung bagi pelampiasan nafsu hura-hura materialistik. Sebagian pakar beranggapan bahwa dalam prakteknya filsafat Hedonisme Hobbes lah yang berpengaruh paling akbar pada ekonomi terbaru daripada teori Adam Smith atau Marx.
Materalisme, prosedur & Hedonisme
Pandangan materialisme adalah salah satu pandangan penting yang mendorong terjadinya jaman pencerahan, di dunia barat. Yaitu jaman yang ditandai dengan bebasnya masyarakat dari dominasi agama dalam kehidupan[2].
Padangan materialisme ini dimulai dengan revolusi pada dunia ilmiah, sang para filsuf terkenal misalnya Copernicus dan Newton. Mereka menyusun teori, yang lalu mendapatkan bukti empiris, bahwa gerakan benda langit dan poly kenyataan lain pada bumi bisa diramalkan melalui perhitungan matematis. Ini lalu memunculkan pandangan bahwa seluruh kenyataan alam pada bumi ini diatur oleh hukum-hukum alam & bukannya sang ?Kehendak Allah?. Kalaupun ada Allah, dia hanya berperan dalam membentuk hukum-hukum alam itu saja. Inilah dasar dari pandangan mekanisme.
Pandangan ini kemudian diambil oleh para filsuf lainnya misalnya John Locke, yg keliru satunya menyatakan bahwa hanya rasio manusialah asal kebenaran. Kebenaran wajib dapat dicermati langsung secara fisik, yg lain merupakan delusi, tidak nyata. Inilah dasar menurut materialisme.
Pandangan ini secara revolusioner melucuti kiprah wahyu Allah sebagai acuan kebenaran. Ungkapan pada kitab kudus yg menyatakan bahwa Allah membentuk bumi ini seluruh itu baik adanya, diganti sebagai pandangan bahwa alam diatur sang aturan-hukum abadi yg netral, tidak baik & tidak jelek.
Lalu, kalau begitu bagaimana menggunakan insan ? Manusiapun dipercaya menjadi mesin yang diatur oleh hukum-aturan alam, yg terjadi begitu saja dan buruk atau nir jelek.
Lalu pada mana posisi kehendak, kesadaran atau moralitas ? Jawabannya merupakan semua itu nir terdapat lagi. Yang ada merupakan gerakan otak yg berjalan secara spontan. Hukum alam yang dianggap mengatur jalannya mesin manusia ini, sebagaimana diungkapkan Thomas Hobbes[3], merupakan rasa senang & tidak senang langsung. Tidak ada ukuran tentang baik dan tidak baik. Yang baik hanyalah apa yang menaruh kesenangan dan yg jelek adalah yg mengakibatkan penderitaan. Inilah dasar berdasarkan filsafat hedonisme yang menerima pembenaran baru dari materialisme dan prosedur[4].

Kolonialisme & Ekspansi Penggunaan Uang

Lepasnya batas-batas fisik terhadap nafsu menumpuk kekayaan yg bertransformasi menjadi nafsu menumpuk uang, mendorong terjadinya kolonialisme. Mula-mula sekali, para pedaganglah yg bertualang ke aneka macam penjuru global mencari barang yg mampu diperdagangkan. Misalnya, yg datang pertama kali ke Indonesia, bukanlah pemerintah Belanda tetapi VOC.
Mereka tidak terlalu pusing menggunakan memperluas wilayah kekuasaan. Kepentingan primer para pedagang merupakan mencari barang dagangan baru, yang bisa diperdagangkan. Atau, tepatnya barang yg dapat dikonversi menjadi uang (emas) buat terus mengisi pundi-pundinya. Dan, semakin langka atau sukar diperoleh suatu barang semakin mahal harganya.
Tetapi, kemudian muncul kesulitan teknis. Bagaimana mendapatkan barang-barang di daerah-daerah yg sudah dikuasai oleh penduduk asli itu ?
Mula-mula, mereka mencoba melakukan barter menggunakan membawa barang-barang menurut Eropa. Tetapi, nir poly barang berdasarkan Eropa yg diperlukan penduduk asli. Misalnya, mereka nir membutuhkan perhiasan & mempunyai persepsi nilai yang tidak sinkron pula. Lagipula, karena ekonomi penduduk asli lebih mementingkan nilai kesukuan dan korelasi, mereka tidak punya motivasi besar buat bertransaksi menggunakan orang asing.
Singkat cerita, setelah menerapkan poly taktik, termasuk menjual minuman keras, para pedagang mulai bermain ?Kasar?. Mereka berkolaborasi menggunakan negara untuk memanfaatkan kekuatan militernya. Ini merupakan salah satu awal permainan politik para pedagang, yang masih berlaku sampai kini .
Sekali lagi, memperluas wilayah kekuasaan, bukanlah hal yang penting bagi para pedagang. Tujuan mereka sebenarnya adalah : Dengan membuat suatu daerah menjadi wilayah jajahan suatu negara, maka mereka bisa memaksakan penduduk asli buat memakai alat tukar mereka. Caranya, menggunakan mewajibkan penduduk asli membayar pajak pada bentuk mata uang yg mereka keluarkan dan kendalikan.
Ini merupakan cara yg sangat jitu. Posisi ketua desa sebagai turun tingkatannya menurut menjadi pemimpin warga , sebagai sekedar pengumpul pajak warga . Orang desa harus melakukan aneka macam cara untuk mendapatkan uang. Mereka keluar kampung bekerja pada perkebunan-perkebunan penjajah. Dengan demikian, hubungan relasi hancur & perlahan diganti menggunakan interaksi pasar & kebergantungan pada pemilik uang.
Inilah kisah yg jarang terungkap tentang kolonialisme. Namun sangat penting peranannya bagi berkembangnya penggunaan uang & kebergantungan pada uang, yg kita rasakan pada dunia sekarang ini.

Ekonomi uang di jaman modern

Kolonialisme dan meluasnya penggunaan uang telah membentuk dunia yang sekarang kita hidupi. Kebergantungan kita pada uang bukanlah hasil dari proses alami, tetapi hasil dari move politik kaum pedagang yang mengeksploitasi sifat uang demi kepentingan mereka. Dan, sejak jaman kolonialisme negara sudah di dalam genggaman mereka, baik itu negara penjajah maupun negera yang terjajah.
Yang terjadi selanjutnya adalah semakin intensifnya proses integrasi uang dalam berbagai aspek kehidupan. Dan tentu saja, posisi politik para pedagang semakin kuat & permainan politik mereka semakin intensif & canggih. Pandangan neoliberal adalah pandangan politik ekonomi yang dikembangkan untuk semakin menginternalisasikan uang & aktivitas perdagangan dalam kehidupan politik. Yang tentu saja, akan semakin memperkuat posisi para pedagang.

Revolusi Industri & Munculnya kelas investor : Tuan Uang

Keberhasilan kaum pedagang pada memanfaatkan meluasnya penggunaan uang & kemampuan khusus mereka dalam merekayasa nilai barang, memungkinkan mereka mengakumulasi uang dalam jumlah melimpah. Menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana cara yg paling efektif buat meningkatkan kekayaan dengan memanfaatkan aset uang mereka yang melimpah itu. Adakah cara lain yg lebih ?Menyenangkan? Selain berdasarkan sebagai pedagang ?
Berkembangnya revolusi Industri menaruh peluang kegiatan ekonomi baru. Tetapi sebenarnya para pedagang tidak mempunyai minat tinggi buat membuat & mengelola suatu pabrik. Kegiatan ini terlalu dikotori sang oli mesin & para buruh yg bau & jorok.
Nah, jikalau tuan tanah dulu menyewakan tanah mereka, kemudian tinggal ongkang-ongkang kaki hayati glamor dari hasil bumi, kenapa kita tidak sanggup menyewakan uang & selanjutnya tinggal ongkang-ongkang kaki jua?
Mulailah para pemilik uang meminjamkan uang pada para wirausaha, suatu aktivitas yg lalu kita sebut menggunakan investasi. Meminjam & membungakan uang bukanlah aktivitas yg baru dalam sejarah insan. Namun, investasi melalui industri menjanjikan laba yg lebih besar tanpa kegiatan berdagang yang melelahkan. Cukup menggunakan memanfaatkan kekuatan uang yg mereka miliki, mereka dapat menguasai dalam pengusaha, yg selanjutnya akan membentuk uang poly bagi mereka, tanpa harus berpeluh & berkonflik dengan para buruh.
Dengan demikian, muncullah kelas baru pada warga yaitu para investor, yg mampu saja kita sebut sebagai Tuan Uang karena mereka hayati berdasarkan menyewakan uang.

Lembaga-forum uang : Money Inc.

Akhir abad 19 & abad 20, ditandai menggunakan berkembangnya banyak sekali bentuk lembaga keuangan.
Pemerintah, perlahan-perlahan bertransformasi menjadi lembaga pengelola uang. Persoalan moneter semakin sebagai pekerjaan yang menghabiskan saat pemerintah. Sampai-sampai ketika ini posisi menteri keuangan dan Bank Sentral sanggup sebagai lebih bertenaga dibandingkan presiden. Apalagi jika dibandingkan menggunakan menteri-menteri lain seperti menteri kesehatan, lingkungan, pendidikan, kebudayaan. Lihat saja pengaruh Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika.
Aktivitas investasi memunculkan Bank sebagai lembaga yg spesifik mengurus peminjaman uang buat investasi. Lembaga ini membuka jalan petualangan yang baru bagi para pedagang, yaitu menumpuk lebih banyak uang menggunakan memperjualbelikan uang yg sudah mereka miliki.
Di atas seluruh itu, ada pula lembaga baru yang membuat ekonomi berbasis uang menjadi semakin secara umum dikuasai dan semakin militan, yaitu perusahaan terbuka. Perusahaan terbuka dimiliki sang para investor yang menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Ini adalah perkembangan lebih lanjut berdasarkan apa yg telah terjadi dari masa revolusi industri.
Saat ini semua perusahaan memiliki struktur dasar yang sama, yaitu terdiri menurut pemilik dan manajemen. Namun, tidak sinkron dengan perusahaan perorangan maupun famili, hubungan antara manajemen menggunakan menggunakan investor hanyalah terkait menggunakan penumpukan modal. Tidak ada keterkaitan personal.
Nihilnya keterkaitan personal antara pemilik & perusahaan semakin diperkuat dengan berkembangnya pasar modal. Melalui pasar modal, kepemilikan seseorang terhadap perusahaan bersifat ad interim. Tepatnya, selama penanam modal masih menerima laba. Bila sebuah perusahaan tidak lagi menguntungkan, modal akan ditarik segera.
Bangkrutnya sebuah perusahaan tidak dipedulikan investor, yang penting uangnya selamat. Investor juga biasanya tidak peduli bagaimana cara perusahaan mencari uang, yang penting untung. Sekali lagi, ini merupakan perwujudan dari filsafat materialisme Hobbes. Don’t take it personally man ! Welcome to the money world !
Terciptalah sebuah lembaga dengan satu tujuan, menghasilkan laba. Manajemen perusahaan selalu menghadapi tekanan buat tidak saja mencegah kerugian, tetapi menaikkan keuntungan dari tahun ke tahun. Kalau tidak, mereka akan kehilangan pekerjaan. Begitulah, para pengusaha & manajer perusahaan, orang-orang yg harus berpeluh mengoperasikan & mengelola kegiatan produksi, dipaksa semakin tunduk dalam kekuatan uang para investor.
Diabaikannya moralitas sekarang bukan saja ditopang sang filsafat hedonisme materialistik-mekanistik, tetapi jua sang keterpaksaan struktural. Bila sebuah perusahaan merusak lingkungan atau menyogok birokrat, pengelolanya akan berkata, ?Harus bagaimana lagi, kita dituntut buat mencari laba?. Sedangkan, para penanam kapital menyatakan bahwa mereka nir bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan perusahaan. Dan, memang secara hukumpun demikian, para investor nir mempunyai tanggung jawab terhadap kemana modal ditanamkan.
Perusahaan terbuka (Korporasi) bisa dikatakan sebagai the institution of the century. Pengaruhnya lebih besar dari institusi apapun, termasuk negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Semua tunduk pada hukum korporasi. Kenyataannya, sehari-hari kita semakin terbiasa mendengar bahwa tugas utama pemerintah adalah menarik investor dan mencegah investor melarikan modalnya. Dan untuk itu, buruh, petani dan alam telah dikorbankan.

Konsumerisme : hedonisme pada masa ini

Pandangan hura-hura materialistik mekanistik membuka area baru pada cara menumpuk kekayaan. Keterbatasan aktivitas perdagangan adalah kebutuhan seseorang. Bila kebutuhan seseorang terpenuhi kegiatan perdagangan terhenti. Akibatnya, terhambatlah peluang pedagang menaikkan aset uangnya.
Filsafat hedonisme kembali dimanfaatkan oleh para pedagang. Kesenangan seseorang tidak ada batasnya. Bila semangat mencari kesenangan membara, peluang memperdagangkan barang terbuka lebar. Barang-barang yang tidak terlalu bermanfaat seperti, perhiasan, kosmetik, junk food dan segala bentuk barang mewah, menjadi barang dagangan dengan nilai tinggi. Inilah dasar dari berkembangnya semangat konsumerisme. Konsumerisme sangat dibutuhkan untuk memungkinkan terjadinya perdagangan[5]. Terlebih lagi di jaman modern ini, di mana kolonialisme fisik sudah diharamkan.
Karena itulah, para pedagang bekerja keras membuatkan gaya hayati hedonis ke seluruh pelosok dunia. Melalui iklan, model-model manis dan gambaran hayati gemerlap, dipromosikan secara gencar. Dengan demikian pedagang telah memperluas kegiatannya menurut merekayasa nilai barang pada merekayasa kebutuhan hidup insan. Tentu, ini demi memperluas kegiatan perdagangan itu sendiri. Saat ini pengeluaran global buat iklan semakin mendekati pengeluaran buat militer.




[1] yang dimaksud di sini secara khusus memang yang diklaim dengan kaum Cina Perantauan, yaitu gerombolan orang Cina yang mengadopsi budaya perdagangan, yg paradoksal menggunakan orang Cina pedalaman yang mengadopsi budaya agraris feodal, sehingga lebih seperti dengan budaya Jawa.
[2] Masa-masa di mana orang Eropa berada dalam kekuasaan agama biasa disebut abad pertengahan atau abad kegelapan (Dark Age)
[3] seorang filsuf (1588-1679)
[4] Dengan demikian, pandangan Kristiani buat ?Menderita bagi orang lain dan kebenaran?, atau pandangan Jihad buat ?Mengorbakan jiwa bagi keyakinan?, sebagai absurd pada pandangan Hedonisme.
[5] Dan pada dalam perdagangan ada peluang besar buat memainkan nilai barang, yang sebagai wahana utama buat memanfaatkan uang untuk menumpuk kekayaan.







































































Cloud Hosting Indonesia