Kamis, 16 Juli 2020

[Opini] LELAKI AKTIVIS PEREMPUAN

Oleh Tabrani Yunis
Director Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Dalam program Temu Nasional Aktivis Perempuan Indonesia yang diselenggarakan sang Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jakarta, di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, lepas 28-31 Agustus 2006, terdapat beberapa laki-laki sebagai peserta & juga panitia. Kehadiran beberapa lelaki pada tengah ? Tengah sekitar 300-an peserta aktivis wanita tersebut, memang seperti mengundang sedikit perhatian bagi beberapa perempuan yg hadir. Tetapi, bagi para aktivis perempuan kehadiran atau keterlibatan beberapa lelaki sebagai peserta dan panitia pada acara tersebut, bukanlah hal yang asing. Lantaran kehadiran laki-laki pada memperjuangkan nasib kaum wanita yg termarginalkan sang aneka macam faktor tersebut, sudah lazim ditemukan. Khususnya pada dunia LSM, kini telah poly kaum laki-laki yang secara eksklusif dan sadar berjuang bersama kaum wanita buat mengangkat persoalan-dilema yang dihadapi oleh kaum wanita marginal baik yang berada pada perkotaan, maupun di pedesaan. Ada yg secara individu aktif pada pada warga & ada jua yg memperjuangkannya melalui organisasi-organisasi misalnya organisasi non pemerintah ( ORNOP). Pendeknya, baik secara individu maupun melalui institusi Ornop, kini poly pria terlibat pribadi memperjuangkan pemugaran nasib kaum perempuan yang terpuruk.

Kehadiran laki-laki pada gerakan perjuangan wanita pada tanah air juga dalam konteks dunia, memang belum sepenuhnya bisa dinyatakan sebagai sebuah bagian dari usaha wanita. Belum seluruh pihak yakin & bisa mendapat kehadiran pria pada konvoi itu, apalagi yang disebut dengan lelaki aktivis wanita atau lelaki feminist. Lelaki aktivis wanita atau pria yg feminist, memang belum sepenuhnya bisa dipercaya atau diyakini menggunakan benar-benar-sungguh oleh para perempuan . Penolakan atau ketidakpercayaan tadi lantaran banyak wanita yang melihat gambaran diri laki-laki pada perspektif yang penuh dengan rasa was-was. Bahkan terdapat yg mengatakan, bagaimana seseorang pria aktivis atau laki-laki feminis sanggup memperjuangkan hak dan nasib wanita. Dalam perpekstif ini laki-laki dikatakan akan tetap laki-laki . Artinya, pria akan pulang dalam ego kelelakiannya. Benarkah demikian?
Kiranya, pandangan demikian nir selamanya sanggup dikatakan benar. Namun, jua nir bisa secara serta merta dikatakan salah . Dikatakan demikian, karena dalam empiris keseharian, pandangan yg radikal terhadap laki-laki tadi memang seringkali terbukti. Ketika, para perempuan merasa sangat kagum terhadap seorang laki-laki yg pada kehidupannya sangat concern memperjuangkan pemugaran nasib wanita, memperjuangkan hak-hak wanita. Namun, poly yg tidak konsisten dengan usaha tersebut. Lelaki yg dipandang dan dilabelkan sebagai lelaki feminist atau lelaki aktivis perempuan , ada yg tidak bisa mengontrol komitmen yg sudah dibangun. Seorang pria aktivis wanita atau seseorang laki-laki yang feminist, sebenarnya mempunyai rambu-rambu yang harus dijaga & dipatuhi, kalau ingin menjadi seorang aktivis atau feminist. Misalnya, menjaga hal-hal yang nir merugikan atau melecehkan wanita. Idealnya, seorang aktivis wanita atau lelaki feminist memang secara totalitas menjalankan prinsip-prinsip & nilai-nilai aktivis & feminist yang dianut. Seorang aktivis perempuan & atau lelaki feminist, diharapkan bisa menyelaraskan antara kata & perbuatan. Artinya, sebagai seseorang aktivis atau seseorang lelaki feminist, bukan hanya ada dalam ujaran atau ucapan-ucapan yg diekspresikan secara ekspresi, namun juga sinkron dengan perbuatan atau pendeknya, diimplementasikan pada rutinitas atau kehidupan keseharian.
Seorang aktivis perempuan dan lelaki feminist, jua sangat diperlukan tidak berucap atau melakukan tindakan yang menyakiti wanita, baik yang bersifat pelecehan, tindak kekerasan juga tindakan lain yg merugikan kaum perempuan . Sebagai galat satu contoh adalah tindakan istri lebih dari satu. Lantaran istri lebih dari satu adalah sebuah tindakan yg merugikan dan melemahkan posisi perempuan . Poligami yang dibenci sang banyak orang baik laki-laki , apalagi kaum perempuan dan aktivis dan lelaki feminist. Maka, bila ada pada antara aktivis wanita yang melakukan istri lebih dari satu, para aktivis wanita & wanita secara generik akan mempersoalkan & mengakibatkan perkara ini sebagai sebuah tindakan yg sangat menyakitkan. Oleh sebab itu para perempuan akan mengecamnya.
Sebuah perbincangan yang sangat hangat tentang perkara istri lebih dari satu pada mailing list wanita, bukan lagi masalah istri lebih dari satu yg dilakukan AA Gym. Namun kali ini para aktivis perempuan waktu ini merasa sangat dikecewakan oleh sikap dan tindakan seorang Ade Armando yang selama ini dipercaya sangat concern menggunakan perkara wanita. Kekecewaan para perempuan & aktivis perempuan terhadap sikap & tindakan Ade Armando yang melalukan istri lebih dari satu bisa kita baca dalam goresan pena Adriana Venny , Direktur Jurnal Perempuan di mailing list perempuan dalam tanggal 15 Februari 2007 yang menulis dalam tulisannya, Berpoligami pada hari kasih sayang. Tulisan itu mendapatkan poly tanggapan menurut peserta yg pada biasanya sangat kecewa terhadap Ade Armando yg telah terlanjur dipercaya pro perempuan .
Berpoligami atau melakukan hal-hal yg merugikan perempuan sang pihak aktivis & lelaki feminist memang sangat dikecam. Karena ini sangat dikecam, maka persepsi & tindakan aktivis perempuan & lelaki feminist yang merugikan wanita acapkali menjadi dilematis jika tidak bisa berlaku konsisten. Sehingga, tatkala terperangkap pada jaring keterlanjuran, yg dilakukan merupakan berusaha mencari alasan-alasan pembenaran. Dan jika nir, maka jalan akhir yang ditempuh adalah jalan akhir menggunakan ucapan ?Aku juga insan.? Nah, jikalau sudah ini jawabanya, maka habislah upaya kita dalam mencari argumentasi. Kondisinya pun sebagai sangat kontroversi.
Agaknya, memang seorang lelaki sebagai aktivis perempuan atau lelaki feminist, memang nir mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Seorang lelaki aktivis wanita atau lelaki feminist mampu dipandang miris terutama dari kalangan laki-laki yang kental menggunakan sifat kelelakiannya. Tantangannya semakin berat waktu tingkat kepercayaan akan keberadaan lelaki aktif & feminist masih sangat rendah. Dan semakin berat tantangannya tatkala terdapat orang-orang atau tokoh-tokoh sekaliber Ade Armando, Masdar & yg lainnya melakukan hal-hal yg kontroversial menggunakan apa yang seharusnya. Lantaran dalam empiris yg sedang berjalan, kala kaum wanita sangat mengecam istri lebih dari satu, kecaman itu misalnya disiram menggunakan tindakan aktivis dan feminist dengan tindakan istri lebih dari satu. Mengecewakan bukan ? Barangkali, sangatlah lumrah, bila kualitas lelaki aktivis & lelaki feminist diragukan. Wajar juga kalau ada sebuah organisasi atau forum dana nir percaya terhadap lelaki pemimpin sebuah Ornop yang memberdayakan & menguatkan perempuan .
Dalam syarat ini, walau keraguan itu masih tinggi, Kita memerlukan eksistensi pria sebagai aktivis wanita atau sebagai lelaki feminist. Ini perlu supaya keterlibatan banyak laki-laki pada membela & memperjuangkan hak-hak wanita yg tertindas. Dengan membentuk perilaku pria aktivis wanita, akan poly laki-laki yg sadar akan perlunya gerakan beserta membela perempuan . Kalau hilang satu, akan ada pria aktivis wanita lain yg masih sanggup tetap berjuang. Bagaimana rekan-rekan?









Cloud Hosting Indonesia