Selasa, 28 Juli 2020

[Media] Sebuah Dunia Tanpa Suami



Judul : Sebuah Dunia Tanpa Suami: Perempuan Kepala Keluarga Bercerita
Produksi : PEKKA-PPSW berafiliasi menggunakan Komnas Perempuan
Tahun : 2004
Pernikahan, yang dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer diartikan sebagai perjanjian resmi antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga ini, pada dasarnya sangat terbuka untuk dimaknai oleh siapa saja dan selalu dimungkinkan untuk munculnya counter-hegemoni ataupun hegemoni alternatif.
Pernikahan, yang oleh mainstream masyarakat selalu dikonotasikan sebagai pernikahan heteroseksual, sekaligus juga mengusung pelbagai mitos dan konstruksi sosial. Kontruksi sosial gender telah menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga yang berarti pemimpin dan penentu kebijakan dalam keluarga tersebut serta menjadi pencari nafkah dan tulang punggung bagi keluarganya. Sedangkan perempuan sebagai ibu dan istri dituntut pengorbanannya serta diberi beban sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa.


Pemikiran tentang pernikahan sebagai sebuah keniscayaan (beserta peran gender sebagai paketnya) pada ujungnya membangkitkan berbagai persoalan pelik yang tak berkesudahan. Mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dll. Pertengkaran, selingkuh, ketidaksetiaan, pengkhianatan dilihat sebagai resiko yang harus ditempuh dalam sebuah keluarga.
Padahal, banyak orang mendamba pernikahan, dengan kebahagiaan sebagai titik akhirnya. Seakan pernikahan sepasang insan adalah kata akhir dan puncak hidup bagi setiap orang. Sepertinya, pernikahan menjadi “kodrat” karena Yang Mahakuasa pun telah “memilihkan” pasangan atau jodoh untuk setiap orang. Pernikahan menjadi lembaga yang normatif, dalam artian ia menjadi patokan kebahagiaan sepasang insan.
Lalu, bagaimana para pelaku pernikahan yang terkonstruksi dan terinstitusionalisasi ini bergelut dengan realita mereka? Mampukah mitos dan konstruksi sosial gender seputar pernikahan dan keluarga ini mewujudkan dambaan para pelakunya atas pernikahan itu sendiri?
Ketika pernikahan nir lagi ?Ideal? Seperti tuntutan konstruksi itu, bagaimana nasib para pelaku & pernikahan serta keluarga itu sendiri? Akankah mereka bertahan?
Para perempuan menurut Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, & Sambas yang tergabung pada PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) menuturkan cerita dan pengalaman mereka lewat film ini. Mereka merupakan para wanita yg pernikahannya dipercaya ?Stigma? Atau ?Nir ideal?, karena pasangan mereka nir mampu merogoh peran yang dikonstruksikan bagi pria buat sebagai ketua keluarga.
Pengambilalihan kiprah perempuan menjadi ketua keluarga bukan pilihan mereka dalam awalnya. Banyak dari mereka yang terpaksa menjadi kepala famili karena sang suami selingkuh, mabuk-mabukan, memukul, berbohong, menipu & mencuri hartanya, memperkosa, atau karena suaminya sakit, terbunuh atau hilang lantaran diculik.
Dalam film ini, kita mampu belajar dari para wanita ini bagaimana mereka mengatasi situasi yang dalam awalnya merupakan keterpaksaan & beban ini. Satu per satu mereka menuturkan bagaimana harapan-harapan dan virtual mereka dahulu mengenai pernikahan, yang lalu kandas di tengah jalan. Berbagai peristiwa dialami mereka masing-masing menyangkut rekanan menggunakan pasangannya. Kesakitan & kesedihan demikian sarat. Tetapi, yg hebat merupakan proses kebangkitan mereka. Bagaimana mereka menyemangati diri, memotivasi diri buat bertahan hidup bagi keluarganya dan dirinya sendiri. Pengalaman jatuh bangun menjadi ketua famili & sebagai orang tua tunggal tidak terelakkan. Semua proses itu dilakukan semata-mata lantaran rasa cinta: cinta pada anak, cinta dalam kehidupan. Rasa cinta dalam kehidupan inilah yg menggerakkan mereka buat beserta-sama mentransformasi hayati mereka & orang lain. Di sinilah makna seorang aktivis....
Pada gilirannya, kesadaran baru serta kehidupan baru terbit sebagai hasil dari pengorganisasian diri dan bersama. Hingga akhirnya mereka bisa berkata: “to forget, to forgive and to continue our live”. (ID)















Cloud Hosting Indonesia