
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aktivis merupakan orang yg mampu menggerakkan orang lain buat bertindak. Aktivis memiliki kemampuan mengatur orang lain (organisatoris), & dianggap sebagai tokoh dan pelopor di bidangnya. Salah besar apabila selama ini aktivis hanya ada pada lingkup global mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa saja yg mampu berperan sebagai aktivis. Seorang bunda tempat tinggal tangga pun bisa sebagai seseorang aktivis, waktu kriteria yang disebut di atas telah dilakoni oleh ibu rumah tangga tadi.
Menjadi seorang aktivis adalah sebuah pilihan. Seseorang tergerak untuk menjadi aktivis, karena ada sentuhan di dalam sanubarinya untuk melakukan sesuatu. Pun untuk menjadi aktivis, sesungguhnya tak perlu berpatokan seperti para tokoh-tokoh aktivis yang karismatik, sering tampil berorasi di hadapan massa atau piawai dalam mengatur strategi sebuah gerakan massa. Dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan demi perubahan ke arah yang lebih baik, Anda sudah menjadi seorang aktivis.
Esensi seorang aktivis terletak pada komitmennya buat mengabdi kepada warga dan lingkungan. Seseorang sebagai aktivis karena dia tergerak saat melihat ketidakadilan pada sebuah sistem. Seorang aktivis senantiasa tergerak buat memperjuangkan hak-hak para korban yg mengalami ketidakadilan. Korban bisa dari dari apa saja, contohnya : pengungsi korban perang atau bala alam, lingkungan hayati, atau masyarakat miskin kota.
Seorang aktivis memandang bahwa hidup ini bukanlah semata-mata lahir-bersekolah-bekerja-menikah-punya anak-kemudian mangkat , tetapi dia melihat bahwa hayati itu hendaknya memiliki makna. Dan beliau memaknai hidupnya menggunakan cara berbuat sesuatu bagi orang lain. Seorang aktivis memandang bahwa segala ilmu & kekayaan yang dia miliki tak akan berarti apa-apa apabila tidak disumbangkan kepada pihak-pihak yg membutuhkan.
Oleh karena itu, sebagai seseorang aktivis hendaknya dimulai dari kehendak diri yang terdalam. Menjadi aktivis bukanlah sekedar latah karena melihat sahabat-sahabat sekelas aktif di organisasi eksklusif. Menjadi aktivis bukan lantaran terlihat keren berorasi pada hadapan massa. Menjadi aktivis merupakan lantaran kita ingin memaknai hayati ini dengan melakukan sesuatu bagi sesama, terutama mereka yang mengalami ketidakadilan dan ketertindasan.
Awal sebuah aktivisme
Apakah aktivis itu hanya melulu mahasiswa? Tentu tidak. Meski sesungguhnya, dunia aktivisme dimulai di pada lingkungan kemahasiswaan. Lingkungan pada mana seorang mengalami gemblengan sebuah kaldera candradimuka buat terjun berkarya di pada warga . Dunia kampus menyiapkan para mahasiswa buat berlaga & bersaing pada dalam masyarakat. Dunia yg terdiri dari lingkungan pekerjaan, lingkungan hidup (alam) dan rakyat.
Pendidikan di kampus, hendaknya nir sekedar menanamkan ilmu menurut segi intelektual pada para mahasiswa. Namun, lebih menurut itu, kampus hendaknya menanamkan perilaku pengabdian bagi warga . Bahwa ilmu yg mereka dapatkan di universitas, bukan semata-mata untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri pada masa depan. Ilmu merupakan sesuatu yang dapat dikembangkan, disumbangkan demi kebaikan bersama.
Pengabdian warga , itulah hakikat aktivis. Aktivis adalah mereka yang secara sukarela membagi ilmu dan keterampilan mereka demi kemajuan warga . Berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yg mereka miliki, aktivis menyuarakan hak-hak warga . Para aktivis mendorong perubahan ke arah kebijakan yang menguntungkan seluruh pihak. Para aktivis menentang ketidakadilan, ketertindasan dan keterbelakangan kaum eksklusif.
A ktivis Ramah Lingkungan
Di dunia ini masih ada banyak sekali jenis aktivis, mulai menurut aktivis pendidikan, wanita, anak jalanan, hingga aktivis yang menyuarakan info-berita lingkungan hayati. Pembagian jenis aktivisme itu salah satunya menurut minat, latar belakang dan keahlian seorang. Seorang aktivis lingkungan hidup misalnya, memiliki pengetahuan lebih banyak tentang info pencemaran & pelestarian lingkungan hayati daripada pengetahuan tentang mediasi perseteruan. Sebaliknya, aktivis hak asasi manusia adalah orang yang memiliki keprihatinan dan pengetahuan lebih poly tentang informasi ketidakadilan, kekerasan dan pelanggaran hak asasi insan dibanding pengetahuan mengenai lingkungan hayati.
Seyogianya, dunia aktivisme memiliki interaksi satu dengan yg lainnya. Seorang aktivis lingkungan hidup hendaknya menjalin kolaborasi menggunakan aktivis yg mempunyai keprihatinan tidak sinkron. Meski tidak selaras, terkadang terdapat info-berita yg saling bertindihan, misalnya model ini dia :
Sudah tak jarang kita menyaksikan, para aktivis pendorong perubahan kebijakan dewan warga berdemonstrasi di depan gedung perwakilan warga yang megah di satu pojok mak kota. Ketika demonstrasi selesai, syarat di depan gedung perwakilan rakyat kotor & berantakan. Puntung rokok pada mana-mana, sampah bungkus minuman juga kertas pembungkus nasi terserak di mana-mana. Tidakkah para aktivis tadi menyadari, bahwa ada dampak lain dari kegiatan mereka yang mungkin akan menindas pihak-pihak eksklusif? Ironi, bahwa gerombolan aktivis yang justru berupaya menghilangkan ketertindasan sosial justru membangun ketertindasan bagi lingkungan hayati menggunakan membuang sampah begitu saja.
![]() |
Para aktivis berdemo di gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat |
Sumber foto : http://sakajogja.multiply.com/journal/item/39
Contoh lain yang pernah disaksikan sang penulis sendiri merupakan saat para pengungsi Aceh korban kekerasan aparat pada fase DOM (Daerah Operasi Militer) juga pasca tsunami. Beberapa pengungsi mencari perlindungan sementara di sebuah area taman nasional. Para aktivis pembela hak asasi pengungsi sibuk beraktivitas mendampingi para pengungsi, tanpa menyadari bahwa loka yg dipakai pengungsi menjadi rumah sementara mereka merupakan sebuah taman nasional. Mereka mendampingi pengungsi pada hal kesehatan hingga pendidikan. Dalam bayangan para aktivis pembela hak asasi pengungsi, momen pengungsian merupakan suatu peristiwa yang hanya ad interim sifatnya.
Akan namun liputan berbicara lain. Pengungsi seperti menemukan rumah & tanah yg baru. Dari tenda terpal, mereka mengubah naungan menggunakan kayu-kayu yg ditebangi menurut pohon-pohon pada taman nasional. Mereka membuahkan kayu-kayu berdasarkan pohon-pohon tadi sebagai bahan bakar buat mengasapi dapur & menghangatkan diri pada malam hari. Padahal, huma taman nasional sesungguhnya tidak sanggup dihuni sang manusia, lantaran dia adalah tempat asli satwa-satwa liar yg mungkin membahayakan kehidupan para pengungsi itu sendiri.
Baik pengungsi maupun aktivis pembela hak asasi pengungsi kurang mempedulikan kabar bahwa menebangi pohon di wilayah taman nasional merupakan aktivitas terlarang. Aktivis pembela pengungsi lebih peduli pada penyembuhan syok mental pengungsi dampak kekerasan atau lebih peduli buat mengejar ketinggalan pendidikan anak-anak pengungsi dibanding anak-anak sekolah lainnya.
Berdasarkan dua gambaran tentang dunia aktivis di atas, muncul istilah ‘aktivis ramah lingkungan’. Aktivis ramah lingkungan, adalah aktivis manapun yang mempertimbangkan isu lingkungan sebagai dasar aktivitasnya. Ia bisa saja mengambil peran aktivis pendorong perubahan kebijakan pemerintah, namun ia juga mempertimbangkan isu-isu lingkungan sebagai dasar baginya untuk mengambil sikap dan berpihak. Seorang aktivis ramah lingkungan tak hanya berpatokan pada satu isu yang dibelanya. Ia mempertimbangkan dampak dari isu yang dibelanya terhadap isu lain, seperti isu lingkungan hidup, yang akan menjadi terpinggirkan atau tertekan.
Dalam prakteknya, masih sangat sporadis terlihat para aktivis memerhatikan isu lingkungan hayati pada segala aktivitasnya, demikian papar Ari Ujianto, direktur Yayasan Desantara dan mantan staff Urban Poor Consortium (UPC). Jangankan turut memerhatikan berita lingkungan hayati pada lapangan, bahkan di kantor para aktivis tersebut, aspek-aspek pelestarian terhadap lingkungan pun masih diabaikan. Misalnya, penggunaan kertas secara hiperbola atau menggunakan air minum kemasan pada gelas.
Hal pada atas bisa jadi menampakan tendensi ketidakpedulian terhadap gosip lingkungan hayati. Akan tetapi, berdasarkan Ari Ujianto, faktor pada atas sanggup jadi ditimbulkan sang ketidaktahuan. Para aktivis belum paham benar apa & bagaimana bertindak terhadap gosip lingkungan. Hal ini jua dikuatkan oleh David Ardes Setiady, aktivis KAIL yg beranjak di bidang pengembangan para aktivis & pernah berkecimpung pada advokasi para buruh. Ia baru mengenal isu lingkungan hayati dalam waktu kuliah, & sesudah mengenalpun, kesadaran buat berperilaku sesuai aspek lingkungan hidup pun masih rendah.
“Kalau bilang peduli dengan lingkungan, saya akan bilang peduli. Sering kali saya jadi merasa bersalah ketika mengetahui dampak lingkungan dari apa yang saya lakukan. Kalau kepedulian keluar, baru sebatas berbagi informasi dengan lingkaran terdekat tentang isu lingkungan. Terus terang, saya merasa kesulitan dalam membagikan informasi tersebut karena belum sepenuhnya paham.” papar David Ardes. Ari Ujianto merasakan hal yang sama. Beliau merasa kesulitan dalam menyebarkan prinsip ramah lingkungan di komunitas kantornya, karena masalah kebiasaan yang sulit diubah.
Namun demikian, beberapa organisasi kemasyarakatan non-lingkungan hayati, seperti UPC yang diketuai oleh Wardah Hafidz dan KAIL yg dikoordinir oleh Any Sulistyowati, sudah menjalankan aspek-aspek keberlanjutan lingkungan, dengan meminimalkan penggunaan kertas, nir memakai minuman bungkus plastik sampai mengonsumsi penganan lokal yang dikemas tanpa plastik sebagai konsumsi pada setiap aktivitas.
Contoh lain, misalnya yang dilakukan oleh Eka Prahadian Abdurahman, ketua divisi kesehatan tempat kerja Caritas Medan, Sumatera Utara. Beliau berkata,
“Bagi kami, isu lingkungan hidup penting untuk diintegrasikan dengan isu-isu lain, seperti isu Drugs & HIV. Untuk isu pengurangan dampak buruk narkoba (Harm Reduction) dan HIV, kami mengalami benturan antara isu lingkungan dengan program layanan jarum suntik steril, karena banyak meninggalkan limbah jarum bekas penggunaan narkoba, tanpa ada sistem pengelolaan limbah yang baik di lapangan. Solusi yang dicari untuk program ini adalah melakukan pertukaran jarum suntik steril (Needle Exchange Program) artinya setiap pengguna jarum suntik yang ingin memperoleh jarum suntik baru diwajibkan membawa limbah bekasnya untuk mengurangi limbah di lapangan, lalu limbah yang sudah dikumpulkan diserahkan ke rumah sakit untuk dimusnahkan di insinerator. Hanya kita tidak tahu persis apakah proses ini juga berdampak pada kerusakan lingkungan.”
Memang sudah ada beberapa aktivis dan organisasi-organisasi yang menjalankan prinsip ramah lingkungan seperti UPC dan Kail, itu karena penggerak di dalamnya sadar sungguh tentang aspek keberlanjutan lingkungan hidup atau dekat dengan organisasi lingkungan hidup yang ada dan pernah berjejaring dan bekerjasama dalam satu kegiatan. Prinsip ramah lingkungan ditularkan melalui kebiasaan, perilaku dan dalam jejaring kerjasama.
Meski tersendat, tetapi langkah-langkah kecil telah dilakukan. Yayasan Desantara misalnya, tak lagi membeli air minum kemasan melainkan memasak sendiri air minum mereka. Bahkan UPC yang tidak lagi memiliki kantor yang berwujud bangunan, secara implisit telah menyatakan sikap ramah lingkungan. Dengan tidak memiliki bangunan kantor, berarti meminimalkan aktivitas menghasilkan sampah. Langkah-langkah kecil berbasis ramah lingkungan ini dimulai dan ditularkan perlahan-lahan dari satu orang yang peduli ke semakin banyak orang.
Aktivis Lingkungan
‘Aktivis lingkungan’ sedikit berbeda dengan aktivis ramah lingkungan. Orang yang menjadi aktivis lingkungan adalah mereka yang mendedikasikan waktunya untuk memperjuangkan isu lingkungan. Ada beragam cara dipilih dalam menjadi aktivis lingkungan, antara lain melalui pendidikan, pengelolaan komunitas yang ramah lingkungan, advokasi kebijakan terkait isu lingkungan, dan sebagainya.
Sumber foto : Tim YPBB / Anilawati N.
Menurut Anilawati Nurwakhidin, seorang aktivis lingkungan dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para aktivis lingkungan hidup, yang terdiri dari kendala dari dalam dan dari luar diri sang aktivis. Kendala yang berasal dari dalam diri adalah tiadanya visi jangka panjang dalam memperjuangkan isu lingkungan hidup. Beberapa aktivitas dijalankan secara reaktif dan sporadis, tanpa diakhiri refleksi dan dokumentasi untuk pembelajaran di masa depan. Dan mungkin, karena sifatnya yang masih reaktif dan sporadis inilah perjuangan aktivis lingkungan sering mengalami pasang dan surut, gaung perjuangan lingkungan hidup terdengar di setiap penjuru daerah, tetapi sifatnya hanya sekedar seremonial belaka hingga terlihat mirip dengan situasi sebuah pesta, heboh di saat acara berlangsung, namun adem ayem setelahnya.
Kendala dari luar diri aktivis lingkungan antara lain adalah beberapa orang menganggap bahwa kegiatan aktivis lingkungan tidak cukup layak untuk ditekuni dalam jangka panjang. Salah satu alasannya adalah, karena masih ada orang menganggap aktivis lingkungan tidak memiliki pendapatan yang cukup baik dibanding orang-orang yang bekerja secara kantoran. Selain itu, organisasi yang mewadahi para aktivis lingkungan juga belum terlihat memiliki visi jangka panjang bagi internal organisasinya, sehingga hal itu dapat menimbulkan rasa ketidakpastian dari para anggotanya.
Penutup
Dari uraian di atas, tampak kerucut masalah terletak pada dua hal. Pertama, perlunya koordinasi lintas bidang di dalam dunia aktivis. Melalui komunikasi dan koordinasi, tiap-tiap aktivis akan memiliki gambaran yang menyeluruh tentang fenomena sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup daripada sekedar mengetahui gambaran sempit tentang isu yang ia bela. Dengan komunikasi antara para aktivis lingkungan hidup dengan aktivis non-lingkungan hidup, hambatan berupa ketidaktahuan dan ketidakpedulian untuk menjadi aktivis ramah lingkungan dapat diatasi.
Kedua, perlunya visi jangka panjang bagi aktivis lingkungan hidup untuk terus menggulirkan perjuangan mereka membela lingkungan hidup. Jika visi jangka panjang tentang keberpihakan terhadap lingkungan hidup telah terbentuk, ia tentu dapat diintegrasikan, dikomunikasikan dan diselaraskan dalam forum-forum komunikasi antar aktivis lintas bidang. Sehingga, isu-isu ramah lingkungan dapat pula diintegrasikan bersama isu-isu lain bagi tercapainya perubahan kehidupan seluruh umat manusia tanpa terkecuali, ke arah yang lebih baik. Semoga.
(Navita Kristi Astuti)