Rabu, 22 Juli 2020

[Jalan-jalan] BALAI WARGA MARLINA

Kalau anda mendengar kata Balai Warga jangan membayangkan sebuah bangunan yg kokoh, luas & lengkap fasilitas. Tempatnya sederhana menggunakan desain rumah panggung berdasarkan bambu, ada papan triplek buat menulis & papan berita, duduk lesehan dan angin segar yg dibiarkan masuk. Balai Warga Marlina adalah keliru satu balai yang didirikan sang rakyat kampung Muara Baru & Urban Poor Consorsium (UPC-LSM pendampingan rakyat miskin kota), terletak pada galat satu pinggiran kota Jakarta, tepatnya pada kampong Muara baru, kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Untuk menuju kesana sangatlah mudah, berdasarkan stasiun Kota mampu naik Angkutan Umum jurusan Muara Baru atau bila nir mau repot bisa eksklusif naik bajaj. Memasuki jalan Marlina, kita akan melihat sederetan tempat tinggal penduduk yang padat dan lalu lalang orang di gang sempit menggunakan aneka macam aktivitasnya. Tanya saja Balai Warga Marlina pasti seluruh orang memahami dan akan berbaik hati memperlihatkan arahnya.

Mengapa terdapat Balai Warga Marlina? Kampung Marlina merupakan salah satu grup dampingan rakyat UPC & galat satu kegiatan warga yang dilakukan disana adalah Kelompok Belajar Anak (KBA). Awal kegiatan KBA dilaksanakan pada keliru satu rumah rakyat menggunakan jumlah anak sekitar 20 orang. Semakin berkembang fakta & kebutuhan akan ilmu, akhirnya terdaftar 70 anak yang ingin mengikuti aktivitas KBA. Kondisi ini menciptakan CL Anak dan UPC mengumpulkan orangtua murid buat menyampaikan kasus kegiatan kelompok belajar ini, mulai dari tempat yg sudah nir bisa menampung anak didik lagi, ketenangan proses belajar mengajar dan fasilitas yg tersedia. Didapat satu kesepakatan bahwa masyarakat dan UPC akan membangun suatu balai sebagai wahana belajar. Tanah milik PT Gajah Tunggal yg disebut sebagai milik Ibu Yayah menjadi pertimbangan lokasi pembangunan balai. Perhitungan porto diperkirakan 5 juta, & dana didapat dari swadaya/urunan orang tua murid & UPC. Urunan warga per anak didik 10.000 rupiah & terkumpul lebih kurang 400.000 rupiah??? Cek lagi. Selama proses pembangunan ternyata porto yang dimuntahkan membengkak lantaran Harga bangunan sudah naik (cat, semen, ll) & perubahan pemakaian asbes menjadi atap buat faktor keamanan.
Belum lagi warga harus membayar uang keamanan sebanyak 400.00 rupiah ke PT.


Pembangunan balai memakan ketika relatif singkat hanya satu minggu dengan tiga orang pekerja. Nah pada lepas 26 Maret 2006 hari Minggu sore Balai Warga Marlina diresmikan menggunakan syarat apa adanya & dinding yang belum dicat karena biayanya kurang. Hal ini tidak menyurutkan semangat rakyat mulai menurut anak-anak, remaja & orangtua buat ikut andil mempersiapkan acara pelantikan. Ada pentas musik, pemutaran film dan permainan. Warga kemudian berinisiatif meminta saweran ke penonton buat membeli kekurangan cat dan bahan lainnya, akhirnya terkumpul dana sebanyak 195.000 rupiah.


Sampai ketika ini kelompok belajar yg jumlah muridnya hampir 70 orang dengan 2 CL Anak sebagai guru ini sudah berjalan selama hampir satu tahun. Kelas dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelas sore (pukul 17.00 ? 18.00 WIB) dan malam (pukul 19.00 ? 20.00 WIB). Peralatan seadanya seperti papan tulis difasilitasi sang UPC, sedang kapur tulis & kitab swadaya orangtua murid. Dari sinilah ada rasa mempunyai & tanggung jawab orangtua siswa/rakyat terhadap kelompok belajar dan balai. Ternyata kehidupan anak-anak dikampung Marlina sama menggunakan anak-anak miskin lainnya, yg terbatas dengan akses pendidikan dan masih haus dengan ilmu dan pengetahuan. Dalam gerombolan belajar anak-anak juga dibiasakan buat menabung lewat buku tabungan.


Selain buat kelompok belajar, Balai Warga Marlina juga digunakan buat pelayanan kesehatan alternatif dan pengenalan tumbuhan obat. Bukan hanya itu, balai masyarakat jua dapat digunakan buat kepentingan rakyat lainnya seperti rendezvous warga , rapat RT/RW, arisan bahkan sunatan atau acara perkawinan sekalipun. Kalau anda ingin mencoba, sanggup menghubungi Ibu Yayah menjadi penanggung jawab disana. Sstt, mungkin terdapat diantara pembaca yang penasaran kenapa nama kampung itu kampung Marlina ya? Apakah ini dulunya nama seseorang wanita kembang desa disana atau?.Jangan berasumsi macam-macam, ternyata Marlina itu merupakan nama keliru satu pabrik pada wilayah Muara Baru. Loohhh! (Mels)











Cloud Hosting Indonesia