Selasa, 12 Mei 2020

[PIKIR] SANDANG YANG MENELANJANGI

Oleh: Umbu Justin

Duhsasana had to subdue Draupadi by force. He dragged her out of the women?S quarters and into the assembly hall by her hair. And there, in front of all the kings and the defeated Pandavas, he mocked her, called her whore for having five husbands, and vowed to have his way with her. Then, as Draupadi stood helpless, clad only in a nightgown, weeping with shame and rage, Duhsasana ripped her gown from her to expose her nakedness.

But she was not naked. She was still clad in her simple shift. Cursing, Duhsasana reached out again and ripped it off.

And Draupadi was still not naked.

Again and again Duhsasana ripped Draupadi?S clothes away, until the floor of the assembly hall was littered in a rainbow of gowns. And she was still not naked.

Absolute silence descended on the assembly hall. There were only two people in the whole world. There was Draupadi, clothed in the lawfulness of her rage. There was Duhsasana, exhausted and suddenly afraid.

Sabha Parva LXVII, Mahabharata

Di antara aneka macam atribut yg menaruh kita predikat menjadi mahluk berkebudayaan, pakaian-lah yang paling mudah ditanggalkan. Berbagai atribut lain yang memberi kita karakteristik kebudayaan seperti celoteh bahasa, dialek, rapikan cara makan, ritual tata cara, hubungan korelasi, pemahaman akan nilai-nilai, jauh lebih melekat erat pada kita dibanding pakaian. Kita dengan gampang berganti sandang dan mengubah peran atau identitas, misalnya seseorang anak didik yang mencopot seragamnya begitu hingga ke rumah; tetapi betapa sulitnya murid tersebut membarui dialeknya, apalagi mengganti interaksi kekerabatannya.

Terhadap identitas kita sandang itu memang rapuh, tetapi di situ juga terletak kekuatannya. Sandang menyandang daya terpenting dalam kemanusiaan kita, yakni  kecenderungan beradaptasi. Dengan sandang manusia dapat mengatasi keterbatasannya, memasuki laut dalam, menjelajah antariksa, atau pun melindungi diri pada kondisi ekstrim. Sandang itu membungkus tubuh untuk memperluas horizon keberadaannya, mendukung manusia untuk bereksplorasi dan melakukan kolonisasi atas dunia.

Sandang berdaya mengubah manusia karena itu dia kemudian dikapitalisasi menjadi sarana pembagian terstruktur mengenai insan baik berdasarkan segi strata kultural mau pun sosial, penanda kiprah pada sistem kemasyarakatan, atau pun menjadi tanda pengkhususan kultural mau pun religi. Pakaian yang disandang menentukan derajad dan kasta, mengenalkan kiprah pada sistem fungsional kemasyarakatan seperti dokter, tentara, polisi, pengajar atau anak sekolah. Para penganut agama menandai kaumnya lewat pakaian yg khas,misalnya pada biarawan, kiai, pandita, dan seterusnya. Bahkan pakaian pun bisa menaruh karakteristik dalam momentum tertentu seperti gaun pengantin, pakaian upacara kepercayaan atau pun sandang norma pada banyak sekali ritual.

Sandang menggunakan demikian secara paradoksal melampaui manusia penyandangnya. Tanpa pakaian, insan sebagai telanjang & terbatas. Ia kehilangan atributnya, ketiadaan predikat & lumpuh pada sistem sosialnya. Sandang menggunakan demikian menelanjangi manusia. Nilai-nilai sosial kemasyarakatan insan jadi melekat dalam pakaian yg dikenakan, bukan tertanam dalam manusia itu sendiri.

Di satu pihak manusia itu takut dalam ketelanjangannya. Maka ia berusaha menegaskan keberadaannya secara spesifik di tengah global menggunakan menyandang sandang yang mampu mengusung bukti diri kiprah yang beliau anggap sinkron. Tetapi tak jarang ketelanjangan itu sebagai paranoia yang mengubah insan menjadi konsumen terus menerus. Sandang menjanjikan pemenuhan identitas yang tidak pernah tuntas. Manusia berusaha memperkaya atribut, mempertahankan dan menaikkan predikatnya, mengejar pakaian yang semakin menaikkan nilainya pada warga .

Di lain pihak, lantaran pakaian sebagai penyandang martabat, nafsu kolonisasi, kecenderungan menguasai & menindas insan menyasar pada penelanjangan insan lain. Dalam epos Mahabharata, Kurawa berusaha mempermalukan Pandawa yang kalah bermain dadu menggunakan merenggut sandang Drupadi. Dalam aula raja-raja di Hastinapura keserakahan akan kekuasaan politik mengarahkan kekuatannya dalam kain sari seseorang perempuan .

Epos Mahabharata menjanjikan optimisme yang mendasar bagi kemanusiaan yang tidak dapat ditelanjangi. Sandang itu memang bernilai, meskipun ia tipis dan bersahaja seperti selembar sari atau kain batik, ia memuat keyakinan manusia bahwa dirinya bermartabat. Sandang bukanlah pemilik nilai tersebut, ia adalah penanda citra kultural manusia, pembawa pesan tentang harkat manusia, dan bukan harkat itu sendiri.  Seperti keajaiban dalam cerita Mahabharata di ruang permainan dadu, martabat manusia tak bisa digerus meski keserakahan berusaha menanggalkan semua atribut kemanusiaan.

Drupadi yang bersimpuh pada lantai aula para raja, tetap terjaga dalam keutuhan kemanusiaannya dan pada gilirannya keserakahan & nafsu menguasai politik Sengkuni & Kurawa akan tergerus oleh ketakutannya sendiri karena humanisme tak bisa ditelanjangi.

Cloud Hosting Indonesia