Sabtu, 30 Mei 2020

[PIKIR] MENJALANKAN PERIKEMANUSIAAN

Oleh: Umbu Justin

? Ia menyewa taksi ke Bandung & minta diturunkan di jalan Braga. Hari telah malam. Ia meninjau-ninjau & mengintip-ngintip ke dalam tempat kerja redaksi Medan. Tak seorang pun dikenalnya. Ia ragu-ragu buat masuk, juga tidak berusaha buat bertanya. Kemudian ia pulang berjalan kaki?.

Seperti burung patah sayap dia berjalan merasuk, memasuki sebuah dangau kosong di pinggir jalan ? Dia mengenangkan segala-galanya yang sudah lewat. Betapa kedekut Tanah Air & bangsanya pada dirinya. Di Hindia ini betapa orang gampang melupakan, seperti tulang- belulang paling keras pun, ringkih melenyap oleh kelembapan tanah tropis?

(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

——Menjalankan Peri-kemanusiaan

Sebuah perspektif bagi para relawan

Kemanusiaan kita terikat dalam banyak sekali narasi, bukan saja dalam kisah-kisah akbar alam semesta, kisah penciptaan baik pada mitologi, kepercayaan , dalam cerita ilmiah mengenai jadinya galaksi & bintang-bintang, evolusi, dan terbangunnya spesies insan, sejarah, kebangsaan, suku golongan & sebagainya?Tetapi juga pada kisah-kisah mini yg khusus seperti sejarah keluarga, kisah pribadi, lebih jelasnya keseharian, pada cerita mengenai insiden-peristiwa personal, karakter, sifat-sifat & bahkan pandangan hidup langsung. Tentang setiap kita, selalu bergantung pertanyaan tentang siapakah kita, berdasarkan berasal-usul, suku, dari tanah air, ikatan famili, sejarah pendidikan & seterusnya. Bahkan secara eksklusif, setiap orang menginginkan hidupnya terbangun menurut sebuah narasi yang bermakna ? Kita seakan selalu ingin menuliskan otobiografi yang benar-benar memberi nilai dalam humanisme, kita ingin bercerita mengenai kisah kita dan ingin menjawab pertanyaan besar mengenai siapakah kita dalam narasi yang bermakna.

Inilah energi terpenting kita, bangkit ke dalam narasi, bereksistensi berarti berada pada paparan cerita, entah pada cerita riwayat keluarga, kita terlahir menjadi anak pada famili menggunakan runutan kisah yg sangat tua, kisah yg pasti terekam dalam warna kulit, DNA, tempat lahir, nama famili, kebangsaan, impian-impian & stress berat-syok yang teronggok dalam lapisan kolektif yg dalam. Namun kita pasti bangkit dalam narasi, ke pada cerita yg wajib kita tulis sendiri, yg kita rangkai sebagai cara kita masuk ke dalam kehidupan, mungkin nir lewat pintu yg tersedia, lewat kesempatan-kesempatan yang senantiasa ditawarkan, melainkan melalui celah-celah tidak terduga yg kita buat sendiri atau yang terjadi begitu saja dampak peristiwa-insiden atau narasi-narasi tersembunyi yg luar biasa.

*******

Penggalan kisah jalan Braga di atas, yang dinarasikan sang Pramoedya adalah tentang Raden Mas Minke (R.M. Tirto Adhi Soerjo, 1880 - 1918) yg kehilangan segalanya sehabis kembali dari pembuangan. Ia pergi ke Bandung menggunakan kopor kaleng tua tak berisi buat menengok tempat kerja surat liputan yg beliau dirikan semasa usaha, dan tidak terdapat yang dapat dia temukan lagi.

Raden Mas Minke yang jadi tokoh primer tetralogi pulau Buru, bangun menurut narasi feodal yang diwarisinya, membaca dengan cermat narasi tersembunyi yang diderita bangsa pribumi Hindia Belanda, misalnya Multatuli, ia tersadarkan sang suatu semangat buat memberi diri ke dalam sebuah narasi baru, narasi perlawanan terhadap sistem penindasan sang para intelektual dan birokrat Belanda. Ia adalah sang pemula pada semua sejarah perlawanan intelektual pribumi terhadap kolonisasi atas tanah Hindia Belanda. Ia memperkenalkan narasi tersembunyi yg selama ini hanya sanggup dirasakan warga jelata, Minke menulis, menuturkan narasi sedih ketertindasan dalam seluruh tulisannya dalam koran yang beliau terbitkan bersama mitra-kawannya, Medan Prijaji (1903). Ia lantas ditindas dan dibuang jauh agar tak bisa didengar lagi.

*****

Minke sebagai sadar akan narasi tersembunyi, yg hanya mampu dibaca dengan membangun kepekaan humanisme yang penuh penyerahan diri. Narasi yang tertimbun sang kebisuan penderitaan masyarakat jelata hanya mampu dibaca & didengar sang jiwa yg membuka mata, dan menyendengkan telinga, yg terbangun berdasarkan tidur panjang kebodohan.

Minke priyayi menjalankan diri sebagai kelas menengah yg aktif, merelakan hidup, sebagai aktivis, sebagai relawan, bukan dengan menjadi peneriak dilema, melainkan menggunakan membangunkan semua orang, yang ditindas, yang menindas, dan terutama kaum kelas menengah, yg menikmati privilese priyayi dengan menekan & menjilat. Ia menuliskan opininya yang tajam, membangun pencerahan & menyerahkan seluruh hidupnya dalam perjuangan di antara bangsa yang belum terjaga.

*****

Ketika sesosok jiwa terbangun, menyadari pentingnya menuliskan hidupnya pada narasi yang bermakna, dia pasti akan melekatkan narasi hidupnya pada konteks narasi terpenting yang beliau yakini dengan segenap jiwanya. Jiwa yang demikian akan merelakan kehadirannya pada hasrat perubahan, semangat untuk membarui global, memperbaiki dan menggembalakan kehidupan. Satu-satunya bahaya pada penuturan narasi kehidupan merupakan kesamaan narsisistik yg terjadi dampak keengganan merelakan hayati. Kaum perambah kehidupan yg ingin menuliskan namanya menggunakan ujaran kemegahan, kaum cinta-diri yg mengakibatkan dilema masyarakat sebagai tangga mencapai impian eksklusif, tentu nir memiliki kerelaan dalam hayati.

Tentang hal ini pun dituliskan Pramoedya pada lelakon Minke yang mengeluh: Di Eropa, terutama pada Perancis, setiap orang yang melakukan sesuatu yg krusial dan bermanfaat bagi masyarakatnya, menggunakan sendirinya menerima tempat pada masyarakatnya. Lain halnya pada Hindia, pada sini orang berebut tempat menggunakan cemas, seperti takut tak kebagian, tanpa mau melakukan hal yang bermanfaat? Karakter kaum priyayi yg tidak bisa merelakan diri dalam narasi kehidupan, yang hanya cemas dalam tempatnya pada narasi tua penindasan merupakan bahaya yg membisukan bangsa. Kaum intelektual yg berdiam diri, yg hanya asyik mencari posisi, & membiarkan hayati terperosok pada kesalahan merupakan bala bagi warga . Kaum intelektual semestinya merupakan tenaga pencerahan masyarakat, daya penggerak dalam komunitas yg beradab. Kaum inilah yang seharusnya memperdengarkan narasi-narasi tersembunyi pada sistem kemasyarakatan yg nir adil, dan sekaligus menciptakan narasi baru menuju kehidupan yang bermartabat.

Merelakan kehidupan adalah menjalankan peri-humanisme, yakni daya empati dalam nasib manusia, nasib bangsa, yg tidak mampu membaca sendiri narasi tersembunyi yang melumpuhkan martabatnya. Daya empati yang menggerakkan jiwa para aktivis di mana pun di semua dunia, merelakan hidupnya buat pengharapan dalam keharusan kehidupan yang mudun. Inilah tenaga yg membebaskan kita menurut narasi bawaan kita: rona kulit, nasib kolektif, keturunan, dari-usul, DNA dan catatan biologis pada badan kita, virtual-impian & trauma-trauma bawah sadar, perangkap golongan & gerombolan , riwayat politik, cacat-stigma kronis yang sengaja direkatkan? Supaya kita bangkit menuliskan narasi kemanusiaan baru yang mudun bagi semua orang.

Seorang aktivis merupakan dia yang dilahirkan pulang oleh ibu kehidupan. Warisannya adalah kesadaran akan banyak sekali narasi baru yang beliau temukan sendiri pada empiris kepahitan di global, dan beliau akan meninggalkan tanah lama tempat seharusnya beliau sanggup nyaman berakar, masuk merasuk pada tantangan hayati yg mesti berarti. Ia akan merelakan jiwanya, menjalankan peri-kemanusiaannya, melawan arus yang menidurkan orang, mengekalkan kekuasaan dan mematri penderitaan.

*****

Lantas adakah ganjaran yang pantas bagi seseorang relawan kehidupan, bagi dia yang terbangun & sebagai aktif buat membangunkan komunitasnya? Ganjaran bukanlah ukuran keberhasilan, apalagi berukuran nilai hayati, seperti sebuah cerita yang baik umumnya masih meninggalkan tanya & keraguan tetapi menyiratkan keteguhan hati pada sang pelakon utama buat menghadapi hidup dengan berani. Narasi nir harus berakhir latif senang . Lagi pula, apa itu akhir cerita? Seperti cerita Raden Mas Minke pada malam hari di dangau kecil setelah melepas harap di jalan Braga, beliau tidak menerima apa-apa. Kesenduan di ujung kitab Rumah Kaca tersebut adalah tembang sedih Pramoedya mengenai hidup yg terlupakan. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, oleh pemula kebangkitan pencerahan humanisme kita yg dilupakan oleh penulisan sejarah Indonesia, beliau yang mendahului Boedhi Oetomo?.

*****

Cloud Hosting Indonesia