Oleh: Anastasia Levianti
Menegakkan keadilan?
Membantu sesama memperoleh haknya?
Menciptakan damai & senang dalam kehidupan sekarang?
Memenuhi panggilan hidup?
Mengikuti teladan idola?
Menekuni kesempatan yg terberi?
Balas jasa atas pembelaan yg sebelumnya sudah diterima?
Atau, Anda belum mempunyai tujuan spesifik secara jelas? Anda sekedar mengikuti arus hidup pada depan mata, sembari menunggu pekerjaan yang sempurna buat Anda tekuni. Perlukah aktivis memiliki, ataupun menyadari tujuan dari keberpihakan & aksinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita biologi terlebih dahulu dua kondisi berikut.
Ada seorang pemuda yang ditugaskan untuk menyelamatkan sebuah desa di seberang hutan. Hal pertama yg dia lakukan dalam bepergian menuju desa itu merupakan mencari pohon yg sangat tinggi. Setelah menemukan pohon yang dirasanya paling tinggi, ia pun memanjat sampai puncak & berupaya melihat desa yang sebagai arah tujuannya. Ternyata, pohon yang ia panjat masih kalah tinggi dengan rimbunan pohon di tengah hutan, sebagai akibatnya pandangannya terhalang ke arah desa. Namun ia cukup puas, lantaran dia memahami target terdekat yg perlu beliau wujudkan. Ia masuk ke tengah hutan. Setibanya di rimbunan pohon tinggi, beliau memanjat balik keliru satu pohon, dan kali ini, dia bisa memandang leluasa ke arah desa. Ia melihat rintangan-rintangan yg akan ia lalui. Ia turun, melakukan persiapan menghadapi rintangan, dan penekanan melanjutkan bepergian hingga sampai tujuan.
Di saat lain, terdapat jua seorang pemuda, menerima penugasan serupa, yakni menyelamatkan sebuah desa di seberang hutan. Pemuda ini langsung melakukan perjalanan masuk hutan untuk menuntaskan tugasnya menggunakan segera. Pada awalnya, beliau konfiden dengan arah jalan yg dia pilih, lantaran kondisi hutan di pinggir mulai berubah sebagai kondisi hutan di dalam. Setibanya pada tengah hutan, beliau mulai berputar-putar. Beberapa malam berlalu, namun lagi-lagi ia balik ke tempat yg sepertinya sudah pernah dia lewati. Ia lelah, nyaris putus harapan. Ia memutuskan beristirahat beberapa hari sembari memikirkan jalan keluarnya. Setelah kondisinya pulih, ia melanjutkan bepergian. Ia memberi tanda jalan yg sudah dia lalui. Pada saat menemukan pulang jalan yang sudah ditandai, dia memilih jalan lain. Manakala lelah, beliau berhenti buat istirahat. Demikian seterusnya, sampai akhirnya ia semakin mendekati desa tujuannya.
Ambil saat sejenak, buat menyadari kesan utama yang ada dalam diri Anda.
Tidak terdapat kesan?
Atau ada rasa tertentu?
Bila nir ada kesan, tanyakan ke pada diri, apakah Anda ingin memperoleh kesan tertentu?
Jika ?Ya?, maka baca ulang kembali dua paragraf pada atas, hingga mengalami rasa spesifik.
Cecap pada-dalam rasa yg hadir, sampai Anda pun bulat menamai kesan rasa tersebut.
Mungkin, Anda merasa salut pada komitmen dua pemuda dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Ya, tujuan mereka jelas, yakni memenuhi tanggung jawab yang diberikan. Mungkin, Anda mengagumi langkah taktis dari pemuda pertama, sekaligus memahami kondisi pemuda kedua. Ya, pemuda pertama berorientasi pada pentingnya tujuan, sehingga pikiran-tindakannya terarah secara tepat sasaran dan efisien. Sementara pemuda kedua berorientasi pada eksekusi, sehingga sebagian pikiran-tindakannya melalui masa trial-errorterlebih dahulu sebelum sampai ketujuan akhir. Jadi, menurut Anda, perlukah aktivis memiliki, ataupun menyadari tujuan dari keberpihakan dan aksinya?
Ada seorang aktivis yang bergerak di bidang trauma healing atau penyembuhan luka batin. Suatu ketika, ia berjumpa dengan subjek yang hendak diaborsi pada masa bayi, merasa bersaing terus dengan kakaknya yang hanya setahun lebih tua daripadanya, dan sedang terlibat perselingkuhan mendalam dengan beberapa lawan jenis karena tinggal berpisah kota dari pasangan menikahnya. Aktivis sendiri menyadari luka batinnya, dan menemukan penyembuhan pelan-pelan melalui hubungannya dengan subjek yang ia bantu. Tanpa sadar, kedalaman hubungan subjek dengan aktivis menimbulkan salah tafsir pada diri mereka masing-masing. Keduanya berpikir bahwa mereka saling jatuh cinta. Aktivis merasa bertanggung jawab untuk menetralisir kondisi. Kelekatan dua belah pihak perlu dilepas, mulai dari dirinya sendiri. Perjalanan melepas kelekatan pribadi sekaligus selalusiap sedia membantu sesuai permintaan berlangsung bersamaan. Dua arah perjalanan yang bertentangan ini mengalami jatuh bangun. Hingga pada suatu titik, aktivis sadar bahwa tujuan utama adalah melepas kelekatan, sementara kondisi aktual adalah belum 100% rela melepas kelekatan. Peta tujuan dan kondisi saat ini menjadi dasar pengambilan keputusan selanjutnya. Tujuan menjadi pusat dan satu-satunya dasar pertimbangan. Ia memilih menghentikan hubungan dengan subjek terkait hingga minimal kondisinya sendiri kembali netral. Entah bagaimana mekanisme alam semesta bekerja, tindakan aktivis melepas kelekatan dari subjek terjadi bersamaan dengan upaya subjek melepas kelekatan terhadap aktivis maupun beberapa selingkuhannya. Aktivis takjub, lega, bersyukur, dan yakin bahwa tujuan perlu jelas dan ditegakkan, sebagai acuan menimbang, memutuskan, dan bertindak.
Apa akibatnya apabila aktivis nir jernih menyadari tujuan dari keberpihakan & aktivitasnya? Aktivis berisiko salah arah atau salah fokus pada aksinya, yaitu mengutamakan cara / wahana, dan bukan tujuannya.
Dua pengalaman di atas menunjukkan bahwa di samping tujuan yang jelas, ada satu faktor kunci dalam melakukan refleksi, yaitu penempatan diri sendiri sebagai sumber masalah sekaligus sumber solusi. Tanpa faktor kunci ini, analisa seperti lumpuh, karena eksekusinya bergantung pada orang lain, dan mengubah orang lain berada di luar kendali diri sendiri. Lihatlah nasib ragam analisa yang menempatkan pihak eksternal sebagai sumber masalah dan solusi. Kumpulan analisa tersebut hanya menggugah pikiran sejenak, lalu menjadisia-sia tanpa tindak lanjut. Aktivis yang melakukan analisa demikian, dan bukan berefleksi (bercermin-melihat bayangan diri dalam situasi di hadapan), menjadi lupa untuk memberdayakan dirinya sendiri sebagai titik pusat. Mari, Berefleksi!
***