Kamis, 07 Mei 2020

[JALAN-JALAN] MENGINTIP KEHIDUPAN DI KEBUN BELAKANG

Oleh : Debby Josephine

Apa yang muncul di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata kebun belakang? Kemungkinan besar jawabannya adalah sebuah kebun yang berada di belakang rumah. Tapi, kira-kira bagaimana bentuknya? Apa saja yang ada di dalamnya? Kehidupan seperti apa sih yang terjadi di sana? Nah, kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengintip sebuah kehidupan di “Kebun Belakang”, tempat yang ide utamanya adalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup harian namun berkembang menjadi tempat yang dapat menginspirasi orang lain untuk bergerak bersama ritme alam.

Berlokasi sempurna pada pinggir jalan Pesantren, Cimahi, loka ini sempat menimbulkan rasa ragu di hati saya. Lokasinya terbilang relatif ?Kota? Karena berdampingan dengan ruko akbar dan beberapa tempat tinggal glamor. Ketika hingga, tampak pagar hitam yang relatif tinggi sebagai akibatnya menutupi pandangan orang luar yang ingin melihat ke pada. Tidak berapa lama , pagar hitam pun dibuka sang Teh Ivana. Teh Ivana merupakan pemilik dari Kebun Belakang. Saya & teman aku disambut dengan hangat & dipersilahkan masuk.

Begitu masuk, kami melihat area cukup luas yg disiapkan buat loka parkir dan sedang ada dua mobil terparkir di sana. Berjalan sedikit ke arah kanan, kami melihat bangunan tempat tinggal mungil menggunakan jalan mini di sisi luarnya yang terhubung dengan area tempat duduk pada luar bangunan rumah. Teh Ivana mempersilakan kami buat duduk sembari memanggilkan Kang Misbah, suami Teh Ivana yg lalu lebih banyak bercerita tentang Kebun Belakang.

Kang Misbah pun datang dan menyambut kami dengan hangat lalu bercerita tentang kondisi Kebun Belakang. Ternyata, Kang Misbah sedang memperbaiki green house. Ia mengganti tiang greenhouse yang dulunya memakai materi bambu dengan baja ringan. Hal ini disebabkan kondisi bambu yang sudah lapuk dikhawatirkan dapat roboh. “Dengan baja ringan akan lebih awet.”, katanya.

Di musim kemarau ini, Kang Misbah sedang fokus membereskan kebun, menyiapkan benih, sambil mencoba mengumpulkan jerami dan lumpur untuk membangun gudang. Kami kemudian  diajak melewati jalan setapak di tengah kebun  menuju saung yang letaknya berada di bagian paling belakang dari area yang mereka miliki.

Begitu melihat kebun, kita dapat langsung melihat beberapa raised bed yang biasa ditemukan pada kebun yang menggunakan prinsip permakultur. Di dalam setiap raised bed terdapat berbagai jenis tanaman.  Kang Misbah mengolah berbagai tanaman ini untuk kebutuhan pangan harian dan produksi water kefir yang ia titipkan di beberapa tempat untuk dijual.

Tampak depan Kebun Belakang.

Semakin berjalan ke arah pada kebun, semakin damai suasana terasa, semakin pada pula isi perbincangan kami. Kang Misbah menceritakan bagaimana perjalanannya ?Berjumpa? Menggunakan konsep permakultur pertama kali pada tahun 2015 yang kemudian berkembang sampai waktu ini.

Bermula menurut menanam selada di lahan seluas 7 x 5 meter, Kang Misbah mulai membuka bisnis toko sayuran di loka tersebut. Saat itu, Kang Misbah & famili tinggal pada wilayah yg cukup jauh berdasarkan lokasi kebun. Lama kelamaan, lantaran Kang Misbah dan keluarga merasa lelah dengan bepergian bolak pulang antara kebun dan rumah, akhirnya mereka tetapkan buat berpindah, tinggal di lahan kebun yg mereka namai Kebun Belakang.

Setelah Kang Misbah sekeluarga tinggal di area Kebun Belakang, lahan kebun menjadi lebih terawat karena sudah menjadi tempat tinggal sendiri. Di fase ini, Kang Misbah mulai memaksimalkan lahan seluas 1.600 meter dengan menanam berbagai jenis tanaman sesuai zonasi, membangun kandang ayam, mendirikan saung, dan lain sebagainya. Kang Misbah mengungkapkan bahwa semua sumber pendapatan berasal dari kebun. Apalagi setelah mendirikan saung, pemanfaatan kebun menjadi lebih banyak. Bisa dipakai untuk bermain, workshop kecil-kecilan, dan menjadi destinasi kunjungan sekolah.

Saung pada ujung kebun

Semua keputusan yang diambil Kang Misbah dan Teh Ivana saat ini tak lepas dari pengalaman mereka yang sempat tinggal 4 tahun di Swedia dan kunjungan Kang Misbah ke sebuah daerah di Thailand pada tahun 2015. “Kita belajar orang gak diseragamkan. Mereka gak nuntut kamu punya pendidikan tinggi, selama kamu capable, kamu diterima.” ungkap Kang Misbah yang sempat mengalami culture shock di Swedia. Saat tinggal di Swedia, mereka jadi lebih concern soal pendidikan, kebebasan berekspresi, dan lebih banyak bereksplorasi tentang tumbuh kembang anak. Di Thailand berbeda cerita. Kang Misbah terinspirasi dengan bagaimana sekelompok masyarakat begitu menikmati hidup, apa yang mereka rasa baik mereka jalankan, meski tidak ada kampanye besar-besaran. Semua berjalan seperti apa adanya saja. Dari situ Kang Misbah mulai fokus pada diri sendiri dan keluarga – berjalan lebih pelan mengikuti ritme alam.

Banyak perubahan yang terjadi pada diri Kang Misbah semenjak berprofesi sebagai petani. Sifatnya dulu yang temperamental lambat laun berubah menjadi lebih tenang. Ia merasa lebih berdaya karena apa yang ia dan keluarganya konsumsi tidak perlu tergantung pada orang lain. Dengan menanam sendiri, rasa makanan yang dimasak lebih nikmat dan disukai anak-anaknya. Kang Misbah merasa lebih mandiri. “Saya bisa bebas, tapi juga mengurus diri sendiri dan keluarga, ini merupakan kebebasan level “Wah”. Saya merasa aman, meski cara hidup berbeda dengan orang kebanyakan. Saya gak kelaparan, lebih ke pasrah, jadi lebih rileks, lebih bebas lagi.”, cerita Kang Misbah siang itu.

Dari kiri ke kanan: Rencana green house, sangkar ayam dan lahan padi pada Kebun Belakang

Saat ini, Kang Misbah berharap setidaknya 50% kebutuhan hidupnya sanggup dicukupi berdasarkan kebun. Ia merasa bahwa pemenuhan kebutuhan hayati bergantung dalam gaya hidup, ?Bisa saja output berdasarkan kebun ini mencapai 100% bila saya tinggal di gunung. Kalau telah begitu, saya nggak usah cari tambahan buat beli pulsa.? Ungkapnya sambil tersenyum.

Kami pun diajak berkeliling kebun. Melihat padi, juga bunga mentari dan rosella yang sedang berbunga. Kami jua diajak ke sangkar loka ayam-ayam pelung. Dipelihara. Benda yg menarik adalah tungku yg dibentuk memakai lumpur dan jerami. Kang Misbah menggunakan btg pisang sebagai cetakan lubang tungku yang menunda bentuk hingga campuran materi kering seutuhnya.

Setelah puas berkeliling, Kang Misbah mengajak kami kembali ke tempat duduk di samping rumah utama. Ternyata sudah ada makan siang disiapkan Teh Ivana. Oh ya, selama berbincang, kami dijamu dengan setandan pisang kepok hasil kebun yang besar-besar dan manis sekali.

Makan siang yang disiapkan oleh Teh Ivana

Saya baru menyadari bahwa posisi rumah itu berada di antara hiruk pikuk jalanan dan kebun belakang yg tenang. Rumah itu berada di tepian. Tepian dalam permakultur yaitu loka pada mana dua tempat asal bertemu. Biasanya wilayah ini lebih produktif & kaya akan keberagaman.

Pengalaman perjalanan aku kali ini memberi kesejukan & inspirasi baru tentang kebun pada tengah kota. Apakah Anda berminat berkunjung ke Kebun Belakang? Silakan mengatur janji terlebih dahulu via DM instagram @kebunbelakang, ya!

Tungku di Kebun Belakang, yg dibuat dari lumpur dan jerami serta batang pisang sebagai penyangga.

Cloud Hosting Indonesia