Sabtu, 30 Mei 2020

Editorial Pro:aktif April 2017

Selamat berjumpa kembali di Pro:aktif Edisi April 2017 ini. Sudah 4 bulan perjalanan waktu kita pada tahun 2017, menggunakan banyak sekali peristiwa yang terjadi, baik di sekitar kita maupun di dunia. Edisi kali ini, Pro:aktif Online mengangkat tema ?Mengenal Diri Bagi Aktivis?.

Proses mengenal diri adalah proses yg nir berujung & terjadi dalam siapapun jua, tak pandang usia, jenis kelamin, apalagi pekerjaan & jalan hidup. Seorang aktivis sekalipun nir terlepas dari proses mengenal diri, baik yang disadari maupun yang berlalu begitu saja. Terlebih aneka macam bidang kerja & layanan yang diberikan sang seseorang aktivis, memerlukan sosialisasi diri yg bisa membuatnya bertahan dalam gosip yg dikerjakan atau malah menemukan ?Panggilan hayati? Yg selama ini dicari. Proses mengenal diri bukan berarti bahwa sebelumnya kita tidak kenal ?Siapa diri kita?, melainkan mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengenal & memahami diri sendiri.

Edisi April 2017 ini mencoba mengupas berbagai sudut pandang yang  disajikan oleh para kontributor penulis Pro:aktif Online, yang diawali dengan rubrik PIKIR yang diisi oleh Umbu, yang akan membawa kita pada masa lampau dimana dua orang pangeran beda kebangsaan, yakni Hamlet dan Diponegoro disandingkan. Rangkaian kata yang disusun oleh Umbu mengajak kita untuk menemukan diri di pusat keberadaan, dengan metafora bahwa kitalah sang penyair yang mewujudkan eksistensi kita dengan sajak kehidupan yang menyelami seluruh sisi kehidupan agar indera kita semakin tajam menyerap realitas di sekitar kita.

Rubrik PIKIR yang ke 2, ditulis sang penulis yang sama. Kali ini Umbu mengetengahkan sebuah upaya buat mengingatkan kita bahwa berpegang dalam nilai-nilai perikemanusiaan berarti melepaskan diri berdasarkan banyak sekali label yg melekat. Melalui tokoh Raden Mas Minke, kita diingatkan soal realita kehidupan yg selalu berpotensi melahirkan penindasan lantaran dinamika kekuasaan antar kelas. Siapapun yang terbangun dan terpanggil untuk membela nilai-nilai perikemanusiaan tadi, berempati dalam kaum tertindas, berjuang lantaran memang ?Telah sepantasnya aku berjuang?. Di sini, Umbu jua mengingatkan kita dalam siapa Raden Mas Minke sebagai tokoh sejarah yg dilupakan sang bangsa Indonesia.

Rubrik OPINI menghadirkan tulisan dari Anastasia Levianti yang dalam setiap baris tulisannya adalah proses refleksi itu sendiri, mencoba menyadarkan kita betapa pentingnya proses tersebut bagi seorang aktivis. Pilihan-pilihan atas isu yang dikerjakan, kepedulian atas isu sosial, maupun sumber stres pada bidang pekerjaan saat ini dapat ditemukan dengan menempatkan diri sebagai sumber masalah yang sekaligus juga sumber solusi. Rutinitas yang dijalani tanpa menyadari tujuan dari aksi yang dilakukan berpotensi menyesatkan seorang aktivis yang  kemudian bisa terjebak pada mengutamakan sarana, ketimbang tujuan yang hendak dicapai. Refleksi diri diharapkan menjernihkan kembali, mana yang sesungguhnya sarana dan mana yang menjadi tujuan yang seharusnya dilayani oleh sarana tersebut.

Rubrik MASALAH KITA yang ditulis oleh Siska mengulas konsep diri sebagai pusat refleksi, dimana apa yang ada di dalam pikiran kita  kemudian diwujudkan pada aksi-aksi yang dilakukan di dunia nyata. Konsep diri akan membantu kita membentengi diri dari persoalan-persoalan yang tidak perlu karena kita mengenal dan menerima batasan / kelemahan diri pada isu yang dikerjakan atau aksi yang dijalankan. Proses refleksi tidak dimaksudkan untuk meniadakan kelemahan, namun justru memampukan kita untuk memahami bahwa adanya kelemahan tersebut menjadi alarm ketika kita sudah melewati batas dan perlu menarik diri. Di samping itu, penguatan konsep diri tidak selalu tentang refleksi ke diri sendiri namun juga bercermin pada jalan hidup tokoh-tokoh dunia yang telah tertuang pada buku otobiografi.

Rubrik PROFIL kali ini, ada Alvieni Angelica yang mengajak kita berkenalan dengan Capacitar, sebuah organisasi nirlaba yang terbentuk di bumi Amerika Latin oleh seorang biarawati bernama Sr. Mary Hartmann, CSA. Capacitar memiliki tujuan utama memberdayakan manusia dalam aspek self-healing atau daya penyembuhan diri. Capacitar meyakini bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh kehidupan secara holistik. Penyakit-penyakit pada manusia seringkali timbul karena oleh trauma maupun luka batin yang belum tuntas.  Metoda penyembuhan yang menyerap dan mengadaptasi berbagai teknik tradisional dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan modern kemudian dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan, untuk mendorong semakin tersebarnya pengetahuan tersebut.

Rubrik MEDIA, ditulis oleh Any Sulistyowati, menaruh perspektif lain mengenai global internet yang justru sangat bermanfaat buat membuat kita semakin kenal siapa kita. Terbukanya fakta dan pengetahuan secara bebas, berdampak dalam semakin mudahnya kita mengakses ilmu psikologi populer & berguna. Berbagai tes pemetaan kepribadian, mulai menurut yg telah relatif dikenal misalnya Personality Plus & MBTI, hingga Eneagram akan membantu kita mengidentifikasi ?Tipe kepribadian apakah aku ??. Dengan bantuan internet, output tesnya bisa eksklusif dicermati disertai penerangan yang relatif gampang buat dipahami.

Rubrik JALAN-JALAN pertama dipandu oleh Debby Josephine yang akan membawa para pembaca dalam beberapa loka asyik pada kota Bandung yang kiranya tidak terduga, namun bisa membuat Anda semakin mengenal diri Anda. Menjelajah loka-tempat tadi nir bisa dipisahkan berdasarkan kegiatan yang usahakan Anda lakukan sembari berada di tempat tadi.

Rubrik JALAN-JALAN kedua terdapat Yanti Herawati yg menjadi pemandu Anda menjelajah di suatu wilayah Bumi Parahyangan yang jua tidak terduga. Sebuah areal yg mungkin tidak akrab pada pendengaran Anda, namun penjelajahan yg semakin pada akan membuat segalanya sebagai nir asing lagi. Memilih sebuah jalur bepergian yg nir biasa, mungkin akan membawa keraguan dalam diri Anda, yang kemudian akan terkikis seiring dengan penemuan diri pada perbatasan laksana tepi tebing yang siap membuat Anda terjun bebas semakin dalam dalam diri sendiri.

Rubrik TIPS menghadirkan Dyah Synta, seseorang pengajar yoga yang menunjukkan tips melakukan gerakan (asana) yang bisa membawa kita dalam relaksasi dan sebagai proses pengenalan diri melalui penghayatan atas bentuk-bentuk asana yang kita lakukan. Yoga benar-benar merupakan tentang diri sendiri, lantaran kita nir melakukannya buat dipandang dan dinilai sang orang lain, melainkan sebuah bentuk komunikasi diri kita yg lainnya , misalnya pemikiran, perasaan, dan energi.

Rubrik RUMAH KAIL kali ini mengajak para pembaca berkeliling berdasarkan perspektif seseorang Melly Amalia pada menjelajah diri melalui galat satu bagian Rumah Kail. Tidak hanya bangunan fisik berdasarkan rumah tersebut, namun jua dari aktivitas-kegiatan yg sudah sebagai satu bagian dari tempat tinggal itu sendiri. Di manakah Anda akan menemukan spot yang nyaman buat berefleksi pada Rumah Kail?

Akhir kata, semoga para pembaca semakin mengenali diri sendiri melalui artikel-artikel yg ada pada edisi ?Mengenal Diri Bagi Aktivis?. Kiranya hayati aktivisme kita semakin positif melalui refleksi.

Selamat menemukan diri.

Cloud Hosting Indonesia